You are reading..
General

Era Mobil Listrik Indonesia telah Tiba?

Sudah lebih dari setengah tahun saya tidak menulis di blog ini. Alasannya apa lagi kalau bukan malas, padahal ide untuk sharing sih lumayan banyak. Ironisnya, saya selalu bilang sama mahasiswa saya bahwa tidak ada cara untuk mengasah kemampuan menulis, kecuali dengan rajin menulis. Jadi jangan malas, duh..

Keengganan saya untuk menulis akhirnya terpecahkan juga ketika kemarin (15/07/2013) saya membaca sebuah berita hasil buah pikiran dari Menteri BUMN RI, Pak Dahlan Iskan dalam rangkaian seri tulisan “Manufacturing Hope”. Kali ini Pak Dahlan menceritakan harapannya mengenai  industri baterai lithium untuk menunjang kebangkitan mobil listrik made in Indonesia. Selain saya memang nge-fans sama tulisannya Pak Dahlan, ini juga menarik bagi saya yang kebetulan saat ini mendalami bidang ini.

Dua tahun lalu saya telah mencoba menguraikan bagaimana kondisi industri baterai sekunder di Indonesia saat itu. Dari riset kecil-kecilan sebatas melalui media internet itu, saya menyimpulkan bahwa memang sebagian besar produk baterai yang diproduksi oleh Industri kita baru sebatas baterai primer dan baterai sekunder dengan mayoritas jenis asam timbal (lead acid).

Aplikasi baterai-baterai tersebut diantaranya untuk kendaraan bermotor (SLI-Starting, Lighting and Ignition), peralatan rumah tangga dan umum. Jadi belum ada industri yang memproduksi baterai jenis lithium untuk kebutuhan mobil listrik atau alat-alat elektronik seperti handphone, laptop dan sebagainya. Baterai lithium memang salah satu keberhasilan teknologi yang diciptakan manusia sejak penemuan pertamanya 22 tahun yang lalu. Soal baterai lithium ini saya pernah mengulasnya disini.

Dari pengalaman industri-industri otomotif yang telah memproduksi mobil listrik seperti Chevrolet dan Nissan, biaya untuk komponen baterai (jenis lithium) saja bisa menyumbang hampir 40-50% dari harga jual sebuah mobil listrik. Inilah yang menjadi tantangan keekonomian terbesar mobil listrik hingga saat ini. Belum lagi soal teknis seperti pengisian muatan listrik (charging) yang masih membutuhkan waktu yang lama, isu keamanan (safety) dan lain sebagainya.

Untuk meminimalisir harga produksi, tentu saja baterai lithium perlu diproduksi dalam jumlah massal dan kontinyu dalam periode tertentu. Selain itu, menurut hemat saya pemerintah juga perlu campur tangan dalam hal regulasi dan dorongan stimulus misalnya dalam bentuk insentif khusus. Hal lainnya yang juga penting adalah peranan dari para akademisi ditataran pendidikan tinggi dalam menciptakan SDM yang handal dan memadai.

Itulah yang sering lazim disebut dengan hubungan triple helix yaitu Academia, Business dan Government (ABG).  Masing masing pihak harus saling bahu membahu memberikan kontribusinya masing masing. Jika saat ini Pemerintah melalui kementrian/departemen terkait sudah mulai gencar memberikan dorongan, industri baterai sekunder untuk mobil listrik sudah bangkit, bagaimana dengan akademisi?

Dari pantauan saya, tidak banyak riset group di universitas atau riset institute di Indonesia yang meneliti dibidang baterai ini. Sedikitnya para ahli yang berkecimpung dibidang ini dapat dipahami mengingat fasilitas riset yang membutuhkan dana infrastruktur yang tidak sedikit. Oleh karena itu, sedikit demi sedikit namun bertahap, pemerintah juga perlu mendorong tumbuh dan berkembangnya riset bidang penyimpanan energi ini di tingkat universitas dan riset institute yang ada.

Kita patut bersyukur ada ahli baterai lithium di Indonesia seperti Dr. Bambang Prihandoko (LIPI) yang mau membantu industri lokal mengembangkan teknologi baru ini. Expertise beliau dibidang ini tidak perlu diragukan lagi. Buktinya saat saya berkorespondensi dengan beliau dua tahun lalu, Dr. Bambang sedang diminta sebagai tenaga ahli oleh pembuat mobil asal Malaysia yang sangat tertarik dengan mobil listrik ini. Dengan semakin banyak peneliti yang berkecimpung dibidang penyimpanan energi, saya percaya suatu hari kita bisa melihat mobil listrik made in Indonesia seutuhnya.

Mobil listrik adalah mobil masa depan. Siapkah kita ambil bagian didalamnya? Ataukah kita hanya akan menjadi pasar potensial saja?

Seoul, 16 Juli 2013

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: