Home

Latest Post

Seberapa siapkah Indonesia dalam menghadapi era mobil listrik?

Seiring dengan pertambahan penduduk, kebutuhan akan energi terus meningkat. Konsumsi energi final selalu meningkat setiap tahunnya, dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 4%, dari 556 juta setara barel minyak (SBM) pada tahun 2000 menjadi 961 juta SBM pada tahun 2014.

Konsumsi energi final tertinggi terdapat pada sektor industri, yang diikuti oleh sektor tranportasi, rumah tangga, dan komersial. Namun, diantara sektor-sektor tersebut, kenaikan pertumbuhan paling tinggi berasal dari sektor transportasi yaitu sebesar 6,5%.

Hampir seluruh energi yang dikonsumsi pada sektor transportasi berasal dari tiga bahan bakar minyak yaitu bensin, solar dan avtur. Transportasi darat mengkonsumsi 88% energi primer, transportasi laut 7%, transportasi udara 4%, dan kereta api dan penyeberangan (ferry) 1%.

Banyak pakar memprediksikan bahwa mobil listrik adalah salah satu alternatif transportasi masa depan. Selain tidak menghasilkan emisi gas buang yang membahayakan bagi lingkungan, mobil listrik juga memiliki efisiensi yang lebih baik dari mobil bermesin motor bakar. Dengan adanya mobil listrik, diharapkan dapat mengurangi konsumsi energi final pada sektor transportasi.

Saat ini banyak negara yang telah menyusun kebijakan penggunaan mobil listrik, misalnya Amerika Serikat, Norwegia, Cina, Jepang dan lain-lain. Indonesia tentu saja harus mempersiapkan masuknya era mobil listrik. Bila tidak, Indonesia hanya akan menjadi pasar dari pabrikan mobil listrik dunia.

Seberapa siapkah saat ini Indonesia dalam menghadapi era mobil listrik tersebut? Adalah Risca Hermawan, mahasiswa Program Magister Ketenagalistrikan dan Manajemen Energi, Departemen Teknik Elektro Universitas Indonesia yang meneliti topik tersebut.

Risca yang dibimbing oleh Ir. Chairul Hudaya, ST., M.Eng., Ph.D., IPM, menggunakan metode survey melalui penyebaran kuisioner, wawancara mendalam dengan para ahli pada bidang energi dan mobil listrik, yang selanjutnya diolah dan diuji dengan menggunakan uji validitas dan realibilitas dengan perangkat lunak statistik SPSS.

Narasumber ahli dalam penelitian ini berasal dari akademisi, industri/bisnis, badan pemerintah dan lembaga riset. Diantara para ahli tersebut adalah Prof. Rinaldy Dalimi (anggota Dewan Energi Nasional), Dr.-Ing. Mohammad Adhitya (dosen Teknik Mesin UI), Dr. Feri Yusivar (dosen Teknik Elektro UI), Fuad Harhara (Direktur Operasional PT. Garasindo), Ir. Riza Ghifari, M.Eng (BPPT) dan Windiya Dermawan (PT. Wijaya Karya).

Risca menggunakan 4 (empat) variabel yang jadikan objek penelitian yaitu Kebijakan Pemerintah, Pemberian Insentif, Kesiapan Infrastruktur, dan Penelitian dan Pengembangan. Variabel tersebut diambil berdasarkan benchmark dari Amerika Serikat yang telah lebih dulu mengembangkan mobil listrik.

Dari masing-masing variabel tersebut dilakukan pembobotan dengan skala 1-4 (skala 1 berarti sangat tidak siap – skala 4 berarti sangat siap). Hasil penelitian menunjukkan bahwa  tingkat kesiapan untuk variabel Kebijakan Pemerintah sebesar 1,84 , Pemberian Insentif sebesar 2,17, Kesiapan Infrastruktur sebesar 1,96, dan Penelitian dan Pengembangan sebesar 3,33. Jadi secara umum, kesiapan Indonesia dalam menghadapai era mobil listrik bernilai 2,32.

Dengan nilai tersebut, tentunya banyak yang harus dipersiapkan baik oleh pemerintah, swasta/bisnis/industri, dan akademisi. Diperlukan kerjasama satu sama lain untuk mendukung kesiapan menghadari era mobil listrik dalam waktu yang dekat ini.

Video