You are reading..
Nuclear Opinion, Nuclear Pros-Cons

Pembiayaan PLTN dan Perekonomian Nasional

Seperti biasa, tulisan dibawah ini saya sarikan dari milis IndoEnergy . Selamat Membaca.

Chairul Hudaya

Tanggapan saya berwarna biru

Kita ini punya uang dari mana? Bukankah salah satunya ekspor sumber energi? Kalau kita bisa cukup punya uang dengan tidak ekspor sumber energi, dan kemudian karena uangnya banyak lalu mau beli PLTN, buat saya itu tidak masalah.

Berawal dari pertanyaan “kita punya uang dari mana?” maka saya pikir ini termasuk dalam how to finance the NPP Project. Memang project NPP ini punya tantangan yang sangat besar dalam masalah pembiayaannya, karena memerluka large capital, long project schedule, butuh skilled human resources, dan butuh regulatory yang complex.

Nah yang dimaksud “kita” dalam pertanyaan bapak itu merefer kepada siapa? Kalau yang hanya membiayai pemerintah, 100% saya sepakat, tidak feasible pak. Maka harus dicari sumber pembiayaan yang lainnya. Dalam buku IAEA Nuclear Energy Series berjudul ” Milestone in the development of national infrastructure” dikenal ada 2 istilah : funding dan financing. Saya copy kan saja disini :

The initial funding for infrastructure development will likely need to come from government sources. Initial activities to understand the commitments involved in creating a nuclear programme and to begin development of the human expertise to manage and regulate nuclear facilities will be of prime importance to subsequent efforts to obtain financing for a nuclear power plant. Developing the confidence of the financial community requires the stable and continuing determination to competently manage the construction, licensing and safe operation of a nuclear power plant and associated facilities.

Financing for the first nuclear power plant can be pursued in a number of ways. Total financing and ownership by the government is an option if the nation’s overall economic situation provides the revenue that can be dedicated for this purpose. This approach is probably not feasible for some countries. Export financing is the most likely vehicle for a nuclear power project. However, export financing will still only cover a part of the overall investment. Local or foreign commercial financing will be needed for the balance of capital cost and the covering of interest during construction. A more likely approach is obtaining private financing backed by specific government guarantees. Completely private funding by a consortium of partners seeking a return on their investment through guaranteed sales of the energy from the nuclear power plant may be possible.

Credit worthiness is the first order of consideration for obtaining any project financing. Economic policy, debt management and legal risk sharing mechanisms are all important in this regard.

Lebih lengkapnya bapak bisa baca dalam link tersebut diatas. Saya pikir Indonesia juga akan mengikuti milestone tersebut jika mengimplementasikan PLTN. Khusus untuk PLTN kita, IMHO, pilihan yang paling mungkin adalah scheme consortium, karena bisa mendapatkan sumber dana dari berbagai sumber dan sekaligus akan memperkecil risk yang akan dishare oleh owner/operator, investor, plant supplier, main/sub contractor dan pemerintah (in case of threat to supply security).

Saya tidak pernah bicara bbn lebih mahal dari batu bara. Justru saya memisalkan kalaulah PLTU itu lebih mahal dari PLTN, tetap saja saya pilih PLTU karena uang untuk beli batu bara itu berputar di dalam negeri. Itu yang saya maksud harus mengikutkan juga ahli sosiologi dan ekonomi setelah misalnya perhitungan biaya PLTN vs PLTU selesai dilakukan.

Saya menanggapi Mahal itu khan karena kita tidak punya cukup uang. Jadi kalaulah kita bisa tidak ekspor sumber energi dan punya banyak uang, maka tinggal dipilih pembangkit mana yang lebih menguntungkan. Dan tetap harus diingat bahwa yang menguntungkan itu adalah yang mengakibatkan berputarnya uang yang besar di dalam negeri bukannya larinya uang ke luar negeri.

Wah bagus pak kita dapat wacana baru lagi, perputaran uang dalam negeri. Sayangnya saya tidak tahu banyak tentang ekonomi, jadi kurang paham tentang hal ini. Pernyataan bapak tersebut mengundang saya untuk bertanya, seberapa besar sih uang yang akan dilarikan ke luar negeri kalau kita punya PLTN yang direncanakan menyumbang listrik 2 % saja pada tahun 2025? Lalu seberapa besar rugi/untung nya pada peekonomian Indonesia? Apa pengaruh PLTN bagi tumbuh berkembangnya industri-industri pendukung PLTN di Indonesia? Bagaimana dengan community development masyarakat sekitar? Berapa ratus atau bahkan ribu pegawai yang bisa direkrut dengan berdirinya 4 Unit PLTN plus industri-industri pendukungnya? Apa manfaat bagi institusi pendidikan dan research center yang ada di tanah air? dst dst. Bukankah dengan rencana penggunaan 40 % komponen dalam negeri (diskusi dimilis sebelah) menunjukkan bahwa uang juga diputar didalam negeri? Ini baru first construction loh pak..

Khusus untuk pembelian bahan bakar dari luar, kalau memakai logika sebagai orang awan saja, misalkan saja jepang punya batubara yang lebih murah dari pada Indonesia (including transport dll hingga sampai ke plant) dan punya persediaan cukup dimana kita sudah long-term contract dengannya, saya prefer beli dari jepang dibandingkan harus menggunakan batubara sendiri yang lebih mahal. Rakyat untung, karena listriknya tercukupi, ekonomi jalan. Dari logika awam tersebut, menguntungkan itu tidak selamanya uang harus berputar didalam negeri. Sama halnya dengan usaha pemerintah dalam memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri dengan mengimpor dari luar, juga kebutuhan-kebutuhan lainnya (jika kita hanya menitikkan pada berputarnya uang ke luar negeri, tidak pada aspek lainnya). Kecuali, kita masih bermimpi kita kaya energi.

Mangga ditambahkan oleh anggota yang lainnya, atau dikoreksi jika ada yang salah.

Salam,

Chairul Hudaya
http://www.nuklir.info


Andryansyah Rivai

Konsorsium? Bukannya nanti sebelum PLTN mulai  dibangun sudah minta dibuatkan aturan bahwa harga jual listrik akan naik otomatis setelah waktu tertentu seperti kasus  jalan tol? Kalau tidak, saya kok malah ragu, apa benar Medco mau bukannya karena lebih menguntungkan dari usaha energi lainnya?

Soal perputaran uang dalam negeri itu, saya melihat pak Chairul salah memandangnya dan itu terlihat dari contoh dan penjelasannya. Kalaulah dengan adanya PLTN justru akan memacu perekonomian,  buat saya dengan banyak PLTU tentu akan lebih memacu lagi perekonomian. Dari diskusi sebelumnya saya membaca biaya awal (pembangunan) PLTU lebih murah (?) tapi ongkos pembangkitannya (bahan bakar) lebih mahal dan sebaliknya dengan PLTN. Itu artinya dengan dipakainya batubara akan meningkatkan perputaran uang dalam negeri karena negeri ini punya sendiri.

Kalau dikatakan dengan ada PLTN akan lebih meningkatkan kegiatan dalam negeri, pertanyaan saya, mana yang lebih padat karya, PLTU atau PLTN? PLTN setahu saya lebih menuntut teknologi yang tinggi, dan nyatanya untuk mengejar teknologi dalam arti kemampuan industri dalam negeri dalam menggunakan teknologi untuk memasok kebutuhan dalam negeri untuk PLTU saja ngos-ngosan alias tidak sanggup, lalu apa benar bisa memasok kebutuhan perawatan PLTN?

Penjelasan pak Chairul tentang pembelian bahan bakar dari luar, buat saya salah. Kita ini punya sumber energi banyak dan kemudian beberpa diekspor, dan kemudian kita beli sumeber energi dari luar yang teknologi untuk menggunakan energi yang kita impor itu sangat mahal harganya, LOGIKA apa yang dipakai? Kalau kita punya PLTU dan kemudian karena harga batubara di luar murah (kita  punya uang banyak), tentu akan masuk akal  bila kita impor saja dan cadangan batubara yang ada disisakan untuk keturunan kita.

Salam,

andry


Chairul Hudaya

Tanggapan saya berwarna biru.

——–

Konsorsium? Bukannya nanti sebelum PLTN mulai  dibangun sudah minta dibuatkan aturan bahwa harga jual listrik akan naik otomatis setelah waktu tertentu seperti kasus  jalan tol? Kalau tidak, saya kok malah ragu, apa benar Medco mau bukannya karena lebih menguntungkan dari usaha energi lainnya?

Hehe.. jangan duga menduga (suuzon) dulu ah pak andry ..apalagi yang tidak pasti.. Kalau Medco tidak tertarik dengan melihat bisnis ini kedepan, tidak mungkin membentuk divisi bisnis nuclear development🙂

Soal perputaran uang dalam negeri itu, saya melihat pak Chairul salah memandangnya dan itu terlihat dari contoh dan penjelasannya. Kalaulah dengan adanya PLTN justru akan memacu perekonomian,  buat saya dengan banyak PLTU tentu akan lebih memacu lagi perekonomian. Dari diskusi sebelumnya saya membaca biaya awal (pembangunan) PLTU lebih murah (?) tapi ongkos pembangkitannya (bahan bakar) lebih mahal dan sebaliknya dengan PLTN. Itu artinya dengan dipakainya batubara akan meningkatkan perputaran uang dalam negeri karena negeri ini punya sendiri.

Kalau dikatakan dengan ada PLTN akan lebih meningkatkan kegiatan dalam negeri, pertanyaan saya, mana yang lebih padat karya, PLTU atau PLTN? PLTN setahu saya lebih menuntut teknologi yang tinggi, dan nyatanya untuk mengejar teknologi dalam arti kemampuan industri dalam negeri dalam menggunakan teknologi untuk memasok kebutuhan dalam negeri untuk PLTU saja ngos-ngosan alias tidak sanggup, lalu apa benar bisa memasok kebutuhan perawatan PLTN?

Bener kan, masih mimpi kaya energi (batubara) yang lama kelamaan juga akan habis. Membakar batu bara, memang lebih enak, cepat dan murah menghasilkan listrik. Itu saja masih banyak kendala yang dihadapi, salah satunya jaminan suplay bahan bakar dalam negeri. Plus, apalagi kalau cuaca buruk sehingga suplay bahan bakar akan terganggu bisa shutdown PLTU, sementara PLTN baru masukkan bahan-bakar baru lagi setelah 18-24 bulan.

Perawatan PLTN? Ya jelas dong pak bisa. Ilmunya harus kita dapatkan, bahkan dinegara-negara lain, ada perusahaan khusus yang menangani maintenance PLTN, nah ini kesempatan yg baik buat anak bangsa berkiprah dalam bidang itu. Hanya, yang perlu dingat, semua itu step-by-step pak, tidak bisa sim salabim abrah-kadabrah.

Penjelasan pak Chairul tentang pembelian bahan bakar dari luar, buat saya salah. Kita ini punya sumber energi banyak dan kemudian beberpa diekspor, dan kemudian kita beli sumeber energi dari luar yang teknologi untuk menggunakan energi yang kita impor itu sangat mahal harganya, LOGIKA apa yang dipakai? Kalau kita punya PLTU dan kemudian karena harga batubara di luar murah (kita  punya uang banyak), tentu akan masuk akal  bila kita impor saja dan cadangan batubara yang ada disisakan untuk keturunan kita.

Hehe kok kesannya seperti tukar guling begitu ya pak, uang hasil ekspor dipakai untuk beli BBN. Memang uang ekspor batubara+migas itukah yang dipakai? Uang hasil export batubara bukannya punya rakyat ya pak (pendapatan negara). Trus gunanya apa konsorsium? BBN dibeli dari uang hasil penjualan listrik ke consumer, sembari owner nyicil ke investor, nabung buat decommisioning, nyiapin duit buat beli BBN lagi, bayar upah pekerja, ngasih buat comdev atau yg minta sumbangan dll. Begitu lo pak..

Diskusinya sambil menyeruput kopi nih pak asik.. apalagi pas winter sekarang ini..

Salam

Chairul Hudaya
http://www.nuklir.info


Ekki Kurniawan

Salam Nuclear for peace!

Mas Andri mau mendirikan PLTU…monggo!

Kang Chaerul mau membuat PLTN…mangga!

Semuangya saya dukung, asal untuk kesejahteraan rakyat.

Berlomba-lombalah dalam kebaikan..

Wasalam.


Soedardjo

Menurut saya pribadi, beliau berdua karena mumpuni pada bidang ilmunya.
Pak Andry bekerja di BATAN, sehingga tahu permasalahn PLTN, untung ruginya saat ini. Entah apakah PLTN nantinya menguntungkan?. Bagi orang lain, akan lucu bahwa orang BATAN kok kelihatannya tidak mendukung PLTN (yang maksudnya, apakah kita, industri, biaya, hukum, politik dll di luar PLTN saat ini sudah dapat mendukung untuk keberadaan PLTN saat ini?). Jika belum, bagaimana jika PLTN kita saat ini MOGOK, misal terjadi station blackout?. Bagaimana jaringan JAMALI KITA? sudah sempurnakaH. Jika belum malahan nanti PLTN-nya asering padam (shutdown) karena adanya GONCANGAN jaringan JAMALI yang masih amburadul, apalagi jika di link dengan luar JAMALI.

Pak Chairul Hudaya memang ahlinya Teknik Listrik, jadi hal ini harus dibahas, dan lucunya menurut saya pak Chairul sebaiknya memikirkan jaringan listriknya, baik itu dari PLTU, PLTG, PLTA dll dulu, baru nanti insya Alloh dengan PLTN-nya. Syukur-syukur membahas energi listrik untuk jaringan internet, apakah bisa nyetrum tidak?

Wassalam soedardjo


Chairul Hudaya

Wualah Pak De, Saya mah dibilang ahli masih jauuhh, hanya ingin sharing saja.
Kalau saya melihat, diskusi di milis tercinta ini, kita tidak bawa institusi pak, kecuali jelas dinyatakan oleh ybs. Setahu saya, secara institusi BATAN sangat mendukung program NPP Development ini. Jadi harus bisa memisahkan antara pak Andry dan Pak Dardjo yang pegawai BATAN dengan pribadi masing-masing. Pak De sudah baca berita tentang kasus pegawai Bahana Sekuritas itu kan? Nah kasusnya sama dengan model itu lah hehe


Soedardjo

Besar Pasak daripada tiang, kita sudah banyak utang.
Mari kita dukung Program Pemerintah, Dispeindag, Menristek dll, yaitu cinta produk dalam negeri, jangan sampai apa-apa import, uranium, PLTN dan lain-lain.
http://www.disperindag.sidoarjokab.go.id/?content=07_c_prioritaskebijakan_p3dn.htm
http://www.ristek.go.id/index.php?mod=News&conf=v&id=1286

Contohlah India yang swadesi. Dengan kemandirian India, maka tidak dapat dipermainkan oleh Amerika dan konco-konconya. India rakyatnya banyak seperti Indonesia. Penelitian maju, karena biaya penelitian didukung pemerintah secara total, sehingga biaya kehidupan rakyatnya terabaikan, banyak yang melarat. Ini konsekuensi ingin mandiri di bidang PLTN di negara India dan Pakistan.

Sepengamatan saya di pelabuhan Yokohama tahun 1990-an, Jepang mengimport Batubara, LPG/LNG dari Indonesia, karena tambang batubara dan Gas LNG/LPG Jepang tidak begitu banyak. Uranium dan plutoniumpun Jepang beli dari Perancis. Informasi ini saya peroleh saat saya mengunjungi La Hage di Perancis tahun 1985-an, saat saya mengamati cara vitrivikasi, TBP, Kerosen, untuk penyimpanan dan pengolahan limbah PLTN, yang akan dikapalkan ke Jepang atau ditanam di penyimpanan limbah lestari.

Jadi suatu projek jangka panjang, sebaiknya kita swadesi. Agar kita (bangsa Indonesia) nantinya tidak selalu ketergantungan kepada negara asing, lalu didekte, termasuk pembagian hasil dari keluaran PLTN. Dan akhirnya kita yang dirugikan, dengan contoh beberapa MOU yang berkepanjangan dari sumber-sumber penambangan kita saat ini, dan kita tidak dapat memberhentiakn MOU tersebut di tengah jalan yang kenyataannya merugikan kita tersebut.

Tidak ada proyek PLTN yang swadesi kecuali India dan Pakistan (mohon dikoreksi). Dikarenakan, mereka mempunyai tujuan konflik perang nuklir dan menjaga prestasi dan prestise bangsa mereka. Hanya akhir-akhir ini, India ada kerjasama dengan asing, namun tetap bersikukuh tidak mau didekte oleh negara asing. Pakistanpun juga demikian, demi kelanjutan program PLTN dan senjata nuklir mereka. Perancispun menggunakan proyek gabungan, konsorsium dengara-negara Eropa untuk masalah PLTN, dari hulu ke hilir.

Wassalam, soedardjo


Andryansyah Rivai

Pak Ekki,

Kalau ada pembangkit listrik yang bisa memenuhi beban dasar dan sumber energinya tersedia dalam negeri, saya akan pilih itu walau agak mahal dari PLTU. Maksud saya supaya kita ngirit batu bara.

Beberapa  kebijakan pemerintah yang didukung dengan kata demi kesejahteraan rakyat, nyatanya bagaimana? Itulah sebabnya perlu diskusi terbuka yang diikuti para ahli di bidangnya supaya kata keramat itu terpenuhi sebelum  kebijakan diambil. Tapi saya melihat pemerintah belum terbuka soal PLTN ini, maksud saya membuka diskusi panjang yang diikuti para ahli di bidangnya masing-masing yang peduli pada bangsanya, dan saya menjadi salah satu penggembiranya.

Semoga negeri ini bisa menjadi lebih baik.

Wassalam,

andry


Soedardjo

PLTN memerlukan teknologi tinggi, maka biasanya dilakukan konsorsium antar negara, kecuali India dan pakistan.

Jika yang dimaksud padat karya adalah menggunakan dengkul, maka benar PLTU adalah padat karya. Tetapi jika menggunakan otak, dan mohon maaf, di Indonesia saat ini masih banyak yang menggunakan dengkul, otot , okol dari pada otak dan akal, maka PLTN juga dapat dibuat padat karya. maksud saya, dengan adanya PLTN, DIHARAPKAN dapat memacu teknologi Metalurgi, Elektronik, IT dan sebagainya. Karena PLTN menjurus ke Inherently safe (ty), maka peranan manusia sedikit, sudah percaya ke sistem pakar (database kecelakaan, kejadian PLTN terdahulu), sehingga peranan operator menggeser peranan Supervisor dan peranan supervisor diganti oleh sistem IT yang canggih dan otomatis.

Apapun juga, saya lebih senang, mulai sekarang, kita memacu dan memicu diri, peningkatkan penelitian, manufakturing, dibidang komponen yang dibutuhkan PLTN, sambil membenahi SDM Indonesia, agar layak jika saatnya kita nanti punya PLTN, dari segi apapaun, budaya keselamatan, keamanan, jauhkan korupsi (yang korupsi dihukum dengan penyinaran radiasi yang tinggi) dll…de el el……

Wassalam soedardjo


Iwan Kurniawan

Pak Chairul,

Pemikiran Pak Chairul, fosil akan habis dipakai dan diekspor. Batubara tidak bisa diharapkan. Apakah Uranium tidak akan habis juga ? Berapa lama cadangan uranium kita akan habis dipakai PLTN 4000 MW. Cadangan uranium dunia layak ditambang 4.743.000 Ton(Data 2005), pemakaian tahun 2008 sebesar 64.615 Ton, jadi untuk pemakaian konstan  73 tahun juga akan habis dipakai. Jumlah PLTN akan bertambah berarti semakin cepat uranium habis.

Indonesia akan jadi importir Uranium, kemandirian energi diserahkan kepada negara lain, kena embargo PLTN pasti tidak beroperasi, lah kita tidak punya cadangan uranium. Mau enrichment Uranium sendiri, pasti akan jadi mahal tuh listrik PLTN, tidak lagi 5-6 sen USD/KWh. Belum lagi dicurigai mau mengembangkan Bom nuklir, plus tuduhan di Indonesia banyak teroris, apa tidak semakin susah kalau punya PLTN.

Mas Andri dan Pak Soedardjo teman saya di PPBGN maaf kalau salah ya. Apa jaman demokrasi sudah memungkin tidak mendukung PLTN untuk karyawan Batan.

Salam,

Iwan Kurniawan


Chairul Hudaya

Terima kasih Pak Iwan atas tanggapannya.

Bukan tidak bisa diharapkan pak, tetapi batubara perlu dibantu dengan penggunaan energi lainnya, termasuk diantaranya pleh energi nuklir, agar ia bisa lebih hemat lagi digunakan untuk masa yang akan datang. Karena bapak menggunakan cadangan terbukti uranium dunia, maka berdasarkan Kepala Bidang Informasi Pusat Sumber Daya Geologi Badan Geologi, Calvin KK Gurusinga, cadangan batubara terbukti Indonesia mencapai 5,3 miliar ton. Jika tingkat produksi batubara nasional mencapai 200 juta ton per tahun, maka cadangan batubara terbukti akan habis dalam 26,5 tahun. Nah ini yang menurut saya perlu dibantu. Makanya kita perlu diversifikasi energi. Dan sekali lagi perlu digarisbawahi supaya diskusinya tidak diulang-ulang lagi, energi nuklir tidak dimaksudkan untuk menggantikan PLTU, apalagi energi terbarukan.

Saya sepakat sekali agar kita punya kemandirian energi (ini bagian dari nasionalisme juga). Namun, hingga saat ini dan sampai kapanpun, saya percaya bahwa  hidup bernegara itu tidak bisa lepas dari bantuan negara lain. Apa salahnya kita beli BBN dari luar kemudian kita pergunakan bagi kepentingan dalam negeri? Kekhawatiran embargo, teroris, bom nuklir bagi saya terlalu berlebihan. Rencana penggunaan 40% komponen PLTN berasal dari dalam negeri, saya nilai sebagai cara untuk memberdayakan industri lokal. Padahal ini PLTN yang pertama. Bagaimana dengan PLTN yang kedua dst?

Terkait dengan nasionalisme, saya terharu dengan senior saya yang ahli safety dan kini berkarya di Industri Pupuk tanah air. Ia berujar kepada saya, tak perlu dibayar pun dia mau untuk berpartisipasi dalam pengembangan NPP di Indonesia, hanya untuk menunjukkan bahwa SDM Indonesia adalah tangguh dan bisa mandiri. Pun begitu dengan saya.

Dan, kita pasti BISA!!! Impossible is nothing!!.

Salam,

Chairul Hudaya
http://www.nuklir.info


Soedardjo

Yth. pak Iwan,
Di Batan bukan lagi jaman kera seperti dahulu, sehingga diperbolehkan pro maupun anti PLTN, semuanya ditanggung oleh pribadi masing-masing, asal argumentasinya masih dalam koridor ilmiah. Selamat berjumpa lagi, dan tetap konsisten dengan ilmu nuklir pak Iwan, untuk menyeimbangkan opini, sehingga PLTN adalah sebuah kendaraan, yang harus ada gasnya, sekaligus harus ada rem-nya.

Wassalam soedardjo


Soedardjo

Ini tanggapan dari Prof. Dr. Pramudita Anggraita. Jika ingin penjelasan dari beliau, silahkan kirim japri ke beliau: pramudita2002@hotmail.com
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
<!–
document.write( ‘</’ );
document.write( ‘span>’ );
//–>

Dengan teknologi PLTN yang sekarang dipakai, baru 1% energi yang terkandung dalam uranium dapat diambil. Artinya jika teknologinya dikembangkan cadangan uranium yang ada akan cukup untuk 7300 tahun, atau kurang jika penggunaan energi juga meningkat.


Djoko Mulyanto

Yakin nih Mas bahwa PLTN juga untuk kebaikan? Siapa yang berani jamin bahwa PLTN nantinya ini ternyata malah untuk keburukan

Buktinya apa? he he


Soedardjo

Maaf tanpa Koreksi Ketik

Karena yang dibicarakan adalah PLTN, maka kita singkirkan dahulu masalah senjata nuklir, walau limbah PLTN dapat digunakan juga untuk senjata nuklir, bom nuklir dll. Kita singkirkan dulu masalah instalasi nuklir yang non PLTN. Sebab Instalasi nuklir, dapat termasuk instalasi pendukung nuklir, misalnya manufacture logam untuk PLTN, baik dari sisi Nuclear Islan, BOP maupun struktur bangunan untuk PLTN / Reaktor. Instalasi Nuklir, dapat berupa Reaktor Non Komersial, dan reaktor Komersial (PLTN). Terkadang dipisahkana menjadi reaktor penelitian (Non PLTN) dan Reaktor Daya (PLTN). Ada juga Instalasi nuklir untuk masalah obat, pangan, industri radiografi dan lain-lain.

Mari bicara masalah khusus PLTN.

PLTN jelas ada keburukannya, jika kita lihat korban-korban akibat kecelakaan PLTN  yang dapat di googling.

Secara pribadi selama di Perancis, Perbatasan Jerman, Belgia, Belanda (Eropa lainnya), Pakistan, Jepang, banyak sekali segi positif dari PLTN. Misal listrik jarang padam, alamnya hijau, segar, jarang ada debu dan alamnya bersih. Industri non PLTN maju, seperti industri logam, transportasi dll. Dengan adanya PLTN, memaksa diri kita dipicu dan dipacu untuk memajukan iptek kita, teknologi kita. selain itu kita diharuskan mendalami masing-masing agama kita (segi relegius), untuk menggali ilmu-ilmu Alloh yang tersirat di dalam Al Qur’an). saya peroleh inspirasi tersebut, saat saya mengunjungi Pakistan 5 November 1985 di Chasma Nuclear Power Project di Islamabad, Karachi dan sekitarnya di Pakistan. Setiap gedung PLTN di Pakistan, selalu tertulis huruf Al Qur’an (bukan huruf urdhu) yang intinya adalah, setiap terjadi kecelakaan, itu sumbernya dari tingkah polah manusia (manusialah yang mengubah dari kondisi aman selamat menjadi tidak aman dan tidak selamat)  tetapi setiap terjadi kebahagiaan tau kesejahteraan itu sumbernya dari Alloh.  Mungkin ini mendekati QS 8: 53.

Juga masalah, walau sekecil zarah keburukan kita akan dibalas dengan sekecil zarah keburukan, demikian juga sekecil zarah kebaikan, akan dibalas dengan sekecil zarah (atom) pula, QS 99:7.

Berati PLTN-pun dapat digunakan dalam kebaikan untuk mendalami masalah religius.

Wassalam soedardjo, maaf adzan ashar telah memanggil (15:04 WIB)

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: