You are reading..
General

Sistem Peringatan Dini Pada Distribusi Tenaga Listrik

Pada tahun 2010 yang lalu tim kami dari Electric Power and Energy Studies (EPES), Universitas Indonesia mendapatkan grant Hibah Riset Awal dari Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia. Proposal yang kami ajukan berjudul : Pembuatan Sistem Peringatan Dini pada Sistem Distribusi Tenaga Listrik Pelanggan dalam Upaya Mendukung Penghematan Energi. Penjelasan mengenai sistem peringatan dini (early warning system) ini dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

Penelitian kami juga diliput oleh Koran Jakarta pada awal Juli yang lalu seperti berita berikut ini :

Mampu memilih beban listrik yang perlu dimatikan atau tetap diaktifkan. Memaksimalkan Catu Daya Listrik

Tooltip

dok

Sejatinya Matahari mampu menyinari setiap sudut ruangan di suatu rumah. Tapi di sebuah gang sempit, di Jalan Rawa Bahagia Dalam, Grogol, Jakarta Barat, sinar sang surya tampak lemah menembus atap dan tembok yang saling berhimpit satu dengan lainnya.

Di kawasan padat penduduk itu, lampu-lampu selalu menyala hampir di setiap ruang rumah, tak peduli siang atau malam. Di sana keberadaan listrik seolah menjadi pengatur denyut nadi kehidupan. Warga merasa “sengsara” hidup tanpa listrik. Setiap lorong rumah gelap, tak ada hiburan televisi maupun radio, dan semua instrumen elektronik mati suri.

“Kalau listrik padam, jelas bikin gondok dan geram. Semua terasa sepi, menjengkelkan,” keluh Muchid Murtadho, salah satu warga yang tinggal di suatu rumah kos di kawasan itu.

Tindakan yang biasa dilakukan Muchid untuk memastikan padamnya listrik ialah melihat meteran listrik atau MCB (Main Circuit Breaker), yakni pemutus hubungan listrik secara otomatis bilamana daya melampaui standar.

Jika kebetulan meteran listrik tidak berputar dan posisi panel MCB “hidup”, dengan mudah ia akan menuduh PLN sebagai biang keladinya lantaran acap melakukan pemadaman bergilir. “Kita nggak bisa berbuat apa-apa, selain menunggu sampai hidup lagi jika terjadi pemadaman listrik,” katanya.

Lain halnya jika meteran listrik tidak berputar dan posisi panel MCB “mati”, ini menandakan pengoprasian beberapa peranti elektronik menyebabkan hubungan listrik putus alias “njepret”.

Kalau itu terjadi, Muchid harus legawa dan memaklumi hidup di rumah kos yang harus saling kompromi dengan lainnya dalam memanfaatkan listrik. Di rumah kos yang terpasang daya 1300 volt ampere (VA), ia harus berbagi penggunaan listrik dengan enam teman dalam kamar/ruang berbeda.

Jika kebetulan semua orang menggunakan peranti elektronik bebarengan, misalnya ada enam setrika menyala, secara otomatis listrik padam karena daya yang digunakan melampaui batas.

Imbas dari listrik padam mendadak ini bisa merusak alat-alat elektronik. Belum lagi kerugian tak tampak lainnya, seperti emosi yang memicu pertengkaran. “Mau tidak mau, kita harus saling mengalah meskipun kerap pula terjadi cekcok antar penghuni kos,” kata dia.

Dalam kasus berbeda, apa yang dialami Muchid bisa jadi juga dialami banyak orang. Kasus pemakaian listrik melebihi daya lazim ditemukan pada pada para pelanggan PLN skala rumahan atau industri kecil.

Early Warning System

Untuk mengurai permasalahan tersebut, PLN menyarankan, “Segera tambah listrik selagi gratis,” begitu kata iklan perusahaan setrum negara ini. Selain itu, PLN menghimbau semua pelanggan lewat pelbagai media agar hemat menggunakan energi listrik. Kampanye ini memang terdengar hingga ke telinga konsumen. Namun, kampanye ini belum bisa mengubah perilaku konsumen dalam memanfaatkan energi secara bijak.

Akan lain cerita jika konsumen digiring memanfaatkan energi listrik secara bijak lewat sebuah sistem cerdas yang mampu memaksimalkan catu daya. Sistem cerdas tersebut berhasil dikembangkan para peneliti dari Universitas Indonesia (UI) yang terdiri atas Iwa Garniwa Mulyana, Chairul Hudaya, Budi Sudiarto, Aji Nur Widyanto.

Mereka memberi nama sistem cerdas itu Early Warning System (EWS). Sesuai dengan namanya, sistem ini dapat mencegah putusnya hubungan listrik secara mendadak karena daya yang digunakan melampaui batas.

“EWS memiliki kemampuan memanajemen beban secara otomatis. Alat ini dapat memilih beban yang tetap diaktifkan atau dimatikan,” kata Iwa yang juga menjabat sebagai Direktur Pengkajian Energi UI.

EWS terdiri dari atas empat bagian utama, yakni sistem konversi data analog ke digital (Analog to Digital Converter/ADC), mikrokontroler, relay, dan sistem pendukung (alarm, Light Emitting Diodes/LED, dan power supply).

Lewat EWS, tambah Iwa, jika sebuah rumah hanya terpasang daya 1300 VA maka bisa ditentukan penggunaan listrik tidak lebih dari itu. Misalnya ditentukan status beban normal, kritis, dan puncak dalam satu rumah melalui LED dengan warna berlainan.

Sebagai contoh, hijau=normal, kuning=kritis, dan merah=puncak. Apabila menyala LED kuning, berarti penggunaan daya sedang kritis. Alarm pun otomatis akan berbunyi sebagai pertanda peringatan untuk mematikan beberapa instrumen elektronik.

Tentunya, lanjut Iwa, instrumen elektronik yang dimatikan harus tetap memperhatikan skala prioritas. Penghuni rumahlah yang mengetahui instrumen elektronik yang harus dimatikan.

“Singkat cerita, prinsip kerja EWS itu diawali dari pengukuran daya, lalu evaluasi, dan diakhiri action berupa suara alarm. Peringatan dini ini bisa didesain sesuai dengan keinginan pengguna dalam menetapkan beban,” jelas Guru Besar di Fakutas Teknik UI ini. agung wredho

Tamatan SMK Pun Bisa Merancangnya

Memiliki sistem manajemen beban.

Peranti Early Warning System (EWS) yang dikembangkan para peneliti dari Universitas Indonesia sebenarnya teknologi sederhana. Bahkan, menurutDirektur Pusat Penelitian Sains dan Teknologi Universitas Indonesia (UI), Iwa Garniwa Mulyana, seorang tamatan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pun bisa merancangnya jika diberikan contoh komponen pembangunnya.

Kendati demikian, proses penelitian peranti EWS selama tahun 2010 ini cukup memeras otak para peneliti yang ingin menerjemahkan sebuah ide hemat energi listrik dalam bentuk nyata. Bahkan, butuh dana lumayan besar untuk mencari komponen-komponen yang tepat dalam membangun sistem cerdas.

Bersyukur, mereka mendapat dukungan finansial dari Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) UI sehingga bisa merampungkan penelitian tahap pertama. Meskipun penelitian ini masih belum sempurna, setidaknya prototipe alat telah berhasil diwujudkan.

Komponen yang diperlukan untuk membangun sebuah sistem cerdas EWS skala laboratorium di antaranya power supply 220Volt AC-12 Volt DC, mikrokontroler ATMega 16, sistem konversi analog ke digital (Analog to Digital Converter/ADC), transformator arus dengan nilai 50/1, pengukur amper analog, lampu, pemutus sirkuit 10 Ampere, LCD 8 x 4, relay, switch, dan kotak panel.

Sekadar informasi, sistem ADC berfungsi mengubah analog (tegangan) menjadi output digital. Lalu data tegangan tersebut akan diolah sebuah mikrokontroler yang berfungsi penghitung data dari beban. Hasil perhitungan (output) ditampilkan di layar LCD, dan sebuah actionberupa lampu LED atau alarm (buzzer).

“Peranti EWS skala laboratorium ini memiliki sistem manajemen beban. Dengan demikian bisa bekerja secara otomatis untuk memilih beban yang harus diaktifkan dan dimatikan,” kata Iwa yang menyandang gelar doktor di Fakultas Teknik UI. Selain itu, keunggulan EWS skala laboratorium ini memungkinkan pengguna untuk mengatur input beban sesuai keperluan.

Memberikan Kontribusi Nyata

Dapat “memperpanjang umur” alat-alat elektronik

Meskipun peranti Early Warning System (EWS) cukup sederhana, yang jelas alat ini bisa memberikan kontribusi nyata terhadap program penghematan energi listrik yang sejauh ini terus dikampanyekan operator. Betapa tidak? EWS dapat memberikan peringatan kepada pelanggan PLN ketika menggunakan daya listrik secara berlebihan.

Kasus di rumah kos dengan penghuni yang memiliki kepentingan berbeda dalam memanfaatkan listrik, misalnya, dapat saling “waspada” karena EWS mampu mengukur penggunaan daya yang dinilai berlebih. Para penghuni tidak perlu saling menyalahkan karena penggunaan listrik bisa terukur. Dengan demikian mereka bisa memanfaatkan energi secara bijak.

Tidak hanya itu, keuntungan penggunaan EWS dalam suatu instalasi listrik rumah maupun industri kecil dapat “memperpanjang umur” alat-alat elektronik. Sudah banyak bukti alat-alat elektronik mudah rusak jika terjadi pemadaman listrik secara mendadak. Apalagi alat-alat elektronik yang bersifat dinamik seperti kipas angin, mesin cuci, dan mesin fotokopi.

Lebih runyam lagi, bagi mereka yang bekerja menggunakan personal computer (PC) tanpa ada power supply cadangan atau baterai. Data-data penting yang belum tersimpan bisa lenyap. “Saya pernah mengalaminya,” kata Iwa.

Aplikasi EWS juga bisa mengoptimalkan catu daya. “Apabila konsumen PLN sering mengalami overload daya, daripada meminta menaikan catu daya, lebih baik mengoptimalkan catu daya yang ada,” ujar Iwa menawarkan solusi.

Iwa menambah catu daya berarti ada kecenderungan dari konsumen untuk memanfaatkan listrik lebih tinggi lagi dari sebelumnya. Padahal, sejauh ini PLN masih belum bisa memenuhi permintaan sambungan listrik baru karena keterbatasan pasokan energi primer yang bisa dikonversi menjadi energi listrik. Tak ayal, jika masih terdengar kabar pemadaman listrik bergilir di daerah tertentu.

Sumber : Koran Jakarta

Discussion

3 thoughts on “Sistem Peringatan Dini Pada Distribusi Tenaga Listrik

  1. Assalamualaikum kak

    boleh gak izin sedot file nya kak ?
    soalnya TA ku mirip dengan riset kakak

    mohon bantuannya kak😀

    Posted by luthfi musrah | 26 July 2016, 4:45 pm
  2. cma aku menggunakan sensor arus acs

    Posted by luthfi musrah | 26 July 2016, 4:46 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: