You are reading..
General

Penggalan Kisah di Negeri Ginseng (Part 2)

Lihat penggalan kisah sebelumnya : Part 1

Perjuangan Dian

Sebulan berlalu tapi bulan yang ditunggu tak kunjung datang. Akhirnya saya diminta istri untuk membeli test pack di apotik terdekat. Terus terang, waktu itu malunya bukan main. Takut disangka yang enggak enggak sama si Emak penjaga toko. Maklum, usia menikah rata rata orang Korea biasanya diatas 30 tahun. Sementara usia saya waktu itu masih 23-an. Masih terlihat seperti teenager. Lagian, yang beli test pack biasanya perempuan. Ini kok malah laki laki.

Ah ya sudah, tetap saya beli test pack-nya. Hasil tesnya menunjukkan dua garis merah. Alhamdulillah, Dian hamil putra kami yang pertama. Kami memang berprinsip untuk tidak mau menunda-nunda kehamilan karena anak adalah titipan dari Allah yang harus dijaga dan dibina.

Perjuangan Dian yang hamil sambil bekerja kala itu saya akui sangat berat. Lebih berat dari mensimulasikan reaktor nuklir. Tiap hari harus naik turun tangga, baik tangga menuju rumah maupun tangga naik-turun kereta listrik bawah tanah (subway). Ini yang kadang membuat saya khawatir akan kondisi kandungannya. Awal-awal kehamilan Dian selalu merasa mual. Inginnya muntah terus. Dian sering berhenti di tengah perjalanan ke kantor sekedar untuk menenangkan gejolak hormon dalam tubuhnya, lalu melanjutkan perjalanan ke tempat kerjanya.

Suatu saat sepulang kerja dari kota Ansan, Dian pernah diganggu oleh seorang paruh baya yang mabuk dalam Subway. Alhamdulillah ada pasangan suami-istri orang Korea yang membantu Dian, menghalangi dan mengusir lelaki mabuk tadi. Saya terima telpon dari Dian yang ketakutan. Cepat cepat saya menjemputnya di stasiun subway SNU. Saya bertemu dengan pasangan Korea tadi dan mengucapkan terima kasih atas bantuannya. Di Korea, orang minum minuman beralkohol memang sudah tradisi. Meski sampai mabuk kepayang, mereka umumnya jarang mengganggu.

Magang di Samsung

Bulan Juli 2007, saat liburan musim panas, saya mendapatkan kesempatan magang (internship) di salah satu anak perusahaan Samsung selama 1 bulan. Kami merasa, mungkin itu bagian dari rezeki si jabang bayi. Seleksinya terbilang ketat. Dari ratusan aplikan, hanya 15-an mahasiswa asing yang diterima. Ada yang berkewarganegaraan Amerika, Australia, China, India, Pakistan, Bangladesh dan Korea. Sebagian besar adalah mahasiswa paskasarjana di SKY (SNU, Korea dan Yonsei) University.

Perusahaan ini bergerak dalam proyek kontruksi bangunan dan pabrik petrokimia. Merekalah yang membangun Twin Tower KL Malaysia, Menara Burj Khalifa di Dubai dan pabrik-pabrik petrokimia di UAE. Lokasi perusahaannya di Bundang, Gyeonggi-do. Jarak tempuh dari rumah ke kantornya sekitar 1.5 jam. Setiap hari berangkat jam 6 pagi dan pulang jam 8 malam. Saya ditugasi mengkaji potensi pasar kontruksi untuk pembangkit tenaga listrik di Indonesia.  Begitulah rutinitas pekerja kantoran di Korea. Mereka memang pekerja keras. Maka tak heran kalau negaranya maju.

Suatu waktu, para peserta magang pernah diajak field trip ke site project mereka. Kala itu mereka sedang membangun jembatan terpanjang di Korea, yang menghubungkan Bandara Incheon dengan kota kota disekitarnya, menyebrangi lautan. Kami naik speed boat ke tengah-tengah jembatan yang sedang dibangun. Inilah pengalaman pertama saya melihat dan merasakan secara langsung budaya kerja profesional di Korea Selatan. Hasil honor magang ini kami tabung untuk biaya kelahiran putra pertama kami.

Tetangga Baru

Saat musim gugur tiba, kami kedatangan tetangga baru, pindahan dari Daegu. Mereka adalah sepasang suami-istri, Mas Yudi Rahmawan dan Mba Ranti. Mas Yudi adalah senior saya di FTUI, jurusan Metalurgi dan Material, angkatan 98. Saat itu dia diterima program doktor di SNU. Gelar master-nya diperoleh dari Yeungnam University. Kamar yang mereka sewa berada tepat di depan kamar kami. Kami sering pergi makan dan jalan-jalan bersama. Saat itu Mas Yudi dan Mba Ranti belum punya momongan. Tapi tak berselang lama, istrinya Mas Yudi juga hamil. Sepertinya rumah itu sangat kondusif untuk pengantin muda hehe.

Saya mengenal Mas Yudi sebagai pribadi yang kalem dan santun. Meski tak banyak bicara, tapi karya ilmiah yang dipublikasikan pada jurnal internasional-nya cukup banyak. Seingat saya topik risetnya adalah material yang terinspirasi dari alam atau material yang menyerupai sifat mahluk hidup. Lab-nya punya kerjasama penelitian dengan KIST. Sehingga Mas Yudi sering pulang-pergi ke KIST untuk melakukan eksperimen disana. Di kisah selanjutnya akan saya ceritakan kedekatan keluarga kami dan Mas Yudi.

Aktif di PERPIKA

Saya senang berorganisasi, bahkan sejak SD dan SMP. Bagi saya, organisasi bisa membawa kedewasaan kita berfikir dan bertingkah laku, disamping untuk menjalin silaturahmi dengan teman sejawat. Ketika di SMA, saya dipercaya menjadi ketua OSIS selama dua periode. Ketika kuliah, saya didapuk menjadi ketua Ikatan Mahasiswa Elektro (IME) UI.

Kegemaran  berorganisasi saya curahkan juga di Persatuan Pelajar Indonesia di Korea (Perpika). Presidennya kala itu adalah Mas Hary Devianto, mahasiswa doktor di SNU- KIST. Dia adalah Presiden Perpika yang ke 3, setelah Pak Etsar dan Pak Haznan. Mas Hary menjabat Presiden untuk 2 periode kepengurusan. Anggota Perpika saat itu jumlahnya mungkin hanya seratusan. Karena sedikit, kami saling mengenal satu dan lainnya. Media komunikasi anggota yang digunakan adalah milis di yahoogroups. Moderatornya adalah Mas Andy F. Yahya, mahasiswa doktor jurusan kehutanan di SNU.

Di awal-awal kedatangan saya ke Korea, saya banyak terbantu oleh para senior. Kebetulan saat keberangkatan ke Korea saya satu pesawat dengan mas Andy. Sebelum tinggal di asrama, selama beberapa hari Mas Andy dengan baik hati mau menampung saya di rumahnya. Mas Andy lah yang menunjukkan tempat menjual perkakas murah, pasar, mengajari naik bus dan subway, dan lain-lain. Senior lainnya yang banyak membantu saya adalah Mas Refli, Mbak Pudji, Mas Rachmat Adhi Wibowo dan Mas Hary Devianto. Bagi saya saat itu, mereka ibarat google saat ini. Apapun yang terkait kehidupan di Korea saya tanyakan. Dengan sabar mereka selalu memberi jawaban komprehensif. Kebaikan mereka selalu saya ingat.

Pada saat kepengurusan Mas Hary, saya ikut aktif di bidang pengabdian masyarakat. Mas Hary sangat mendukung ketika saya menggagas program Beasiswa Perpika untuk Indonesia (BPI). Program ini terinspirasi dari kegiatan yang dijalankan oleh PPI Jepang. Meski beasiswanya mepet, tapi para anggota Perpika saat itu masih bisa menyisihkan sebagian rezekinya untuk membantu adik-adik di Indonesia yang membutuhkan bantuan biaya pendidikan. Beasiswa disalurkan melalui alumni Perpika yang berada di Indonesia. Belakangan saya lihat program ini masih terus berjalan sampai dengan saat ini. Salut atas kepedulian sosial warga Perpika!

(bersambung dulu, capek ngetiknya hehe)

 

 

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: