You are reading..
General, Koreana

Penggalan Kisah di Negeri Ginseng (Part 1)

Jika ditotal, maka saya dan keluarga menghabiskan waktu tujuh tahun tinggal di Korea. Itu yang membuat Korea seperti kampung halaman kedua bagi kami. Dua putra/i kami terakhir adalah kelahiran Seoul. Dalam beberapa seri tulisan kedepan, saya akan coba lukiskan perjalanan kisah saya dan keluarga serta teman-teman seperjuangan di negeri ginseng. Mudah mudahan bisa memberi inspirasi, respirasi dan konspirasi hehe.

Sejarah pertama kali menginjakkan kaki di bumi the land of morning calm ini ketika pada akhir tahun 2006 saya mendapatkan beasiswa Graduate School for excellent Foreign Student (GSFS) di Seoul National University untuk Spring 2007. Pada saat diumumkannya GSFS, saya juga sedang mempersiapkan pernikahan dengan gadis pujaan lulusan Sosiologi UI asal bumi Minangkabau, Dian Silvia. Memang, sepertinya beasiswa GSFS adalah kado dari Allah untuk saya dan istri.

Awal bulan Februari 2007 kami menikah. Seminggu kemudian saya harus berpisah dengan istri tercinta karena harus terbang ke Korea, memulai hari hari sebagai mahasiswa master. Saat itu saya bertekad untuk membawa istri ke Korea, 3 bulan setelah saya menetap disana. Padahal waktu itu belum ada bayangan kehidupan di Korea, termasuk biaya hidup yang harus ditanggung.

Beasiswa yang diberikan oleh GSFS tergolong kecil dibandingkan dengan beasiswa lainnya. Setelah dikurangi dengan rumah, utang dan lain lain, yang tersisa hanya berkisar 100-150 ribu won saja (~ 800 – 1.2 jt perbulan). Uang itu harus cukup untuk makan, transportasi dan biaya hidup lainnya selama sebulan. Maka makan dengan mie dan telur sudah menjadi menu utama hampir setiap malam. Benar benar ngirit.

Hari-hari terus belalu sampai 2 bulan terlewati. Saban hari terus memutar otak bagaimana caranya mengundang istri ke Korea. Sementara faktor finansial tidak mendukung. Suami sejati, tentu tak mau istrinya hidup sulit.

Solusinya, istri saya harus bekerja atau mendapatkan beasiswa. Sambil membantu ikhtiar istri mencari beasiswa S2 ke beberapa kampus, saya mendengar dari seorang kawan ada lowongan part-time job dari sebuah perusahaan travel di daerah Ansan. Saya coba kontak pemiliknya dan singkat cerita, istri saya diterima. 

Setelah ada “jaminan” finansial, saya beranikan diri mengundang istri ke Korea. Termasuk minta surat sakti dari pembimbing sebagai surat undangan untuk pembuatan visa. Waktu itu bulan Mei 2007, kurang lebih 3 bulan dari keberangkatan saya ke Korea, istri saya landing di Bandara Incheon. Kedatangannya bersamaan dengan Shinta (Ilmu Komunikasi UI 2002), istri dari Bang Nandha Handaru. Bang Nandha adalah senior saya di Elektro UI angkatan 99 dan saat itu sedang mengambil master di Gyeongsan National University.

Pada awal perkuliahan di SNU saya tinggal di asrama. Setelah istri datang, saya tinggal di luar kampus di daerah Shillim-dong. Lokasinya berada di sebuah bukit, sehingga untuk mencapainya harus melewati puluhan tangga dan jalan yang menanjak. Kamarnya berukuran 3 x 3 m persegi dengan sebuah balkon tempat menjemur pakaian. Kamar mandinya terletak di luar kamar dan merupakan kamar mandi bersama untuk 4 pintu kamar lainnya.

Hari-hari pertama istri bekerja, saya selalu mengantar dan menjemputnya. Butuh waktu 1.5 jam dari rumah sampai kantornya. Perusahaan ini melayani penjualan tiket pesawat dan pengiriman uang ke Indonesia. Gaji Dian 2 kali lipat lebih tinggi dari beasiswa yang saya dapatkan. Alhamdulillah itu cukup untuk kami hidup berdua.

(Bersambung)

Ditulis dalam kereta bawah tanah menuju Gojan Station, menghadiri acara Kenduri Indonesia.

Discussion

4 thoughts on “Penggalan Kisah di Negeri Ginseng (Part 1)

  1. Ruaarr biasa… I am waiting for the next part. Hehehe. ..sangat inspiratif, bagaimana seorang pemuda rantauan Bandar harapan mencapai sukses hingga nun jauh disana.
    Ternyata tak semudah yang dibayangkan dan Penuh perjuangan. Mudah2an semakin banyak generasi yang mengikuti langkah pak dosen, sehingga kedepan bisa menjadikan Indonesia yang lebih baik lagi. Salut pak chairul hudaya.

    Posted by nengah swastika | 1 August 2016, 12:45 pm
  2. Terima kasih atas emailnya Mas Chairul. Saya sdh kirim pertanyaannya melalui alamat email yg Mas Chairul kirimkan ke email saya.

    Posted by Lulu Wuliarti | 29 August 2016, 9:28 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Penggalan Kisah di Negeri Ginseng (Part 2) | Chairul Hudaya's Blog - 1 August 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: