You are reading..
Koreana

Tanjakan, Turunan dan Tangga

Siapapun tahu, baik naik maupun turun pasti butuh tangga. Terkecuali bagi Superman dan Batman. Tanjakan, turunan dan tangga (3T) adalah hal lumrah yang semua orang pasti melaluinya setiap hari di Korea. Kontur bumi Negeri Ginseng yang berbukit-bukit menyebabkan 3T itu ada. Walhasil setiap kali saya berangkat kerja pasti melalui track 3T ini.

Dua puluh meter keluar rumah sudah dihadapkan dengan turunan dengan elevasi 45 derajat (1). Masuk pintu gerbang belakang siap-siap disuguhi tanjakan dengan elevasi 30 derajat (2-5). Namun, saya senang karena kata si Kabayan dalam jurusnya disebutkan bahwa, jika kita sedang menanjak, maka kita perlu senyum, karena didepan sana pasti ada turunan. Sebaliknya kalau kita sedang menurun, baiknya jangan senang dulu karena didepan kita pasti ada tanjakan. Begitu katanya, kodrat kehidupan, bagaikan roda yang berputar, kadang diatas kadang dibawah posisinya. Ternyata si Kabayan benar. Gambar (6) memperlihatkan turunan. Untuk mempersingkat jarak, kaki saya langkahkan kekiri memasuki hutan buatan yang berada di KIST. Asri dan teduh nian dalamnya (7-10).

Selepas hutan kota, sampailah saya di Asrama Mahasiwa B. Penghuninya adalah mereka, baik orang asing maupun penduduk lokal, yang sedang bekerja di KIST. Untuk sampai lobby asrama, puluhan anak tangga siap menunggu (11). Sepuluh meter kemudian, seratusan anak tangga lainnya menanti dengan setianya (12-13). Saya senyum-senyum saja karena yakin turunan ada didepan (14). Sesekali saya menengok ke kiri melihat lapangan sepak bola dimana setiap Sabtu dipakai oleh mahasiswa Asing di KIST (15). So pasti, mahasiswa Indonesia pasti paling kompak kalau bermain. Turunan dilanjutkan (16) hingga saya sampai pada Gedung Laboratorium Nomer 5 (17). Tidak sembarangan orang dapat masuk ke gedung karena butuh ID Card untuk memasukinya (18). Maklum KIST adalah aset negara yang berharga dalam bidang research and development, sehingga security nya memang betul betul dijaga ketat. Masuk kedalam Gedung Laboratorium, enam belas anak tangga dengan sigapnya menyambut saya (19) hingga sampai pada ruangan dimana saya menghabiskan waktu untuk riset selama 3 tahun kedepan, insyaAllah, R5332 (20)

Sudah pasti, untuk sampai pada tempat kerja dibutuhkan energi yang cukup banyak. Namun saya senang, karena untuk sampai pada tempat kerja, paling tidak dibutuhkan waktu selama 15 menit dengan berjalan kaki. Pulang pergi, 30 menit. Belum lagi setiap makan siang saya makan dirumah bersama anak-istri, 30 menit lagi jalan kaki pulang-pergi. Total 1 jam jalan kaki dalam sehari. Lumayan buat menjaga kesehatan. Ini belum seberapa dibandingkan dengan pejalan kaki kita, Pak Herman Wenas, yang setiap hari berjalan kaki untuk mengetuk dunia akan pentingnya pendidikan pada generasi muda. Semoga sukses jalan kakinya di Australia di masa yang akan datang, Pak Wenas!

Seoul, June 5, 2011. 1.16 AM

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: