Home

Latest Post

Membangun Budaya Riset Sejak Dini di Korea Selatan

Perkembangan dan penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi sebuah bangsa. Korea Selatan adalah salah satu contoh negara yang telah berhasil memanfaatkan IPTEK untuk mensejahterakan rakyatnya. Salah satu indikatornya terlihat dari pendapatan per kapita (GDP) Korea yang mencapai US$ 35.000 atau sekitar sepuluh kali lipat GDP Indonesia.

Banyak perusahan-perusahaan raksasa dunia berasal dari Korea. Sebut saja Samsung, yang memiliki ratusan lini usaha mulai dari elektronik hingga asuransi, Hyundai dengan produk mobilnya dan LG dengan andalan berbagai produk perabot rumah tangga-nya. Semua perusahan ini mengandalkan inovasi sebagai jantung kemajuan perusahaan sehingga bisa bersaing di era globalisasi dewasa ini.

Sebuah pepatah bijak mengatakan, tidak akan ada inovasi tanpa dimulai dengan sebuah riset. Paul D. Leedy dalam bukunya Practical Research: Planning and Design mendefinisikan riset sebagai sebuah proses yang tersusun secara sistematis meliputi pengumpulan data dan analisis data/informasi dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan mengenai fenomena yang menjadi perhatian atau yang sedang diamati.

Ada banyak faktor yang menunjang keberhasilan riset pada suatu negara, diantaranya mencakup infrastruktur, aspek regulasi, legalitas, finansial dan budaya. Kelimanya penting dan saling berhubungan. Namun pada tulisan ini, saya ingin membahas pada hal yang paling mendasar, yaitu aspek budaya.

Semangat budaya meneliti masyarakat Korea bahkan sudah ditanamkan sejak usia dini. Paling tidak, saya bisa melihatnya dari program ekstrakurikuler putra saya yang saat ini sekolah di tingkat SD kelas 1. Misalnya, ada program ekstrakulikuler robotik, komputer, dan percobaan ilmiah (science). Pada semester pertama, anak saya memilih robotik seba-gai ekstrakulirkulernya. Setiap siswa yang mengikuti program ini diberikan seperangkat robot yang bisa dibongkar-pasang. Ada mur, baut, roda, baterai, kabel, konektor dan buku panduan yang berisi langkah-langkah pembuatan robot dari level mudah hingga tersulit. 

Dengan berbekal material dan buku panduan serta bimbingan guru pendamping, setiap siswa dituntut untuk terus belajar mencoba (experiment), mencari tahu sebab sebuah permasalahan dan mendapatkan solusinya. Itulah inti dari sebuah riset untuk lingkup anak-anak.

Meskipun program ekstrakurikuler ini bersifat pilihan dan memerlukan biaya untuk mengikutinya, namun saya memperkirakan hampir seluruh orang tua mendaftarkan anaknya untuk mengikuti salah satu kegiatan yang diminati. Jadi, dukungan orang tua untuk kemajuan anak juga berperan penting disini. Kegiatan ekstrakurikuler dikemas de-ngan cara menyenangkan sehingga menarik dan tidak membosankan bagi anak-anak.

Jika pada tataran SD saja sudah diajarkan budaya meneliti demikian hebatnya, bisa dibayangkan bagaimana pada level yang lebih tinggi seperti SMP, SMA dan Perguruan Tinggi. Maka tak heran menurut World Intellectual Property Organization (WIPO), Korea Selatan menduduki peringkat pertama penghasil paten per GDP terbesar pada tahun 2013, disusul oleh Jepang, China dan Jerman.

Karena menyadari betul bahwa IPTEK akan membawa kemajuan bagi bangsanya, Korea Selatan telah banyak mengeluarkan dana untuk kegiatan penelitian dan pengembangan (research and development, R&D). Laporan yang dirilis oleh Morgan Stanley Research menyebutkan bahwa pada tahun 2013 Korea menginvestasikan KRW 60 triliun atau setara dengan Rp 720 triliun (1 KRW = 12 IDR) untuk keperluan R&D. Nilai ini kurang lebih sama dengan sepertiga APBN 2015 Indonesia. Sementara investasi Indonesia untuk R&D hanya bernilai US$ 0.72 milyar atau setara Rp 10.1 triliun.

Kekurangan anggaran atau pendanaan dan insfrastruktur sering menjadi alasan klasik dari tidak berkembangnya sebuah riset di Indonesia. Namun menurut pandangan saya hal itu bukan segalanya. Jika riset sudah menjadi suatu budaya, mengakar, mendarah-daging dan tertanam sejak usia dini, saya percaya bahwa Indonesia kedepan akan menjadi negara maju secara ekonomi yang didukung oleh penguasaan IPTEK.

Artikel ini diterbitkan pada majalah Koreana. Link artikel : koreana.or.kr

Video

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,224 other followers