You are reading..
General

Obituary Sulistyo “Benro” Burhanudin

benro di kbs radio

Benro mengenakan Jas Biru saat wawancara di KBS Radio

Pagi ini, Minggu 2 November 2014, bertepatan dengan hari pertama Ujian Akhir Semester (UAS) mahasiswa UT Korea, saya membaca kabar duka dari seorang kawan. Salah satu sahabat dan adik saya, Benro meninggal dunia setelah cukup lama berjuang dari penyakit kanker yang dideritanya.

Kedekatan saya dengan almarhum Benro diawali dengan bergabungnya dalam keluarga besar UT Korea. Saat itu saya masih aktif sebagai tutor di program studi Ilmu Komunikasi sekaligus pengurus UT Korea. Namun saat itu saya belum mengenalnya lebih dekat. Hubungan kami lebih erat lagi manakala ia menjadi penyiar di UT Korea Radio, sebuah wahana yang saya sebut sebagai “lab alam” untuk mengasah bakat dan minat para mahasiswa UT Korea di bidang penyiaran.

Saat Hendri Setyawan, yang biasa dipanggil Iwax, memimpin media radio berbasis internet tersebut, dilakukan open recruitment untuk para penyiar baru. Saat itulah Benro, yang memiliki nama lengkap Sulistyo Burhanudin mengirimkan sampel suara sebagai salah satu syarat menjadi penyiar. Satu per satu sampel suara saya dengarkan. Ketika sampai pada sampel suara Benro, saya kok merasa bahwa ia seorang profesional. Lalu saya bertanya ke Iwax tentang sosok Benro ini. “Dia punya pengalaman mas sebagai penyiar radio waktu di Indonesia“.  ujar Iwax.

Bagi UT Korea Radio, dengan bergabungnya Benro dalam jajaran penyiar  membawa warna baru. Karena kemampuannya mengolah kata didepan publik (public speaking) dan pengalamannya di radio, Benro sering dipercaya berbagai organisasi sebagai master of ceremony (MC), bersama senior dan kakaknya, DJ Dikka Hermansyah.

Ketika kepengurusan Iwax sebagai direktur UT Korea Radio selesai, dengan musyawarah mufakat, seluruh crew radio sepakat memilih Benro sebagai direktur yang baru. Benro saat itu sebenarnya sempat menolak. Ia memang sosok yang rendah hati. Ia berargumen apakah ia pantas menjadi seorang direktur mengingat ia banyak memiliki amanah di tempat lain. Ia khawatir tidak bisa menjadi seorang direktur yang baik dan benar. Sebagai pembina, saya menguatkan dan meyakinkannya. Pun begitu dengan crew yang lain, turut mendukungnya.

Ketika sedang ada permasalahan internal di radio, tidak jarang ia curhat kepada saya berjam-jam melalui skype atau kakao. Saya selalu menyemangatinya bahwa dalam sebuah organisasi, dinamika adalah hal yang biasa. Riak kecil yang bisa kita lalui dengan kebersamaan. Alhamdulilah dibawah kepemimpinannya, UT Korea Radio maju dengan signifikan. Banyak acara sosial dari berbagai paguyuban dan organisasi di Korea Selatan yang telah disiarkan. UT Korea Radio telah banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia di Korea, bahkan di luar Korea. Dan hal yang terpenting, sesuai dengan tujuan didirikannya radio ini, seluruh penyiar baru memiliki kemampuan baru sebagai penyiar. Benro lah yang banyak menularkan ilmunya itu. Ia tidak bosan-bosan mengajarkan bagaimana cara membuka acara, saat ditengah acara dan saat menutup program acara. Ketika para penyiar baru telah siaran, Benro memberikan masukan-masukan konstruktif. Apa saja yang perlu diperbaiki agar lebih sempurna dalam membawakan acara. Saya perlu angkat topi untuk hal ini.

Benro adalah sosok sahabat yang ceria, mudah senyum, sangat toleran terhadap teman, setia kawan dan mampu menempatkan permasalahan sesuai dengan proporsinya. Saya juga mengenalnya sebagai seorang sahabat yang rajin beribadah. Melalui forum yang ia gagas bersama dengan kawan-kawannya, ia mendirikan SKIDA (South Korea Islamic Da’wah Association). Biasanya, setiap malam Minggu atau malam-malam tertentu, mereka berkumpul di markas mereka di Suwon, memanfaatkan momen tersebut untuk mempelajari dan mendalami Ilmu Agama. Semoga amalan baik ini bisa menjadi bekal disisi Allah SWT.

Ketika saya mengetahui bahwa Benro akan pulang ke Indonesia karena sakitnya itu, saya mencari cara bagaimana agar kami memiliki momen terakhir sebelum ia pulang. Pak Suray, yang juga merupakan pembina UT Korea Radio memberikan sebuah ide yaitu wawancara di KBS World Radio seksi siaran bahasa Indonesia. Tadinya, seluruh crew UT Korea Radio berencana untuk hadir. Namun dikarenakan pelaksanaan wawancara saat hari kerja, akhirnya hanya direktur yang baru, Aris Budianto dan DJ senior Dikka Hermansyah saja yang bisa menghadiri wawancara itu.

Benro yang datang mengenakan jas biru muda disisipi pin UT Korea Radio itu tampil ceria, seperti sedang tidak sakit saja. Inilah kenangan terakhir kami bersama almarhum.

Sahabat, sesungguhnya dengan wafatnya Benro adalah pengingat bagi kita semua yang masih bisa bernafas. Bahwa setiap yang hidup akan mati. Bahwa hidup didunia ini hanya sementara. Maka mari kita gunakan waktu yang tersisa ini untuk senantiasa beribadah kepada Allah SWT.

Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raajiuun

Allamummagfirlahu.. warhamhu.. waafihi.. wafu’anhu

Allahumma la tahrim naa ajrahu walaa taftinnaa ba’dahu waghfirlanaa walahu

Discussion

One thought on “Obituary Sulistyo “Benro” Burhanudin

  1. Innalillahi Wainna Ilaihi Raajiuun
    Allamummagfirlahu warhamhu waafihi wafu’anhu
    Semoga engkau diberikan kelapangan kubur, diampuni semua dosa dan khilaf, serta dilipatgandakan pahalamu sehingga kelak akan masuk ke surga-Nya bersama dengan orang-orang nan sholeh.

    Posted by Nasikun | 3 November 2014, 3:01 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: