You are reading..
Energy Storage

Mengenal Material Baterai Lithium-Ion

Untuk memenuhi kebutuhan akan listrik portabel dimasa yang akan datang yang terus meningkat, dibutuhkan material baterai yang bisa memberikan energi dan daya listrik besar, ringan, murah dan aman. Baterai lithium adalah salah satu teknologi baterai yang cukup sukses selama 20 tahun belakangan ini. Baterai yang pertama kali diujicoba oleh sebuah perusahaan di Amerika tahun 1970 an ini masih belum dikembangkan hingga pada tahun 1991, perusahaan Jepang Sony mengkomersialkan baterai jenis ini. Lithium adalah jenis metal reaktif yang dapat menghasilkan panas berlebihan jika bereaksi dengan air atau uap air. Oleh karena itu, dalam membuat baterai lithium pasti dilakukan dalam ruangan kering (dry room) dimana kelembapannya dijaga tidak kurang dari 5%.

Komponen Baterai Lithium

Sesuai dengan komponen penyusunnya, riset material baterai lithium-ion sekunder dapat dikategorikan menjadi 4 kelompok, yaitu (1) katoda/kutub positif (2) anoda/kutub negatif (3) elektrolit (4) separator. Saat ini, baterai lithium-ion yang sudah dikomersialisasikan menggunakan material LiCoO2 sebagai katoda, graphite sebagai anoda dan campuran LiPF6, EC, DEM, dan EMC sebagai elektrolit dan polypropylene sebagai separatornya.

Cara Kerja Baterai Lithium

charge_dischargeMengingat baterai lithium termasuk dalam kategori baterai sekunder atau rechargeable battery, maka baik reaksi reduksi maupun oksidasi terjadi ketika sedang diisi muatan listrik (charge) dan ketika dikosongkan/dilepaskan muatan listrik (discharge). Sebelum digunakan, baterai lithium biasanya terlebih dahulu di charge, yang berarti bahwa aliran elektron dari sumber tegangan mengalir dari katoda ke anoda. Untuk kesetimbangan muatan, ion-ion lithium dari katoda mengalir melalui elektrolit dan separiator menuju kutub anoda hingga kondisi ekuilibrium tercapai (baterai 100% charged). Ketika baterai lithium dipakai, kondisi sebaliknya terjadi. Muatan listrik dalam bentuk elektron mengalir dari kutub anoda melalui beban (load) ke kutub katoda. Untuk mengimbangi pergerakan ini, ion-ion lithium yang berasal dari kutub anoda mengalir melalui elektrolit dan menembus pori-pori separator menuju kutub katoda. Kejadian ini terus menerus terjadi hingga seluruh muatan ion di katoda habis atau mengalamai kesetimbangan muatan. Setelah baterai kosong/habis, proses charging kembali dilakukan.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: