You are reading..
Koreana

Andai Ciliwung Disulap jadi Sungai Han

Sebuah jembatan yang menyebrangi Sungai Han di malam hari. Foto : prlog.org

Seperti biasa, hari minggu adalah hari keluarga bagi kami. Saya tidak diperkenankan bekerja dihari tersebut. Sedikit saja menyentuh komputer sekalipun hanya untuk membaca berita di internet, Ghazy sudah pasti terus menggangu. Hari minggu yang lalu (05/06/2011), kami sekeluarga berjalan-jalan bersama dengan keluarga Yudi Rahmawan menuju pinggiran sungai Han di daerah Yoeuido. Mas Yudi adalah senior yang telah banyak membantu saya mengenal lebih banyak kehidupan di Korea. Kebetulan putra-putri kami juga seusia dengan putri-putra beliau sehingga mereka tampak akrab satu dengan lainnya. Teriknya matahari menemani perjalanan kami yang memakan waktu sekitar 1 jam itu. GPS yang telah diset dimasing-masing mobil kami sangat membantu mencapai tujuan, walaupun beberapa kali salah jalan juga.

Sebenarnya bagi saya bukan sekali ini melihat sungai Han, namun jika melihat sungai Han dari jarak dekat ini adalah kali pertama. Sungai Han adalah salah satu sungai terpanjang nomor empat di Korea Selatan setelah sungai Amnok, Duman dan Nakdong. Sungai yang memiliki panjang 514 km ini membagi dua kota Seoul hingga bermuara di Laut Kuning. Sungai ini memiliki nilai historis yang tinggi. Pada masa sejarah, sungai Han digunakan sebagai jalur perdagangan menuju China. Namun jalur tersebut kini tidak dapat digunakan kembali karena sungai tersebut mengalir pada perbatasan dua Korea bersaudara yang hingga saat ini dalam status gencatan senjata perang [1].

Melihat sungai Han, saya teringat akan perjalanan saya di Pulau Borneo, ketika menggunakan speed-boat selama 2 jam menelusuri sungai Mahakam pada tahun yang lalu. Dibandingkan dengan sungai Mahakam, Sungai Han cenderung lebih tenang arusnya. Oleh pemerintah Korea, sungai Han dijadikan salah satu sumber mata air bersih bagi warganya di Kota Seoul.

Chairian Family di Pinggir Sungai Han

Apa yang membuat berbeda dari Sungai Han adalah tata kelola yang menjadikan sungai Han menjadi objek wisata. Disepanjang sungai Han, fasilitas umum seperti track sepeda, fasilitas olahraga, tempat bermain anak, kafetaria, toilet dibangun dengan kenyamanannya. Tidak heran, pada akhir pekan banyak muda-mudi dan para keluarga yang berekreasi disekitar pinggiran sungai Han, melepas penat dan lelah setelah 5 hari bekerja. Wisata air seperti ski boat , kapal pesiar, dan “perahu bebek” dapat dengan mudah disewa. Ghazy sangat antusias untuk menaiki perahu bebek itu. Dengan 20 ribu won, kita dapat menyewa perahu yang digerakkan oleh tenaga baterai ini selama 40 menit.

Khayalan saya mulai muncul. Andai saja sungai Ciliwung yang mengalir membelah kota Jakarta disulap menjadi seperti sungai Han yang bersih dan penuh dengan fasilitas umum. Tentu, orang Jakarta tidak akan jauh-jauh pergi ke Bogor atau Bandung untuk bertamasya yang hanya akan menambah macet daerah tersebut saja. Tapi mungkinkah? Agaknya perlu kesadaran dari masyarakatnya dan juga keinginan kuat dari pemerintah yang sedang berkuasa. Apalagi dengan kebebasan pers dan demokratisasi yang kini membahana. Sedikit saja penggusuran disekitar daerah aliran sungai Ciliwung, akibatnya tidak akan terpilih kembali pada pilkada mendatang. Kok bisa?

Seoul, 10 Juni 2011, 12.45 AM.

Referensi : [1] Wikipedia : Han River (Korea)

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: