You are reading..
Others

Pengelolaan Dana Riset yang Terintegrasi dan Transparan

stop korupsi

(Foto : ilustrasi/google.com)

Sudah sering saya mendapatkan pertanyaan dari kolega atau senior yang berkunjung ke Korea, apakah tingkat korupsi di Korea tinggi? Bingung juga saya memberikan jawaban. Namun selalu saya bilang bahwa korupsi memang ada dimana mana. Almarhum Presiden Korea Roh Mu Hyun yang meninggal karena bunuh diri disebut sebut karena tekanan yang tinggi akibat keluarganya terseret kasus korupsi semasa ia berkuasa.

Transparency International, lembaga internasional yang giat memerangi korupsi, menyebutkan bahwa Index Persepsi Korupsi Korea Selatan tahun 2012 adalah 56/100 atau berada di peringkat 46 dari 176 negara yang disurvei. Peringkat ini memiliki arti 0 (nol) sebagai paling buruk korupsinya dan 100 sebagai paling bersih dari korupsi. Jadi dari studi tersebut dapat disimpulkan bahwa Korea Selatan mengarah ke keadaan bersih. Bagaimana dengan Indonesia ? Dari studi yang sama, Indonesia menduduki peringkat 118/176 dengan skor 32/100. Ini berarti negara kita masih perlu usaha yang besar untuk menjadi  lebih bersih lagi.

Pemberantasan korupsi memang menjadi fokus perhatian saat ini. Pengawasan, yang juga merupakan bagian penting selain penindakan, perlu dilakukan secara intensif. Minimal ada 2 faktor utama pengawasan : faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berkaitan dengan karakter diri/pribadi dari seseorang, sedangkan faktor external berkaitan dengan lingkungan dan sistem dan juga aturan main. Mengubah karakter diri memang sangat sulit, tapi membuat suatu sistem yang bisa meminimalisir tindakan korupsi sangat mudah jika ada kemauan.

Dengan semakin meingkatnya anggaran untuk bidang pendidikan (20% APBN), dana-dana riset yang diberikan untuk Pendidikan Tinggi juga menjadi semakin meningkat. Dengan mengambil contoh kasus dana riset yang dikelola oleh Direktorat Riset  dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) UI, pada tahun 2010 UI mengelola dana riset sebesar Rp 87.06  milyar atau meningkat 5 kali lipat dibandingkan dengan tahun 2007 (Sumber : Rencana Induk Penelitian UI, 2012). Oleh karena itu, pengawasan terhadap implementasi dana  riset yang diberikan juga perlu diperketat. Dana riset yang berasal dari keuangan negara sebisa mungkin dialokasikan untuk kepentingan riset, bukan untuk memperkaya diri peneliti. Salah satu cara untuk proses pengawasan ini adalah dengan membuat sistem yang transparan.

Belajar dari KIST

Dewasa ini teknologi informasi dan komunikasi memegang peranan penting dalam  mempermudah setiap urusan, termasuk dalam melakukan pengawasan. Sebagai sebuah riset institut tertua di Korea, KIST telah memanfaatkan teknologi informasi untuk memudahkan proses birokrasi terkait riset. Sistem  yang diberi nama Sistem Informasi Terintegrasi (통합정보시스템) ini memiliki banyak sekali fitur diantaranya :

  1. Administrasi pengajuan proposal proyek yang didanai oleh pemerintah melalui KIST maupun luar KIST.
  2. Laporan keuangan proyek riset yang sudah dan sedang dijalankan.
  3. Email yang terintegrasi dalam sistem.
  4. Pengajuan business trip/conference dengan menggunakan dana riset
  5. Pengajuan layanan karakterisasi sampel dari alat-alat semisal XRD, XPS, EDX, EPMA, DSC dan lain-lain.
  6. Aplikasi paten, paper maupun publikasi lainnya.
  7. Dan masih banyak puluhan fitur lainnya.

Dengan sistem tersebut, akuntabilitas dari pengelolaan dana riset menjadi lebih transparan. Setiap orang yang terlibat dengan riset bisa melihat arus keuangan dari proyek yang dikelola. Para peneliti juga dimudahkan untuk membuat sistem akuntansi laporan keuangannya. Setiap project riset diberikan beberapa kartu kredit yang dipegang oleh principal investigator dan periset yang terlibat. Dan setiap transaksi yang dilakukan melalui kartu tersebut akan tercatat dengan baik dan memudahkan tim pengawas pada saat melakukan monitoring.

Dengan sistem ini nampaknya sangat sulit untuk melakukan manipulasi keuangan proyek. Mungkin saja  celah-celah untuk melakukan korupsi masih ada. Namun, minimal celah-celah itu tidak terbuka lebar. Jika ada kemauan, terutama dari pemimpin/pimpinan, perguruan tinggi/riset institut di Indonesia juga bisa membuat sistem seperti ini. Bukankah kalau bersih kenapa harus risih?

Seoul, 1 Desember 2013, 09.14 am

Discussion

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Chairul Hudaya's Blog - 11 February 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: