You are reading..
General

Konstruksi SUTM di Korea Selatan

Tiang SUTM pada jalur lurus di Seoul

Jaringan tegangan menengah (JTM) sistem distribusi tenaga listrik adalah salah satu pilar utama dalam menyalurkan tenaga listrik hingga pada pelanggan. Berdasarkan medianya, JTM dibagi menjadi 2 bagian utama yaitu JTM dengan saluran udara atau lebih dikenal SUTM (Saluran Udara Tegangan Menengah) dan JTM dengan kabel bawah tanah yang dikenal dengan SKTM (Saluran Kabel Tegangan Menengah). Pada tulisan kali ini, saya ingin menggambarkan karakteristik dan konstruksi SUTM di Korea Selatan dan sedikit membandingkannya dengan konstruksi SUTM di Indonesia.

Pada umumnya, baik di Indonesia maupun di Korea, penghantar yang digunakan untuk SUTM adalah sama yaitu konduktor telanjang (bare conductor) yang terbuat dari bahan tembaga maupun aluminium yang dipilin bulat padat. Tipe konduktor yang biasa digunakan adalah AAC dan AAAC. Perbedaan yang mendasar dari konstruksi JTM di kedua negara dapat dilihat pada panjang tiang yang digunakan. Di Korea, tiang untuk SUTM yang digunakan memiliki panjang 16 meter, sedangkan di Indonesia, berdasarkan standar konstruksi PT. PLN (Persero), tiang yang digunakan bervariasi mulai dari tiang 9, 11, 12, 13 dan yang terpanjang 14 meter. Tipe tiang yang digunakan di Korea umumnya adalah tiang beton. Tiang besi jarang digunakan, namun untuk konstruksi khusus yang memerlukan kelengkungan dikarenakan berdekatan dengan bangunan, maka tiang besi diaplikasikan. Di Indonesia, baik tiang besi, tiang beton maupun tiang kayu masih dapat dipergunakan sesuai dengan standar PLN tersebut.

Tiang Cabang SUTM dengan sebuah Transformator CSP

Hal lain yang membuat berbeda adalah dengan banyaknya penggunaan transformator tipe CSP (Completely Self Protected)  dengan kapasitas kecil yang terinstall pada hampir setiap tiang-tiang SUTM. Walaupun kecil, transformator jenis ini memiliki perangkat switching dan proteksi yang telah terinstall dalam tangki transformer. Di Indonesia, tipe CSP ini masih jarang diterapkan karena kapasitasnya yang relatif kecil. Penyaluran listrik di Indonesia biasanya melalui sebuah gardu listrik, baik berupa gardu portal maupun gardu beton dengan kapasitas transformator yang relatif lebih besar. Penggunaan kapasitas transformator yang lebih kecil memiliki keuntungan diantaranya jika terjadi kerusakan pada transformator tersebut, maka daerah yang terkena dampak pemadaman (blackout) lebih sedikit dibandingkan dengan transformator skala lebih besar. Selain itu karena kapasitasnya yang lebih kecil dan jumlahnya yang relatif banya maka pengaruh harmonik dari pelanggan listrik yang terinduksi kedalam sistem akan dapat diminimalisir.

Konstruksi SUTM di Korea umumnya dilengkapi dengan bayonet pada ujung atas tiang untuk menyangga kabel petir (shield wire). Shield wire ini sangat berguna sebagai proteksi terhadap gangguan petir. Namun anehnya, selama saya tinggal di Seoul, saya belum pernah melihat atau merasakan adanya petir yang besar ketika sedang, sebelum dan setelah turun hujan dibandingkan dengan di Indonesia, terutama di Depok. Terlebih bangunan di Seoul pada umumnya sudah lebih tinggi dibandingkan dengan tiang SUTM. Mungkin karena mereka sangat khawatir gangguan petir akan mengganggu distribusi listrik mereka sehingga walaupun diperlukan biaya yang besar mereka penuhi saja tanpa melihat fungsi yang lebih signifikan. Hasilnya, selama saya tinggal di Seoul, hampir belum pernah merasakan pemadaman listrik yang tiba-tiba pada saat hujan turun.

Transformator CSP dan Kesemrawutan Kabel Telekomunikasi

Tidak hanya di Indonesia, di Korea pun nampaknya memiliki permasalahan yang sama dalam mengelola kabel telekomunikasi yang menumpang pada tiang-tiang SUTM. Walaupun sudah diupayakan dengan dilakukan pengikatan agar terlihat tidak terurai, tapi pada beberapa titik masih saja terlihat semerawut. Berdasarkan pengamatan saya, di Korea ini banyak sekali penyedia layanan internet dan TV Kabel. Walaupun mungkin ada aturannya, tapi para teknisi provider umumnya hanya menarik kabel dari salah satu tiang menuju ke rumah-rumah yang akan dipasang internet/TV Kabel, tanpa mengindahkan kerapian dari kabel yang terpasang. Akhirnya kondisi semrawut inipun terjadi. Sering saya melihat petugas dari utilitas listrik merapikan kabel-kabel tersebut bahkan pernah saya lihat dipotong begitu saja. Mungkin karena sudah terlalu semrawutnya.

Seoul, June 18, 2011. 10.45 PM

Discussion

2 thoughts on “Konstruksi SUTM di Korea Selatan

  1. pak, saya ijin share gambar “Transformator CSP dan Kesemrawutan Kabel Telekomunikasi” di blog saya ya. terima kasih ^^

    Posted by Lia Frisila | 12 January 2013, 10:17 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: KEPCO, Amazing Electricity in South Korea | Coretan Kata - 15 February 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: