You are reading..
General

Listrik, Sisi Dua Mata Pisau

Pada tulisan sebelumnya, saya mencoba mengulas mengenai sulit dan mahalnya untuk menghasilkan listrik. Setelah dibangkitkan dan disalurkan  hingga kepada pengguna, listrik dapat digunakan untuk berbagai keperluan yang mengubah bentuk energi ini menjadi energi lainnya.

Listrik bagai bilah mata pisau, satu sisi bisa bermanfaat namun disisi lain juga bisa sangat membahayakan. Hampir 80 persen kebakaran yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh adanya listrik arus hubung singkat atau masyarakat kita lebih mengenalnya dengan korslet [1]. Selain itu, listrik juga dapat menyebabkan kematian seseorang yang tingkatnya berbeda-beda untuk setiap orang tergantung dari jenis kelamin, usia dan juga berat badan.

Pada tulisan kali ini, saya akan coba mengulas penyebab kebakaran yang diakibatkan oleh listrik yang dimulai dengan kegagalan isolasi penghantar listrik. Penghantar atau kabel adalah sebuah divais yang dapat menghantarkan listrik dari satu tempat ke tempat lainnya. Pada umumnya, sebuah penghantar terdiri dari bagian inti metal (konduktor) yang dibungkus oleh bagian material isolasi listrik. Sebuah kabel memiliki kemampuan hantar arus (KHA) yang berbeda-beda dalam menyalurkan listrik, tergantung dari dimensi kabel tersebut. Arus listrik dapat dianalogikan sebagai derasnya air yang mengalir pada suatu pipa ataupun media lainnya dimana pipa adalah kabel listriknya. Ketika arus hubung singkat terjadi, sesuai dengan hukum ohm, I = V/R, dimana jika tegangan (V) yang konstan dan tahanan listrik (R) yang hampir mendekati nol, maka akan dihasilkan nilai arus listrik yang sangat besar sekali. Derasnya air yang mengalir dalam sebuah pipa yang dipompa oleh sebuah pompa dengan tekanan tinggi akan berakibat pada pecahnya pipa tersebut. Begitu pula yang terjadi dengan kabel listrik. Kabel yang menyalurkan daya listik yang besar ( daya sebanding dengan kuadrat arus, P = I^2R) menyebabkan panas yang berlebihan. Jika syarat terjadi kebakaran lainnya yaitu adanya oksigen dan bahan mudah terbakar tersedia disekeliling kabel tersebut, kebakaran pun terjadi.

Kebakaran yang diakibatkan oleh listrik, sebenarnya tidak hanya disebabkan oleh kondisi arus hubung singkat saja, tetapi dapat juga disebabkan oleh penggunaan listrik yang melebihi kapasitas penghantar (overloads). Selain itu, mode penggunaan kabel seperti penggunaan kabel secara lurus, menekuk maupun terikat akan menurunkan nilai KHA kabel. Berdasarkan penelitian kami (R. Setiabudy, B.Sudiarto, C. Hudaya, Arifianto, “Analysis of Thermal Characteristics of PVC Cable Rating Voltage of 300/500 Volt under Overload Operation”, Proceeding of The 11th International Seminar of Quality in Research Faculty of Engineering University of Indonesia, August 2009), kabel yang digunakan secara lurus cenderung memiliki KHA yang lebih baik dibandingkan dengan kabel yang ditekuk, melengkung ataupun terikat. Gambar-gambar dibawah ini menunjukkan kondisi kabel yang sering digunakan dirumah tangga dan banguan dengan rating 300/500 V ketika diberikan arus listrik yang melebihi kapasitas kabel untuk berbagai mode penggunaan.

KABEL LURUS VS MENEKUK

Kabel lurus ketika diberikan arus : (a) 48 A (b) 56 A

Kabel terikat dan menekuk ketika diberikan arus (a) 46 A (b) 56 A

Seperti dapat dilihat pada gambar diatas, kabel yang digunakan secara lurus memiliki nilai KHA yang lebih besar dibandingkan dengan kabel yang terikat dan menekuk. Ini terlihat dari banyaknya asap yang timbul dan juga efek pembakaran yang ditimbulkan oleh kedua jenis penggunaan kabel.

KABEL STANDAR & NON-STANDAR

(a) Kabel Standar dan (b) Non Standar Ketika Diberikan Arus yang Sama

Selain meneliti mode penggunaan kabel seperti diatas, kami juga meneliti bagaimana kondisi kabel standar dan tidak standar yang banyak beredar dipasaran. Memang sangat sulit membedakan kedua jenis kabel ini. Salah satu parameter yang dapat digunakan untuk membedakannya yaitu dengan melihat identifikasi kabel yang tertera pada kulit terluar kabel. Kabel yang standar akan mencantumkan kode sebagai berikut : Tanda Pengenal Standar, Tanda Pengenal Produsen, Kode Pengenal Jenis Kabel, Jumlah Inti dan Luas Penampang, Tegangan Pengenal, dan Tanda Pengenal Badan Penguji. Misalnya : SPLN 42 [Produsen] NYM 2 x 25 mm2  300/500 <LMK>. Pada pengujian yang telah dilakukan, saat diberikan arus yang sama, kabel yang tidak standar memiliki KHA yang lebih kecil dibandingkan dengan kabel standar.

Dengan pengetahuan diatas, saya berharap bahwa masyarakat kita akan semakin cerdas dan mengetahui dengan benar penggunaan kabel listrik sesuai dengan kapasitasnya agar keselamatan tetap terjaga dengan baik.

Seoul, 12 Juni 2011, 4.23 PM

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: