You are reading..
Nuclear Pros-Cons

Opsi Nuklir Semakin Gencar

Ini saya rangkumkan diskusi seputar PLTN di Milis IndoEnergy. Selamat membaca.


Budi Sudarsono

Para anggota ML Indoenergy Yth.,
Berikut kutipan berita dari New York Times, silahkan simak.
Nuclear Power May Be in Early Stages of a Revival

By MATTHEW L. WALD

Published: October 23, 2008

Reference : http://www.nytimes.com


Dadi Maspanger

Bos,

mau tanya neh, jawabnya may be udah ada, cuma saya saja yang belum tahu…….Itu lho, kalao PLTN jadi di Indonesia, kenapa letaknya di Muria, … P Jawa…padat penduduk…..resiko radiasi…. Kenapa gak dilokasi yang jarang penduduknya, misal di NTT atau Irian. Apa karena pertimbangan kedekatan dengan jaringan listrik Jawa-Bali. Apa karena kalo dibangun di Irian, lalu mahaaal kabel transmisi bawah lautnya….

Tx, rgds,

dadi


Fernandus Satria

Bos,
pertanyaan anda sebenernya sih sdh anda jawab sendiri….. dan simple aja kenapa ditaruh di pulau jawa… ya karena pulau jawa bali yang konsumsi listriknya paling gede (angka pastinya coba cek ke PLN…) dan memang betul juga kalo misalkan dipasang di Irian atau NTT maka jelaslah bukan cuma kabel transmisinya mahal, juga rugi transmisinya makin besar….

Rgds,

FSN


Suryo Utomo

Klo saya mau tanya,

Kenapa sih Pemerintah (Indonesia) getol banget mau pake PLTN, emang gak mikirin gimana cara mendapatkan bahan bakarnya? kalo gak salah di Indonesia sumber uranium yang resmi tercatat cuma di kalimantan itupun cuma untuk beberapa tahun. trus klo uraniumnya abis mau impor? bahaya tuh klo harus impor uranium, nanti tergantung lagi sama asing, kapan mandirinya?


Dadi Maspanger

Waaah bener juga tuh boz, sebelumnya saya kurang ngeh dgn  uranium atau plutonium (?). Ini ada sedikit uneg2 dengan versi PLTN masih ok.

Sebenarnya ada yang masih ngganjel khusus terkait sumber energi untuk pembangkit tenaga listrik , moga rekan2 yang kompeten bisa ngasih pencerahan. Begini…..  :

(1)  Pembakaran babatubara, gas, minyak, biomasa, itu kan mengorbankan peluang konversinya  menjadi produk yang bernilai ekonomis tinggi, misal secara pirolisis, polimerisasi, atau fraksionasi, dll. Sebagai contoh kayu hutan selama ini dijadikan kayu lapis, atau furniture, karena rugi kalau dibakar. Industri petrokimia di Gresik hanya contoh kecil dari pemanfaatan minyak bumi, belum begitu optimal sesuai dgn potensinya. Dengan alasan gampang sekalai membakar fuel berbasis fosil, timbul panas, diubah jadi steam, lalu berputarlah turbin dan generator…jadilah listrik. Batubara dipirolisis/cracking , atau polimerisasi gas C1-C4 ?? waah mahal bro teknologinya, lebih baik jual mentah saja, dapat duit banyak, begitu celoteh para ahli. Riset-riset skala lab, dengan glassware atau reaktor keciiil memang sudah ada, tapi please bikinlah yang sudah prototipe/miniatur, bukan untuk produksi, tapi untuk mempelajari permasalah engineering kalau nanti di scale-up ke skala komersial. Saya belum tahu, apakah bb/gas yang kita ekspor ke negara lain itu, lalu di negara itu tidak seluruhnya untuk tenaga listrik, tapi sebagian dimanfaatkan untuk dikonversi menjadi sesuatu produk?

(2)  PLTN/PLTA/panas bumi/energi angin/matahari, tidak mengorbankan materi sebagaimana  (1) di atas. Jadi, lebih baik itu2 saja yang terus digenjot. Pada kondisi debit air kurang, matahari redup terus, anginnya sepoy2, alasan counstruction cost, dll, maka PLTN kembali dilirik…… Inilah sebenarnya inti uneg2 saya…..kenapa harus dibangun di Jawa, kenapa gak di Pulau-pulau lain…. Anggaplah tidak lagi ada masalah rongrongan para oposan…. Karena daerahnya relatif masih belum banyak penduduk, dan lagipula bukankah teknologi PLTN sekarang sudah canggih dalam hal safety nya.

(3) Kalau di Jawa terus2an dimanja dengan supply tenaga listrik, yaaah akhirnya everything akan terkonsentrasi di Jawa, terutama sektor industri yang banyak nyedot listrik itu. Meneer2 londo mengembangkan sawah dan perkebunan itu di Jawa, karena secara fisiologi tanah P Jawa ini katanya paling subur dibandingkan pulau-pulau lain. So, lebih baik P Jawa ini untuk pertanian, industri biarkan tumbuh pesat di pulau lain.

(4) Setahu saya di Medan sudah ada kawasan industri, lalu di Kaltim, juga di Kalbar, di perbatasan dengan Serawak sudah disediakan lahan yang luas untuk industri, tapi masih melompong. Nanti bagaimana pengadaan energi listriknya. Kalau PLTA nya mlempem, apakah lagi-lagi harus dengan bakar2an batubara/gas/BBM?

Begithoe, hatur nuhun, monggooo diberikan pencerahan……

rgds,

dadi


Suryo Utomo

Setahu saya batubara gak bisa dikonversi jadi produk lain kecuali untuk dibakar, trus ngapain mesti dipirolisis/cracking atau polimerisasi gas C1-C4, langsung aja dibakar di PLTU di dalem negeri, jangan dijual apalagi ke luar negeri, ada yang bilang PLTU batubara bikin emisi karbon, NOx, SOx.,dll.. jadi dijual aja ke luar negeri…ke Cina….nah  akhirnya batubara dibakar di Cina, emang Cina ada di planet lain? mau dibakar dimana aja selama masih di bumi ya sami mawon (“global” warming), mending dibakar sendiri di dalem negeri..

Energi lain masih banyak om, masih ada biofuel, salah satunya biodiesel buat gantiin bbm bisa dipake di PLTD atau di oil fired PLTU, dari tanaman yang banyak tersedia Indonesia bisa dari kelapa sawit, jarak pagar, kelapa, jagung, kapuk, karet, kusambi, nyamplung, masih banyak deh…atau kalo mau yang lebih advance dari algae, terbarukan gak bikin ketergantungan sama negara lain.

trus saya mau tanya lagi nih,

kenapa Swedia, Jerman, Belgia mau menutup seluruh PLTN-nya sebelum tahun 2030? ada yang tahu jawabannya?

terima kasih,


Budi Sudarsono

Rekans Anggota ML Indoenergy Yth.,

Tampaknya Sdr. Suryo Utomo tidak mengikuti berita internasional secara saksama.
Benar bahwa Swedia dan Jerman menerbitkan undang-undang yang mengikrarkan akan menghentikan operasi PLTNnya  Aneh, bukan ? Rakyatnya begitu canggih pengetahuannya tetapi para politisinya mengeluarkan keputusan yang jangal. Itu dahulu.

Sekarang, setelah lebih dari 22 tahun kejadian Chernobyl, perkembangan sudah berubah. Namun para politisinya belum juga mengambil keputusan yang membatalkan undang-undang yang dibuatnya sendiri. Malu.

Percaya atau tidak, masyarakat kedua negara tersebut kini sudah dapat menerima kehadiran PLTN, bahkan mendukung diteruskannya operasi PLTN. Ini baru poll pendapat umum. Kanselir Jerman sudah menyatakan bahwa Jerman mesti mengubah sikapnya terhadap energi nuklir. Swedia akan bekerjasama dengan Rusia untuk mengembangkan teknologi nuklir.

Seorang politisi Eropa sudah berucap bahwa negaranya akan membangun PLTN lagi. Tidak kurang dari Menteri Pembangunan Ekonomi Italia. Dikatakannya bahwa keputusan negaranya pada tahun 1987, satu tahun sesudah peristiwa Chernobyl, untuk menghentikan operasi semua PLTN Italia adalah suatu keputusan yang mengakibatkan kerugian sebesar 50 milyar euro, setara 60 milyar dollar lebih.

Benar, opsi nuklir semakin diminati, karena aman, bersih, andal, dan dalam jangka panjang lebih murah ketimbang yang lain.

PS Batubara dapat digunakan sebagai bahan baku industri dengan nilai tambah yang lebih tinggi ketimbang hanya dibakar dalam PLTU. Tanyakan pada ahli tehnik kimia

Budi Sudarsono
Ketua, Masyarakat Peduli Energi dan Lingkungan (MPEL); Sekretariat Tel. 62-021 75906564 ; Blog: http://feea3.blogspot.com/,
Anggota, Komisi Ahli Tenaga Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional.

Website pribadi: http://www.geocities.com/budi_sudarsono/index.html


Dadi Maspanger

Dear bos2,

Utilisasi batubara baik secara pirolisis, gasifikasi atau likuifaksi sebenarnya pernah berkembang cukup pesat dulu sebelum datang era gas/minyak . Melalaui pirolisis, dapat dihasilkan cairan dan gas-gas aromatik dan alipatik sebagai bahan baku industri. Dihasilkan pula pure carbon, bisa untuk bahan bakar bersih atau keperluan lain. Jerman pada saat PD I menguasai betul proses-proses tersebut, Dengan reaktor yang sangat terkenal yang bernama Lurgi, melakukan gasifikasi, juga pencairan batubara menghasilkan bahan-bahan bakar untuk mesin-mesin perangnya. So, dalam angan2 saya, pada saat gas/minyak harganya melambung seperti saat ini, selain diekspor, sebagian batubara kita konversi menjadi produk yang memberikan nilai tambah yang lebih tinggi.

Tentang polimerisasi, industri petrokimia adalah contoh industri yang didalam aktivitasnya banyak melakukan proses tersebut untuk mensintesa  produk kimianya. Contoh lain, ada produk karet SBR (stirene butadiene rubber, bahan baku ban mobil), karet NBR (nitrile-butadiene rubber, tahan minyak), EPDM (ethylene-prophylene, tahan panas), adalah contoh lain hasil polimerisasi gas2 fraksi ringan. Kita masih perlu mengimpor, kecuali SBR sudah ada indutrinya di daerah Serang-Banten. Setahu saya, harga karet SBR sekitar 3 USD/kg, EPDM jauh lebih mahal, sekitar 10 USD/kg Bukankah itu lebih mahal dibanding 1 kg gas. Memang tidak bisa dibandingkan begitu saja, karena tergantung ongkos produksinya. Tapi sudah cukup memberi gambaran adanya peningkatan nilai tambah. So, gas kita ekspor atau kita bakar,  sebagian lagi kita gunakan untuk dikonversi menjadi produk lain.

Tentang bahan bakar non fosil, yang bersifat renewable seperti minyak sawit, minyak kedele, biji kapas, jagung, perlu didukung oleh setumpuk kebijakan pemerintah, karena posisinya yang saling tarik menarik antara fuel dan food. Minyak jarakpun saat ini juga digunakan sebagai drying oil untuk cat. Minyak2 nabati itu karena kurang volatile, maka tidak bisa sepenuhnya menggantikan solar/bensin (tolong dikoreksi),  Minyak jarak, karena bukan untuk food, memiliki posisi yang lebih baik, tapi karena masih “perawan”, banyak faktor agronomi yang perlu diteliti agar tahan penyakit dan produktivitasnya tinggi. Gimanapun juga semuanya perlu dikembangkan, karena gas/minyak suatu saat akan habis, sementara kita memiliki keunggulan agragris dibanding negara lain.

Tentang PLTN, saya dlm posisi still confuse, di Jawa atau di luar Jawa, seiring dengan pemikiran industri itu mau terus digenjot di kota2 diJawa dengan resiko makin sesak dan pengap.  Lalu bagaimana sumber bahan baku PLTN, seberapa banyak sih cadangannya di Indonesia, atau harus diimpor…..yaaah payeh atuh….pantesan PLTN mahal.

Thanks, salam……..


Nengah Sudja

Yth Para Anggota ML Indoenergy,

Pada kampanye pemilihan calon presiden Amerika Serikat, Mr. Obama  cenderung tidak memberi pilihan nuclear sedangkan Mr. McCain merencanakan pembangunan 45 units pltn dengan anggaran 315 milyar $, jadi dengan perkiraan biaya 7 milyar $ per unit. Tidak disebutkan besar daya terpasang per unit. Bila diasumsi besaran daya terpasang 1000 sampai 1600 MW, maka perkiraan biayanya 4375 sampai  7 000 $ per kW.

Mengenai opsi pltn di AS, silahkan baca artikel ( 11 Sept , sebelum terjadi krisis Keuangan)  berikut

McCain Nuclear Energy Revival May Cost $315 Billion (Update1)

By Elliot Blair Smith

Reference : http://www.bloomberg.com/apps/news?pid=20601109&refer=home&sid=a68a7ruN.hy8

Menurut posting P Budi S. dibawah tertulis : Joseph J. Romm, an official in the Energy Department during the Clinton administration, pointed to a recent estimate by Florida Power & Light that a new reactor could cost a steep $8,000 for each kilowatt of capacity.

Dengan biaya pembangunan pltn  4 375 …. 7 000  atau …. 8 000 $ per kW, aspek kelayakan ekonomi  pltn, mahal  tetap merupakan masalah utama! ( Studi PLTN dari BATAN memakai perkiraan capital cost bangun pltn cenderung rendah, can fool many people some of the time).

Walaupun sudah diberi subsidi oleh pemerintahan  Bush dalam bentuk tax production credit 1,8 cents/kWh, sampai kini belum ada pembangunan pltn baru di AS.  Pembangunan  pltn menghadapi berbagai masalah,  public acceptance satu  unsur ketidakpastian bagi  investor.

Krisis keuangan  Oktober 2008 ini berakibat   kelangkaan dana investasi untuk   membiayai projek padat modal seperti pltn.

Karena itu perkembangan pltn  di AS akan sulit , tidak  semakin gencar? Tunggu hasil pemilihan presiden dan  selesaikan  masalah krisis keuangan dulu.

Dengan perkiraan biaya modal pembangunan PLTN  4 375 …. 8 000 $/kW dibandingan realisasi pembangunan PLTU Batubara di Jawa sebesar 1000 $ per kW dan PLTGU 700 $/kW, pembangunan PLTN di Jawa secara ekonomis tak layak. Silahkan dibuktikan dan  jelaskan kepada masyarakat , bahwa biaya pembangkitan pltn murah!.Berapa besar anggaran pembangunan PLTN Muria  dan biaya pembangkitannya per kWh dibandingkan dengan pembangkit fossil? Dan dari mana perolehan dana/ berapa bunganya?

Pembangunan PLTN di Kalimantan (karena seismicity rendah) perlu pembangunan transmission line (termasuk sub marine cable) tegangan 500 kV, untuk transfer 3000 MW  perlu dana tambahan  investasi 3-4 milyar $.

PLTN diJawa saja tak dapat bersaing dengan pembangkit fossil, apalagi kalau di bangun diluar Jawa dan listriknya dikirim ke Jawa.

Satu bentuk upaya pemaksaan / pembenaran  pembangunan PLTN di Indonesia secara gencar.

Di dunia AS memiliki pltn terbesar, 103 units, 98 000 MW. Punya pengalaman pembangunan, pemeliharaan & operasi, menguasai dan jadi berpengalaman, tahu  mengenai   aspek  teknis (rumit, karena itu jadwal pembangunan kebanyakan terlambat, menyebabkan tambahan biaya, cost over-run),  ekonomis (mahal, apa benar jangka panjang lebih murah dengan capital cost yang begitu mahal), politik (public acceptance, grand mother comes  with buldozer), lingkungan ( solusi sampah radioactive belum tuntas). Karena itu  sejak  30 tahun terakhir AS belum lagi beranjak membangun pltn baru, sikap ini patut dipertanyakan, mengapa?

Sungguh  mengherankan , apa alasan  kita di Indonesia semakin  gencar  mau mulai membangun pltn ? Mohon  diberi  penjelasan!?. Mau nambah utang lagi ya?

Swedia, Jerman menghentikan pembangunan PLTN melalui keputusan majoritas parlemen, wakil rakyat. Merubahnya  Ibu Kanselir perlu kembali persetujuan parlemen merevisi uundang jadwal penutupan  pltn terakhir  tahun 2022. Sebagai negara & masyarakat maju tentu saja mereka selalu meninjau kembali setiap kebijakannya. Membuka kembali diskusi, dialog secara terbuka. Itulah proses demokrasi, mulai dengan  wacana pemikiran bersama. Jadi, yang ada baru   reneisan pemikiran kembali  pltn, tapi bukan reneisan pembangunan pltn ( al. pikir penggunaan kembali teknologi yang “usang”  atau menunggu generasi ke-4 ?)!! Apa kerja sama Swadia- Rusia mau bangun pltn, atau lakukukan studi , riset bersama?

Di Indonesia kapan diskusi belajar bersama   dibuka secara luas?

SALAM.

Nengah Sudja.

Pendapat pribadi, independent, ,tak terikat  satu organisai.

Bukan Anti Nuklir, Sedia Berpartisipasi, Belajar , Berdikusi Bersama Mengenai PLTN.


Suryo Utomo

Pasti ada alasan lain mengenai belum dirubahnya kebijakan penutupan PLTN di negara2 tersebut dan menurut saya bukan malu yang jadi alasan, toh sampai sekarang kebijakan tersebut nyatanya belum berubah, kalo hanya sekedar wacana tidak bisa dijadikan pegangan.

PLTN memang lebih murah dalam jangka panjang, kalo gak salah umur ekonomisnya sekitar 30-40 tahun, tapi kenyataannya kalo tidak salah ada sekitar 51 (mohon koreksi) PLTN di dunia yang umurnya gak lebih dari 25 tahun. Kalo PLTN sangat menjanjikan kenapa tidak semua pembangkit listrik menggunakan tenaga nuklir?

Saya bukan orang yang anti PLTN, saya tahu sistemnya sekarang sudah sangat aman, yang saya ragu adalah kesiapan sumber daya manusianya, karena pengoperasian PLTN memerlukan disiplin tinggi dari setiap personilnya.

Saya punya pengalaman ketika saya mengunjungi reaktor nuklir riset di puspiptek serpong tahun 2007, saat itu saya datang bersama rombongan dari salah satu instansi pemerintah, saya terkesan dengan ketatnya penjagaan yang ditunjukkan oleh pengelola terutama dengan adanya seorang petugas yang menenteng senapan serbu SS-1, saya berpikir dengan pengamanan seperti itu tentu akan sulit bagi sembarang orang untuk masuk ke wilayah tersebut.

Beberapa minggu kemudian saya berkesempatan mengunjungi lagi kawasan tersebut untuk mengikuti suatu pelatihan, dan kali ini saya seorang diri tanpa rombongan, ketika saya melewati penjagaan saya menghentikan mobil saya untuk melapor kepada petugas (padahal kalo saya tidak berhenti pun petugas akan membiarkan saya masuk) kemudian memarkir mobil, sebelumnya saya sempat menanyakan mengenai lokasi pelatihan namun dijawab agar saya menanyakan kepada petugas di pintu bagian dalam. Ketika saya sampai di pintu bagian dalam saya kebingungan karena tidak ada satupun petugas di lokasi tersebut, tidak lama ada seorang ibu penjual kue datang, saya bertanya kepada beliau yang kemudian masuk ke dalam ruangan penjaga untuk memanggil petugas yang ternyata sedang menonton tv……saat itu saya berpikir apa yang terjadi jika saya memiliki niat buruk terhadap fasilitas tersebut karena ternyata pintu yang terdiri atas palang2 besi pun tidak terkunci….

Saya setuju PLTN dibangun di Indonesia tapi penyiapan sumber daya manusianya harus dilakukan sejak dini supaya disiplin & rasa tanggung jawab benar2 tertanam ke setiap orang yang nantinya bertanggung jawab mengoperasikan PLTN.

Saya pernah masuk ke dalam reaktor riset dan melihat kolam reaktor, salah satu syarat untuk masuk ke dalam reaktor adalah tidak diperkenankan membawa kamera, tapi seorang teman sempat “menyelundupkan” kamera digitalnya dan mengambil gambar kolam reaktor padahal sebelum masuk badan kami sudah digeledah oleh petugas….

Masih banyak sebenarnya hal2 di lingkungan puspiptek serpong, termasuk kondisi lingkungannya yang terlihat tidak terawat, yang membuat saya meragukan kesiapan sumber daya manusia Indonesia terutama dalam hal kedisiplinan. Tapi hal2 seperti inilah yang tidak diketahui masyarakat, seharusnya kalo ingin masyarakat menerima opsi PLTN sosialisasinya harus dilakukan secara jujur, terbuka terhadap hal apapun jangan hanya menampilkan keuntungan PLTN semata.

PS: batubara dijadikan bahan baku industri, lalu pabriknya menggunakan energi dari mana?

Terima kasih


Iwan Kurniawan

Pengalaman Bapak sungguh sangat berharga untuk menjadi bahan pertimbangan pemerintah membangun PLTN. Limbah PLTN menjadi sangat berbahaya dengan disiplin seperti itu. Limbah menjadi barang sangat menakutkan dan mudah dicuri untuk dijadikan campuran bom konvensional. Limbah PLTN belum bisa dimusnahkan dengan teknologi saat ini.

Salam,

Iwan Kurniawan

Alumni Universitas Tsukuba


Eriel Salim

Selama kita sebagai bangsa tidak dapat membuktikan bahwa persoalan keamanan menjadi budaya dan prioritas dalam kegiatan bernegara dalam bentuk apapun, istilah asingnya safety culture maka selama itulah kami sebagai rakyat menolak teknologi yang sarat akan BAHAYA (baca: lebih banyak MUDHARAT dari manfaat) mulai dari pembangunan, pengoperasian, fuel distribution, fuel handling sampai pada final repository yang hingga kini gak jelas bakan di mana diletakkan.

Salam,

ES


Chairul Hudaya

Anggota Milis Yth.

Memang diskusi masalah PLTN ini tidak ada habisnya ya🙂.
Saya sangat senang sekali bisa ikut berdiskusi bersama pakar pakar bidang energy seperti Pak Budi, Pak Sudja, Pak Iwan dll. Kebetulan saat ini saya sedang mendalami bidang ini, jadi ingin sedikit urun rembuk. Komentar saya saya sisipkan diantara komentar Pak Sudja (berwarna biru).

On Tue, Oct 28, 2008 at 1:54 PM, Nengah Sudja <nsudja@gmail.com> wrote:

Yth Para Anggota ML Indoenergy,

Pada kampanye pemilihan calon presiden Amerika Serikat, Mr. Obama  cenderung tidak memberi pilihan nuclear sedangkan Mr. McCain merencanakan pembangunan 45 units pltn dengan anggaran 315 milyar $, jadi dengan perkiraan biaya 7 milyar $ per unit. Tidak disebutkan besar daya terpasang per unit. Bila diasumsi besaran daya terpasang 1000 sampai 1600 MW, maka perkiraan biayanya 4375 sampai  7 000 $ per kW.

Setahu saya, kebetulan saya ikut milis orang-orang nuklir Amrik, Obama bukan tidak mendukung opsi nuklir pak. Dia mau, hanya mendukung dengan syarat. Syaratnya yaitu apabila mereka bisa mengoperasikannya dengan aman dan ada jalan keluar dari permasalahan limbah nuklir. Memang dia sangat berhati-hati untuk mengatakan iya atau tidak, karena seperti kita paham, cukup banyak juga yang menentang dan mendukung, sehingga bisa berakibat pada kans nya menjadi presiden. Namun, baru baru ini saya dapat berita dari sebuah survey, 3/4 (75%) dari rakyat Amerika saat ini mendukung penggunaan energi nuklir (Sumber : NEI, published Sept 29 2008). Dengan meningkatnya kepercayaan publik ini, maka semakin gencarlah rencana pemerintah USA untuk membangun PLTN, seperti berita yang Pak Budi posting sebelumnya.

Mengenai keekonomian PLTN, sharing informasi terbaru di milis sebelah oleh Pak Arnold (Medco Power), KHNP masih berani kasih harga USD 1800/kWe (perhitungan overnight cost) dan jika ada koreksi karena adanya kenaikan harga minyak dan material (sekarang turun lagi!!) maka tidak akan lebih dari 2000 USD/kWe. Jadi cukup kompetitif dibandingkan dengan PLT lainnya.

Di dunia AS memiliki pltn terbesar, 103 units, 98 000 MW. Punya pengalaman pembangunan, pemeliharaan & operasi, menguasai dan jadi berpengalaman, tahu  mengenai   aspek  teknis (rumit, karena itu jadwal pembangunan kebanyakan terlambat, menyebabkan tambahan biaya, cost over-run),  ekonomis (mahal, apa benar jangka panjang lebih murah dengan capital cost yang begitu mahal), politik (public acceptance, grand mother comes  with buldozer), lingkungan ( solusi sampah radioactive belum tuntas). Karena itu  sejak  30 tahun terakhir AS belum lagi beranjak membangun pltn baru, sikap ini patut dipertanyakan, mengapa?

Jawabannya tidak jauh-jauh dari masalah politik pak, sehingga mengarahkan kebijakan mereka untuk tidak membangun PLTN. PLTN terakhir come to online yaitu PLTN Wat Bar pada tahun 1996, dimana proses pembangunannya dimulai tahun 1973.

Sungguh  mengherankan , apa alasan  kita di Indonesia semakin  gencar  mau mulai membangun pltn ? Mohon  diberi  penjelasan!?. Mau nambah utang lagi ya?

Bukankah kita sepakat bahwa kita harus cari alternatif energi lain selain fossil fuels untuk memasok kebutuhan energi yang terus naik? PLTN kan hanya salah satu saja pak, perlu juga secara gencar di promote sumber-sumber energi lainnya, supaya lebih beragam, sehingga ketergantungan terhadap satu sumber energi akan tereliminasi.

Kalau kita mau bangun PLTU, atau PLTA dananya dari mana ya? Kenapa PLTN harus dianggap lain?.

Swedia, Jerman menghentikan pembangunan PLTN melalui keputusan majoritas parlemen, wakil rakyat. Merubahnya  Ibu Kanselir perlu kembali persetujuan parlemen merevisi uundang jadwal penutupan  pltn terakhir  tahun 2022. Sebagai negara & masyarakat maju tentu saja mereka selalu menijau kembali setiap kebijakannya. Membuka kembali diskusi, dialog secara terbuka. Itulah proses demokrasi, mulai dengan  wacana pemikiran bersama. Jadi, yang ada baru   reneisan pemikiran kembali  pltn, tapi bukan reneisan pembangunan pltn ( al. pikir penggunaan kembali teknologi yang “usang”  atau menunggu generasi ke-4 ?)!! Apa kerja sama Swadia- Rusia mau bangun pltn, atau lakukukan studi , riset bersama?

Para anggota Parlemen Eropa sudah mulai sadar akan baiknya penggunaan energi nuklir untuk tujuan damai ini Pak. Saya menemukan ada deklarasi dari 56 anggota parlemen Eropa yang menyerukan kepada para leaders tentang pentingnya penggunaan energi nuklir terutama dalam mengurangi CO2 emission into earth. Bisa dilihat disini :
http://www.foratom.org/dmdocuments/Declaration%20(European%20Voice%20).pdf

Di Indonesia kapan diskusi belajar bersama   dibuka secara luas?

Sepakat sekali pak, perlu keterbukaan dalam mencari solusi yang tepat, tidak ada yang ditutup-tutupi, termasuk menyediakan data dan fakta yang tepat.

Salam,

Chairul Hudaya
pengkampanye nuklir untuk tujuan damai independen
http://www.nuklir.info


Jayadi Lukito

Aloo..

Mo ikutan nanggapin lagi … soal nuklir kayanya dulu kita dah sempet bahas mulai dari ekonomis, segi politis, dan segi lain-lainnya. Nah sekarang kenapa balik lagi ke diskusi yang sama ? Seingat saya dulu terakhir itu mentok di rencana pemerintah yang gak open tentang PLTN yang akan dibangun. Sampai sekarang, jenis PLTN yang akan dibangun, asal bahan bakar, pengolahan limbah (yang menurut saya paling penting) itu belom pernah dikeluarin atau diberitakan ke public. Secara teknologi memang PLTN itu bisa dibilang dah aman. Kemungkinan Chernobyl terulang lagi itu kecil, kecuali dalam pengoperasian gak teliti. Saya rasa faktor ini bisa dicegah dengan kontrol yang lebih ketat dari biasanya. Semoga. Nah, topik tentang pembuangan limbah ini yang sampai sekarang gak pernah dibahas. Ini yang juga jadi masalah di negara maju sebenernya. Dalam bulan ini tempat pembuangan limbah akhir jerman di Asse kebobolan rembesan air en sempet bikin panik satu jerman.  Sekarang masih belom ada penjelasan lebih lanjut seberapa parah rembesan itu. Nah indo apa sudah ada rencana mo diapain itu limbah baik yang kadar radioaktif-nya kuat atau lemah ? Atau mungkin mo ditimbun di salah satu pulau gak dihuni seperti kata salah satu pejabat di koran dulu ? Sebelom semua pertanyaan ini dijawab, saya rasa gak ada gunanya diskusi dilanjutkan karena pada akhirnya kita Cuma muter-muter en gak ada titik terangnya. Mungkin ada pihak dari pemerintah yang bisa menjelaskan ?

Salam dari Aachen

-jayadi-


Chairul Hudaya

Pak Jayadi Yth.

Sedikit ingin share mengenai pengelolaan limbah nuklir. Sebenarnya aturan main dalam mentreatment limbah nuklir ini sudah dibuat aturan mainnya oleh badan tenaga atom internasional (IAEA). Sehingga, Indonesia sebagai salah satu membernya pasti akan mengikuti arahan dari IAEA tersebut.  Prinsip dari arahan IAEA ini sangat menarik : “Pengelolaan limbah nuklir harus dikelola sedemikian rupa sehingga tidak membebani pada generasi yang akan datang”, sehingga dibuatlah aturan main yang filenya dapat dilihat disini :

  1. Storage of Radioactive Waste Safety Guide
  2. Predisposal Management of Low and Intermediate Level Radioactive Waste Safety Guide
  3. Predisposal Management of High Level Radioactive Waste Safety Guide
  4. Predisposal Management of Radioactive Waste, Including Decommissioning Safety Requirements
  5. Principles of Radioactive Waste Management Safety Fundamentals
  6. File lain-lainya

Secara garis besar, limbah nuklir dibagi dalam 2 kategori, Low and Intermediete Level Waste (LILW) dan High Level Waste (HLW). LILW adalah limbah nuklir yang berupa sarung tangan, cover sepatu dan baju para pekerja di PLTN serta bagian alat pemeliharaan mesin dan sejenisnya. Treatment LILW dilakukan denngan cara disimpan dalam tempat penyimpanan sementara sebelum akhirnya didispose secara permanen. Sedangkan HLW umumnya ditreatment dengan 2 metode, dry dan wet storages. Sesuai dengan namanya, dalam wet storage, limbah nuklir  dari reactor ditreatment didalam air selama 3-5 tahun untuk mendinginkan plus mengurangi panas dari radioactive decays. Setelah melewati proses itu, limbah nuklir dimasukkan kedalam container yang dirancang secara khusus sehingga bisa menyimpan dengan aman, terutama menggunakan bahan bahan yang tahan korosi dan radiasi. Sedangkan dry storage, limbah nuklir langsung dimasukkan kedalam container yang dirancang secara khusus tanpa air sebagai pendinginnya. Biasanya disimpan hingga sampai 6 tahun didalam container tersebut. Containers dry storages bisa berbentuk metal cask, concrete silo, maupun vault storage.

Lebih dari 90 % limbah nuklir dunia saat ini ditreatment melalui proses wet storage. Umumnya penyimpanan sementara limbah nuklir berada di kawasan PLTN itu sendiri, sehingga tidak perlu diangkut melalui transportasi yang jauh. Tidak sembarangan orang bisa masuk kedalam fasilitas ini, karena tentu saja kontrolnya sangat ketat. Pengelola PLTN wajib memberikan laporan secara berkala tentang keluar masuknya limbah nuklir kepada badan pengawas setempat dan juga IAEA.

Treatmen selanjutnya bisa menggunakan system geological repository, atau menggunakan teknik-teknik transmutasi yang saat ini semakin banyak riset-riset dibidang tersebut, misalnya fast reactor dan ADS yang diprediksi akan exist beberapa puluh tahun kedepan.

Begitu sepengetahuan saya pak,

Salam,

Chairul Hudaya


Nengah Sudja

Yth. Para Peserta Milis dan P Jayadi Lukito,

Perkenankan saya menulis kelakar ini sebelum menanggapi  milis P Jayadi.

Konperensi  internasional, empat negara:  Amerika Serikat, Inggeris, Perancis dan Jerman , setuju tahun depan bertemu lagi membahas  Onta.

Sesuai jadwal  pertemuan, masing2   datang   membawakan papernya .

Paper AS  berjudul: Practical Utilization of Camel. Dari Inggeris: Colonization of Camel.

Perancis: L’ Amoure du camel (Sex Behaviour of Camel).  Jerman dengan buku tebal: Encyclopedia of Camel.

Masing2  datang dengan karakteristik/ budaya bangsanya. Orang Amerika katanya suka yang praktis2, orang Inggeris biasa dengan budaya kolonisasi, orang Perancis suka yang berkaitan dengan l ‘amour ( anggur, keju) dan orang Jerman suka dengan detail, rinci berpikir dari A sampai Z, kerja keras, serious  (juga kalau sedang minum2, pesta, karnaval) karena itu datang dengan  buku encyclopedia tebal.

………………………………………………………….. sekedar kelakar ya.

Kalau kita baca milis P Jayadi, rupanya  terkena imbas budaya  Jerman, mau tahu  rinci  masalah,   terkait PLTN, teori dan praktiknya dari A-Z. Bagus saya senang ini.

Jawaban rinci yang Anda harapkan mengenai mo diapakan limbah nuklir pasti ngak ada!. Saya pernah baca jawabannya enteng saja:  limbah nuklir akan disimpan di pulau terpencil yang ngak ada penduduknya. Tapi coba tanyakan terusannya  cukup beberapa hal saja (ngak  usah dari A-Z) seperti :

– apa nama pulau tersebut,- dimana letaknya ( kordinatnya), – luasnya, peta, geografi, geologinya (ada dan berapa jauh

rembesan air laut ke daratan),

– design  penyimpanan limbah , – apa  dampak global warming, pulau  tenggelam ngak,  tempat penyimpanan limbah nuklir

terendam air  laut ?

Apa jawaban atas pertanyaan tersebut akan dapat  diperoleh?.

Begitu pula dengan pertanyaan Anda: sampai sekarang, jenis PLTN yang akan dibangun, asal bahan bakar, pengolahan limbah (yang menurut saya paling penting) itu belum pernah dikeluarin atau diberitakan ke public. Maksudnya  pilihan jenis reaktornya: PHWR, PWR, BWR?

Kalau ditolak dibangun di Muria ya pindahkan saja ke Kalimantan. Begitu enteng jawaban pejabat puncak pemerintah.

Siapa owner proyek PLTN sampai sekarang belum jelas: BATAN, PLN, BUMN yang baru didirikan  atau Listrik Swasta (IPP) sampai sekarang belum pernah dijelaskan ke masyarakat?

Budaya Indonesia menjadi budaya instant , nerabas , tidak seperti budaya Jerman.

Kesan saya pokoknya mo mau punya PLTN. Biayanya dari mana?

Pertanyaan diatas akan dijawab enteng Eta  mah,  KUMAHA ENGKE.

Semoga saya salah.

Peserta Indonesia kalau di undang ke konperensi onta itu pasti datang tanpa paper, , alasannya di Indonesia kagak ada Onta.

SALAM.

Dr.- Ing. Nengah Sudja (magna cumlaude).

RWTH Aachen, Elektro.

20-21 Sept 2007 saya ikut  FGE- TAGUNG 2007,

Markt und Netze- Ordungsrahmen.

Karman Auditorium, RWTH Aachen.

Kalau boleh minta alamat, siapa tahu bisa kenalan.


Budi Sudsarsono

Rekans Anggota ML Indoenergy Yth.,

Saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Sdr. Chairul Hudaya yang telah menyampaikan pencerahan yang berharga mengenai pengelolaan limbah. Saya hanya ingin memberikan komentar tambahan sebagai berikut.
1. Pengertian “waste” tidak semestinya selalu diartikan “limbah”. Karena bahan bakar bekas-pakai dari PLTN sering dianggap sebagai “waste”, namun menurut kenyataannya dapat juga digunakan ulang apabila diproses dan hasilnya sebagian dimanfaatkan sebagai salah satu unsur bahan bakar baru. Ini sudah dilakukan di Eropa dan di Jepang, yaitu dalam pembuatan mixed oxide fuel.
Istilah “limbah” biasanya kita artikan sebagai bahan yang benar-benar tak dimanfaatkan lagi.
2. Pembangunan repository, yaitu tempat penyimpanan-akhir bahan bakar bekas-pakai atau limbah nuklir hasil proses-ulang, memang belum ada yang operasional. Proyek yang dibangun di Nevada Amerika Serikat pun belum dapat dipastikan tahun berapa akan selesai. Tetapi sudah ada 104 PLTN yang beroperasi, di antaranya sudah beroperasi selama 40 tahun.
Jadi aneh juga jika ada yang keberatan terhadap pembangunan PLTN di Indonesia semata-mata karena belum jelas benar limbahnya mau diapakan. Yang penting bahan bakar bekas-pakai dikelola terus dan diawasi oleh instansi yang berwenang. Seperti yang dilakukan di 30 negara lain.

Dalam kesempatan ini saya ingin memberi komentar atas masukan Pak Sudja yang mengutip berita tentang angka biaya modal tinggi PLTN di berbagai proyek yang direncanakan dan disebarkan oleh media massa. Sebenarnya saya yakin Pak Sudja mengetahui bagaimana angka-angka besar itu bisa terjadi, tetapi sengaja tidak memberi pencerahan.
Apa yang dimaksud dengan “biaya modal pembangunan PLTN” lazimnya adalah biaya “overnight cost”, yaitu perkiraan biaya seandainya PLTN dibangun dalam satu hari. Artinya, tidak termasuk bunga selama konstruksi, eskalasi harga selama konstruksi. Lingkupnya pun berbeda: ada yang termasuk owner’s cost (lahan, dll.), ada yang termasuk biaya bahan bakar untuk dimuat pertama kali (bahan bakar untuk operasi selama 12 sampai 18 bulan). Ada yang tidak memasukkan unsur2 tersebut. Lain dari itu, besarnya angka akan sangat berbeda antara perusahaan swasta di Amerika Serikat, Jerman, atau Jepang, ketimbang BUMN di Perancis atau Inggeris (tingkat bunganya jauh berbeda) apalagi BUMN di Indonesia. Selain itu, seperti yang dikatakan Sdr. Chairul Hudaya, besarnya biaya untuk PLTN yang sama akan berbeda di tiap negara. Studi OECD tahun 2005 misalnya menyatakan biaya modal PLTN PWR di Ceko $1500/kW sedang di Jepang $2500/kW.
Yang jelas: angka-angka yang dikuti oleh Pak Sudja tidak merinci pada yang dimaksud dengan biaya modal PLTN, dan jelas pula bahwa bagi perusahaan swasta di Amerika Serikat semua biaya-biaya tambahan atas “overnight cost” tadi dimasukkan.
Untuk Indonesia, kita berpeluang untuk dapat membangun PLTN PWR 1000 MW dengan biaya di bawah $2000/kW dan dalam jangka panjang lebih menekan lagi sampai $1500/kW seperti yang pernah dicapat di RRC.

Sekian dahulu

Budi Sudarsono
Ketua, Masyarakat Peduli Energi dan Lingkungan (MPEL); Sekretariat Tel. 62-021 75906564 ; Blog: http://feea3.blogspot.com/,
Anggota, Komisi Ahli Tenaga Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional.
Website pribadi: http://www.geocities.com/budi_sudarsono/index.html
Res./Fax sementara: +6221-7690288 Mob. +62812-9601614


Budi Sudarsono

Rekans Anggota ML Indoenergy,

Berikut ini saya kutipkan tulisan yang baru-baru ini muncul di Financial Times tentang energi nuklir.

Back from the brink

Reference :

http://us.ft.com/ftgateway/superpage.ft?news_id=fto102720080838378521&page=2

http://us.ft.com/ftgateway/superpage.ft?news_id=fto102720080838378521

Budi Sudarsono
Ketua, Masyarakat Peduli Energi dan Lingkungan (MPEL); Sekretariat Tel. 62-021 75906564 ; Blog: http://feea3.blogspot.com/,
Anggota, Komisi Ahli Tenaga Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional.
Website pribadi: http://www.geocities.com/budi_sudarsono/index.html
Res./Fax sementara: +6221-7690288 Mob. +62812-9601614


Jayadi Lukito

Aloo lagi,

Ehm… terima kasih buat pencerahannya, tapi sebenarnya saya tidak mengharapkan jawaban secara teoritis, karena saya juga pernah mendapatkannya dalam studi saya bagaimana caranya mengolah limbah nuklir tersebut. Saya dalam hal ini tidak pro atau tidak kontra, namun pemikiran mendasar saya adalah: bagaimana langkah konkrit dari planningnya … PLTN nya bakalan dibuat di muria, terus…. Selanjutnya…. Tidak ada kelanjutannya.. dalam pengertian… limbahnya itu mo diolah di indo sendiri atau di luar negeri ? apakah cost yang selama ini dipakai sebagai standar hitungan di eropa, amerika, ataupun di Negara manapun itu bisa dipakai lagi di Indonesia ? apakah kita gak terlalu khilaf kalau menyamaratakan semuanya ini ? Secara teoritis memang PLTN itu termasuk safe dalam pengoperasian, tapi… setelah itu bagaimana ? Sampai sekarang masih belom ada kejelasan dari mana kita mendapatkan plutonium atau bahan bakar nuklir untuk PLTN ini. Tentang recycling dan lain sebagainya pun saya juga sudah mendapatkan di studi saya, namun apakah Indonesia akan mendirikan sarana Glas untuk limbah nuklirnya ? Akan bikin bunker baru untuk limbah lemah radioaktifnya ? Semua ini sampai sekarang belum terjawab. Kalau dilihat dari hitungan ekonomis, tentu PLTN bisa bersaing dengan Pembangkit listrik tenaga batu bara ataupun minyak… tapi sekali lagi.. apakah standar yang dipakai itu sama ? Karena hitungan itu semua dipakai dengan pengandaian sarana pengolahan limbah yang sudah tersedia. Pertanyaan saya sederhana saja, bila PLTN sudah didirikan namun masih belum jelas limbahnya mo dibuang ke mana, apakah Anda gak khawatir apabila tiba-tiba besok di dekat daerah Anda ada pembuangan limbah nuklir ? Kalau menurut Anda itu bukanlah masalah, ya saya tidak akan komentar lagi mengenai masalah limbah ini. Tapi bila tidak, mohon dijelaskan mo diapakan limbah dari PLTN itu. Terima kasih sebelumnya.

Salam dari Aachen

-jayadi-


Nengah Sudja

Yth Para Rekan Milis , Pak Budi Sudarsono dan Pak Chairul Hudaya,

Bahwa hambatan utama PLTN adalah ketidaklayakan ekonominya dapat dibaca dari posting berikut

Reference : http://www.enn.com/press_releases/2697

Keekonomian PLTN  sejak 1975 menjadi perhatian dan keraguan saya akan perannya dalam penyediaan tenaga listrik di Indonesia.

Tanggapan saya  akan saya beri warna biru muda.

Rekans Anggota ML Indoenergy Yth.,

Saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Sdr. Chairul Hudaya yang telah menyampaikan pencerahan yang berharga mengenai pengelolaan limbah. Saya hanya ingin memberikan komentar tambahan sebagai berikut.
1. Pengertian “waste” tidak semestinya selalu diartikan “limbah”. Karena bahan bakar bekas-pakai dari PLTN sering dianggap sebagai “waste”, namun menurut kenyataannya dapat juga digunakan ulang apabila diproses dan hasilnya sebagian dimanfaatkan sebagai salah satu unsur bahan bakar baru. Ini sudah dilakukan di Eropa dan di Jepang, yaitu dalam pembuatan mixed oxide fuel.
Istilah “limbah” biasanya kita artikan sebagai bahan yang benar-benar tak dimanfaatkan lagi.
2. Pembangunan repository, yaitu tempat penyimpanan-akhir bahan bakar bekas-pakai atau limbah nuklir hasil proses-ulang, memang belum ada yang operasional. Proyek yang dibangun di Nevada Amerika Serikat pun belum dapat dipastikan tahun berapa akan selesai. Tetapi sudah ada 104 PLTN yang beroperasi, di antaranya sudah beroperasi selama 40 tahun.
Jadi aneh juga jika ada yang keberatan terhadap pembangunan PLTN di Indonesia semata-mata karena belum jelas benar limbahnya mau diapakan. Yang penting bahan bakar bekas-pakai dikelola terus dan diawasi oleh instansi yang berwenang. Seperti yang dilakukan di 30 negara lain.

Masalahnya  dimanapun  didunia ada kelompok masyarakat   yang masih terus  mempertanyakan  bagaimana menjamin keamanan public  dari bahaya radioaktive? Jadi tidak aneh kalau ada yang keberatan dan  menolak pembangunan  PLTN selama mereka merasa tidak mendapat kepastian bagaimana  penanganan limbah nuklir itu akan dilakukan,  mengingat lama waktu radioaktive  limbah itu dapat berlangsung  ribuan tahun.

Mengingat sebagian waste bisa didaur ulang  jadi bahan bakar (mixed oxide fuel), tapi waste radioactive  tetap ada dan  perlu diiamin keamanannya.
Dalam kesempatan ini saya ingin memberi komentar atas masukan Pak Sudja yang mengutip berita tentang angka biaya modal tinggi PLTN di berbagai proyek yang direncanakan dan disebarkan oleh media massa. Sebenarnya saya yakin Pak Sudja mengetahui bagaimana angka-angka besar itu bisa terjadi, tetapi sengaja tidak memberi pencerahan.

Saya sungguh  tidak mengerti  tuduhan Pak Budi, saya sengaja tidak memberi pencerahan. Pencerahan apa yang Pak Budi harapkan?  Seakan-akan saya ini menyebar kebohongan,ya.

Tujuan tulisan saya  untuk  mengingatkan public bahwa biaya pembangunan PLTN itu mahal (biaya pembangunanya bisa 3  sampai 4 kali lebih mahal dari pembangkit fossil). Malahan yang menyebarkan di milis ini  bahwa biaya pembangunan PLTN  di  Amerika Serikat 8000 $ per kW adalah Pak Budi sendiri. Terima kasih Pak. Tulisan di media massa  adalah sarana mengkomunikasikan  kepentingan di masyarakat demokratis.Bisa disanggah kalau ngak benar!

Apa yang dimaksud dengan “biaya modal pembangunan PLTN” lazimnya adalah biaya “overnight cost”, yaitu perkiraan biaya seandainya PLTN dibangun dalam satu hari. Artinya, tidak termasuk bunga selama konstruksi, eskalasi harga selama konstruksi. Lingkupnya pun berbeda: ada yang termasuk owner’s cost (lahan, dll.), ada yang termasuk biaya bahan bakar untuk dimuat pertama kali (bahan bakar untuk operasi selama 12 sampai 18 bulan). Ada yang tidak memasukkan unsur2 tersebut. Lain dari itu, besarnya angka akan sangat berbeda antara perusahaan swasta di Amerika Serikat, Jerman, atau Jepang, ketimbang BUMN di Perancis atau Inggeris (tingkat bunganya jauh berbeda) apalagi BUMN di Indonesia. Selain itu, seperti yang dikatakan Sdr. Chairul Hudaya, besarnya biaya untuk PLTN yang sama akan berbeda di tiap negara. Studi OECD tahun 2005 misalnya menyatakan biaya modal PLTN PWR di Ceko $1500/kW sedang di Jepang $2500/kW.

Pa Budi :

Bukankah masalah  overnight cost dsbnya  sudah pernah kita bahas Juni 2007  dalam 11 assumsi keliru tentang harga listrik PLTN?

Belum cerah ya, perlu diulang?

Pak Chairul  Hudaya:

Yang justeru seharusnya Sdr. ditanyakan kepada Pak Arnold dan KHNP, apakah besaran biaya $ 1 800/ kW  ini  terdiri atas biaya apa saja ? Biaya seluruh pembangunan atau biaya yang diajukan oleh  kontraktor saja, apa termasuk owner cost (siapkan lokasi, biaya consultant al untuk mengawasi pelaksanaan pembangunan, ijin lokasi, biaya asuransi, penanganan limbah  dan biaya lainnya), biaya negara penyimpanan/ pengawasan pltn/limbah?

Anda mempertanyakan mengapa memperlakukan pencariaan dana untuk PLTN dibedakan dengan PLTU dan PLTA misalnya. Tidak ada perbedaan, masalahnya hanya berkaitan dengan kelayakan proyek dan besaran  dana yang diperlukan. Dengan besaran dana investasi PLTN 3 sampai 4 besaran dana investasi fossil tentu lebih sulit memperoleh dana pinjaman yang lebih besar. World Bank, ADB tidak mau memberi pinjaman untuk PLTN. Bank biasanya  melakukan studi kelayakan  sebelum memutuskan pemberian pinjaman. Deutsche Bank misalnya melakukan studi kelayakan proyek pembangkitan dan punya perbandingan biaya pembangkitan. Untuk PLTN pinjaman  lebih terbatas pada  bilateral.

Anda tahu bahwa PLTN Wat Bar di AS dibangun tahun 1973 baru selesai 1996.Perlu 23 tahun untuk menyelesaikannya. Karena berbagai kesulitan, kompleksitas teknis, financial, politik berbagai proyek PLTN  memerlukan waktu  puluhan tahun seperti proyek PLTN di Argentina, Brasil , Mexico. Sedangkan penyelesaian proyek pembangkit fossil umumnya bisa selesai dalam waktu 2-5 tahun.

Saya senang posting penutup Anda ,   sepakat perlu  keterbukan untuk  cari solusi yang tepat .”Tiada dusta diantara kita”, ya.

Yang jelas: angka-angka yang dikuti oleh Pak Sudja tidak merinci pada yang dimaksud dengan biaya modal PLTN, dan jelas pula bahwa bagi perusahaan swasta di Amerika Serikat semua biaya-biaya tambahan atas “overnight cost” tadi dimasukkan.

Yang saya tulis/kutip :  Calon Pres Mc Cain menyatakan  anggaran pembangunan 1 unit PLTN $ 7 milyar dan malahan  posting Pak Budi menyebutkan angka $ 8000 per kW.  Mc Cain  tidak memberi   rincian dari besaran anggaran biaya  $7 milyar per unit. Karena  itu saya tidak  bisa memberi rinciannya. Apa Pak Budi bisa memberi rinciaan posting biaya $8000/ kW itu?. Saya  berpendapat itulah perkiraan biaya modal pembangunan PLTN di AS, semua biaya tambahan atas overnight cost tadi dimasukkan bisa mencapai sampai $8 000 per kW.Begitu mahal PLTN itu dibandingkan fossil (700-1000$/kW).

Untuk Indonesia, kita berpeluang untuk dapat membangun PLTN PWR 1000 MW dengan biaya di bawah $2000/kW dan dalam jangka panjang lebih menekan lagi sampai $1500/kW seperti yang pernah dicapat di RRC.

Melihat  perkiraan biaya modal PLTN terakhir  di AS sampai  $ 8 000 / kW, saya meragukan apakah untuk Indonesia  $ 2 000/kW bisa direalisasi?  Kalau perbedaannya perkiraan biaya sampai 1: 4 dari biaya di AS, pasti ada yang salah.  Atau technical specification-nya berbeda? Mobil Toyota  yang diekspor ke Indonesia spec.nya  disesuaikan dengan daya beli disini. Masalah actual cost  ini baru akan kita ketahui dari hasil lelang (bidding) atau sebelum kontrak disepakati. Kalau ternyata mahal, apa pembangunan PLTN mau dilanjutkan atau dibatalkan?. Indonesia  belum punya pengalaman bangun PLTN tapi untuk pembangkit fossil banyak, sehingga fossil biaya modalnya  bisa dijadikan acuan!

Kalau kita baca laporan terakhir IEA Paris dan IAEA Wina, kontribusi PLTN dalam pasokan energi sampai tahun 2030 tidak meningkat, malahan menurun. AS misalnya kalau benar pembangunan 45 unit PLTN sampai 2030  dapat diwujudkan, tambahan ini tidak cukup menggantikan 103 unit PLTN yang kebanyakan dibangun tahun 1970-an dan pada 2030 mencapai umur pension/ retired 60 tahun. Selain itu secara global ada slowdown pembangunan PLTN di negara maju, kecuali di Asia, tapi jumlah tambahannya relative kecil.

Kesimpulan saya hambatan PLTN :

–         keekonmian tak layak,-

–         financial sulit, karena  perlu dana besar,

–         kompleksitas teknis, menyebabkan keterlambatan penyelesaian jadwal proyek, berakibat cost over-run, ekonomi/keuangan menyulitkan?,

–         masalah public acceptance (penolakan dari dalam dan luar negeri),

–         masalah lingkungan, bahaya radioactive akibat salah operasi atau lingkungan (gempa, topan) atau terrorisme (pencurian limbah).

Saya  heran ketika terjadi krisis keuangan global,  Pak Budi justeru  mulai lagi posting milis  subject: Re: opsi nuklir semakin gencar.

Agar seimbang saya dan rekan lain  tertarik responsive  memberi tanggapan. Posting P Budi  patut dihargai  karena  membuka kembali diskusi PLTN.

Terima kasih Pak Budi, Pak Chairul dan tentu saja kepada para rekan milis.

SALAM.

Nengah Sudja.

Pendapat pribadi, independen, ,tak terikat  satu organisai.

Bukan Anti Nuklir, Sedia Sharing Pendapat, Belajar , Berdikusi Bersama Mengenai PLTN.


Dadi Maspanger

Wah…wah…makin rame nikh diskusnya…..yang satu dan lainnya masih kokoh dengan berbagai argumen. Ternyata masih belum ada kejelasan yang terang benderang ttg status PLTN di Muria itu yah, gimana tuh ngolah limbahnya….ternyata mahal dan masih beresiko mencemari lingkungan.

Saya percaya fihak-fihak yang pro PLTN semuanya bertujuan baik, tidak ada sedikitpun tujuan ngebohongi rakyat, tidak juga semata-mata untuk kepentingan pribadi demi kececeran uang proyek. Saya percaya kalaupun keliru argumen mereka, hanya karena studinya belum tuntas, atau ada faktor X yang belum mereka ketahui.

Pada kondisi cadangan gas/bbm sudah sedemikian tipis/mahal. tentu akan makin dipertimbangkan untuk di-bakar2 rin menjadi listrik. Demikian pula dengan coal, akan makin menarik untuk diutilisasi menjadi produk bernilai ekonomis tinggi. BBM/gas dan sebagian minyak nabati sebaiknya lebih diprioritaskan sebagai fuel untuk automotive, industri dan rumah tangga.

Untuk pembangkit energi listrik, seyogyanya lebih difokuskan ke PLTA/angin/matahari/geotermal. Cuma yang masih mengganjal adalah berapa banyak sih potensi keempatnya itu. Apakah cukup untuk mensuplai seluruh kebutuhan listrik DN. Apakah energi matahari akan efektif untuk Indonesia sebagai negara dengan curah hujan tinggi. Seberapa banyak ladang angin di Indonesia yang potensial menjadi PLTAngin, juga apakah supply anginnya stabil, kalau sepoy2 saja yaaah percumah atuh……

salam

dadi….


Budi Sudarsono

Rekans Anggota ML Indoenergy Yth.,

Terserah kalau Anda akan membaca tulisan Lester Brown (ditayangkan oleh Pak Sudja), yang juga mengutip Amory Lovins. Kedua orang ini sejak dari dahulu adalah die-hard environmentalist. Dahulu keduanya pernah dikagumi orang, tetapi kini pamornya sudah berkurang. Tetapi tetap ngotot.

Budi Sudarsono
Ketua, Masyarakat Peduli Energi dan Lingkungan (MPEL); Sekretariat Tel. 62-021 75906564 ; Blog: http://feea3.blogspot.com/,
Anggota, Komisi Ahli Tenaga Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional.
Website pribadi: http://www.geocities.com/budi_sudarsono/index.html
Res./Fax sementara: +6221-7690288 Mob. +62812-9601614


Bobby A. Rizaldi

Saya dukung PLTN.

Kalau ada PLTN mungkin kita punya kesempatan 70/30 untuk dapat listrik murah, tapi kalo gak ada, udah pasti gini2 aja, harga gas sebagai substitusi akan semakin mahal (lebih dari $ 6/mmbtu) dan Batubara lo cal akan membuat pencemaran lingkungan tidak menjadi lebih baik..

PLTN adalah masalah prioritas kita atas kebutuhan saat ini dan masa depan kita. Jangan karena yang gak setuju 1000 orang tapi mengalahkan kepentingan 200 juta orang..

Kali ini saya sependapat dengan rekan2 di pemerintah (eksekutif), JALAN TERUS PLTN MURIA !!!

Bobby A. Rizaldi


Zaki

Saya pikir kita semua setuju bahwa fossil fuel kita terbatas dan suatu saat akan habis. Usaha2 eksplorasi perlu digiatkan tetapi cadangan yg ditemukan (jika ada) statusnya hanyalah memperpanjang masa pakai (menunda waktu habisnya) fossil fuel. Utk itu perlu dikaji penggunaan sumber2 energi lain yg bisa digunakan, utamanya utk juga memperpanjang masa pakai fossil fuel kita (kelihatannya perkembangan teknologi & keekonomian so far belum memungkinkan switch besar2an sumber energi dunia ke arah sumber energi non fossil fuel).

Sampai saat ini potensi terbesar utk sumber energi utama non fossil fuel adalah di panas bumi (geothermal). Dengan perkiraan cadangan setara 27,000 MW artinya bisa menggantikan seluruh kapasitas PLN (asumsi seluruh potensi ini bisa komersial dan lokasinya sesuai kebutuhan listrik saat ini). Jadi menurut saya, fokus pemerintah sebaiknya di panas bumi dulu.

Akan tetapi opsi nuklir tetap perlu dipertimbangkan. Posisinya mungkin bukanlah utk sumber utama, akan tetapi hanyalah utk sedikit memperlambat percepatan kenaikan konsumsi fossil fuel kita. Penggunaan fossil fuel secara masif akan menghabiskan sumber daya fossil fuel kita, dan akhirnya pada saat habis kita menjadi negeri yg lumpuh, karena potensi sumber energi lainnya belum pernah digarap. Tentu saja kalau pakai frame kekinian, nuklir atau sumber energi lain (matahari, angin, dll) mungkin tidak komersial, tapi kalaupun begitu toh pada saat fossil fuel habis, potensi itu lebih tidak bisa dikembangkan secara komersial lagi (lha ga punya duit lagi karena sudah tidak ada income dari bagi hasil produksi minyak, gas dan royalti batubara) dg harga listrik yg murah seperti sekarang. Jadi terlepas dari mahal atau murahnya nuklir (dg harga listrik skrg) pada akhirnya ketika fossil fuel kita menipis, pilihan kita adalah mengimpor sumber fossil fuel dari luar atau menggunakan nuklir (dan kalau nuklir memang mahal, opsi utk impor minyak dan gas dari luar juga sama mahalnya karena pada saat itu kemungkinan produksi migas sudah dimonopoli negara2 tertentu dan jumlahnya juga mulai menipis).

Utk itu additional capacity yg direncanakan PLN perlu mulai menggunakan sumber2 lain seperti panas bumi, nuklir, angin, matahari, dll. Mungkin yg baru bisa dikembangkan dg kapasitas besar hanyalah panas bumi, tetapi jika dihitung secara total penggunaan sumber2 non fossil fuel ini akan menghemat penggunaan gas alam (asumsi minyak otomatis akan direplace juga anyway). Jadi pihak yg pro maupun kontrak nuklir mudah2an tidak dengan semangat dukungan dan penolakan yg membuta (sorry kesan saya pembahasan nuklir yg terjadi sekarang ini hanya sekadar bantah2an tanpa mencarikan solusi utk kepentingan bersama bangsa ini).

Salam,
Zaki


Dadi Maspanger

Betuuul mas, setuju jangan membabi buta…..peserta milis ini kan macem2, tidak semua ahli energi dan tidak semua masuk milis dari awal. Tapi yang jelas dengan ikut nimbrung di milis ini, menunjukkan sangat concern dgn masalah energi. Bagi mereka (termasuk saya lho) isu ttg PLTN tetap sangat menarik, dan rajin menyimak, tapi sekaligus bingung dengan pro-kontranya……Banyak hal yang belum betul2 clear. Buat apa ada Dept. ESDM, kalau kerjanya cuma ngatur kebijakan pengelolaan sumber energi yang ada sekarang (baca = demi kecipratan proyek), mestinya juga fokus dan ada langkah real untuk mengatasi permasalah energi di masa y.a.d, menyikapi kondisi dimana energi dari fosil itu tidak bisa lagi diandalkan……… Benar2 ngeri yah dampaknya kalau law enforcement sekaligus good governance tidak tercipta di NKRI ini…… Bagaimana jadinya kalau kita gak punya duit untuk ngembangkan sumber energi alternatif , sementara benefit dari hasil minyak/gas/coal yang ada sekarang dikorupsi terus ……Btw, teruslah berdiskusi untuk memikirkan langkah terbaik, kami pendengar setia, tapi please sodorkan data-data yang shohih…..thanks….

wass,

dadi


Adhi

Sedikit nimbrung untuk menambahkan,

Pemerintah sudah mulai memfokuskan kebijakan pada penggunaan geothermal sebagai alternatif energi fosil. terbukti dengan ditetapkannya perhitungan BPP (Biaya Pokok Penyediaan) Tenaga Listrik buat pembangkit geothermal beberapa waktu lalu (liat disitus departemen ESDM). Semoga hal ini menarik minat investor buat berpartisipasi mengembangkan pembangkit geothermal, tidak hanya fosil alias batubara saja seperti
10rb MW saat ini.

Masalah energi memang rumit, menurut saya sih tidak hanya sebatas pakai atau tidak pakai energi nuklir. saya sendiri pro pemakaian nuklir.namun demikian saya sendiri tidak yakin mampu memeliharanya. kenapa? untuk memelihara pembangkit nuklir butuh standar keamanan sangat tinggi. Kita tahu, Jepang pun hanya karena gempa dan belum terbukti mempengaruhi PLTN pun langsung men-shutdown PLTN nya.Apakah kita bisa demikian? saya belum yakin dengan melihat standar perawatan pembangkit yang ada
sekarang.apalagi politik sudah masuk terlalu jauh. bahkan untuk mematikan menghidupkan pembangkit PLN pun diintervensi (kalo seandainya load shedding terlalu parah-padahal itu bisa dibenarkan secara teknis). padahal kita tahu, nuclear is unforgiven. salah atau lengah sedikit? blarrr, kalo katakan di semenanjung muria sesuai studi tapak yang sudah dilakukan departemen ESDM, berapa juta orang jadi korban?

saya sendiri pro nuklir, sudah terlalu mendesak kebutuhan energi kita. cadangan listrik sudah terlalu tipis. memaksa pembangkit kerja diatas AF juga hanya mempercepat kerusakan. Tapi politis udah terlalu jauh masuk kedalam ranah kebijakan energi. saya setuju dengan pendapat pak zaki, harus dipikirkan alternatif sumber energi lain, terutama renewable. tapi yah ada lagi yang perlu dipikirkan. kebijakan ekspor energi terutama
batubara dan gas. batubara dan gas kita lari semua. sebagai contoh gas ke singapore bikin PLN batam kelabakan. dan juga perlu dipikirkan kebijakan penyediaan energi. apakah semua mesti dari PLN, sementara PLN sendiri kemampuannya terbatas dan listrik tidak boleh mati? rasanya sebuah pikiran radikal, tapi kalo kita ingin listrik aman rasanya model penyediaan energi seperti pasar listrik perlu dilirik. (tapi kita tahu, ini pernah tahun 2002 via UU-20 dan dipatahkan MK, dan sekarang lah baru keliatan akibatnya).dan perlu juga keberanian untuk melakukannya. contohnya CMIIW kalo gak salah malaysia pun berani memprivatisasi TNB (dari artikel teman sih, blm survey langsung).Yang penting bagi kita rakyat, terutama saya rakyat biasa ini, listrik tetep terjamin dengan harga yang wajar.

salam,


Chairul Hudaya

Sepakat Pak Nengah, jangan ada dusta diantara kita ya🙂

Sayangnya saya tidak punya informasi lebih mengenai masalah keekonomian PLTN jika diterapkan di Indonesia seperti yang kita diskusikan dengan Pak Arnold. Apakah itu masih menjadi rahasia perusahaan, saya juga tidak tahu. Yang pasti dengan pakai logika orang awam, banyaknya perusahaan kontraktor yang tertarik untuk membangun PLTN di berbagai dunia, membuktikan bahwa masih ada margin yang bisa didapat oleh mereka, bukan sekedar proyek sosial kan pak?

Saya tidak mau memperdebatkan untuk keekonomian PLTN di negara lain, karena “medan” nya kita beda. Kalau sebagai perbandingan, boleh lah, tapi tidak bisa digeneralisir dengan negara kita. Saya sudah buka catatan dari arsip milis tahun 2007 lalu tentang 11 asumsi kekeliruan keekonomian PLTN, namun disana kita hanya memperdebatkan PLTN kepunyaan orang, dengan mengejawantahkan hasil-hasil studi dari badan-badan tekait. Nah bagaimana kalau Pak Nengah sebagai expert dibidang ini share hasil hitung-hitungan untuk PLTN di Indonesia ini, sehingga kita bisa tahu dan kita kritisi sama-sama. Akan lebih menarik lagi kalau Pak Arnold dan bapak bapak di BATAN menyumbangkan pemikirannya. Saya kira diskusi di milis ini akan memiliki kontribusi yang sangat positif jika dibandingkan dengan seminar/conference yang selalu mengabiskan biaya yang tidak sedikit namun tidak banyak solusi yang didapat.

Untuk pembelajaran kita bersama, silakan download file keekonomian PLTN hasil studi University of Chicago di folder “nuclear economy” >>disini<<

Salam,

Chairul

http://www.nuklir.info


Fabby Tumiwa

Pak Chairul yth,

Studi Univ Chicago sudah 5 tahun lalu dan perkembangan terbaru dengan proposal PLTN baru yang masuk ke NRC menunjukkan estimasi capital cost yang lebih tinggi dari yang diperkirakan dalam studi tersebut.

Apakah Bapak punya contoh kasus di Korea ada tidak ya? Bukankah baru-baru ini Korea membangun unit PLTN baru? Terima kasih atas informasinya.

Salam,

Fabby Tumiwa


Chairul Hudaya

Yth. Pak Fabby

Mohon maaf pertanyaannya terlewat.

Dari laporan yang saya baca (dalam bahasa Korea), pembangunan PLTN Shin Kori 3 dan 4 (APR 1400) yang akan selesai pada tahun 2013-2014, biaya pembangunannya sebesar 2,046 US$/kWe.

Salam

Chairul Hudaya

http://www.nuklir.info


Nengah Sudja

Yth Para Rekan Milis, Sdr. Bobby Rizaldi,  Zaki dan Adhi

Hari ini kita  baca 3 (tiga) posting  mendukung pembangunan PLTN dengan alasan murah !.

PLTN Mahal.

Maafkan,  penolakan saya terhadap PLTN rupanya tidak atau  belum dimengerti. Dasar penolakan yang saya sampaikan dalam diskusi selama ini  justeru karena  biaya pembangkitan listrik dari   PLTN itu mahal.

Kalau memang PLTN itu murah /ekonomis, saya tidak akan memboroskan waktu  menyampaikan posting2  tsb dan melakukan  sanggahan.

Silahkan periksa Attachment terlampir.

Dengan base cost biaya modal pembangunan PLTN 2 000 $/kW (batubara 980 $/kW, pltgu 660 $/kW, panas bumi 767 $/kW), biaya pembangkitan dari PLTN 7,9 c$/kWh ( batubara 4,5 c/kWh, pltgu 4,0; pltp 6,8 c/kWh), berdasarkan data base 1993 (hitungan saya ketika masih kerja di PLN).

.Asumsi parameter lainnya dilampirkan pula. Silahkan simulasi dengan parameter lain ( capital cost, fuel cost misalnya). Apalagi bila diipakai biaya modal pembangunan  7 000 $/kW (seperti yang dianggarkan  capres Mc Cain!! ) maka pembangkitan listrik dari PLTN tambah mahal bisa  diatas 14 c/kWh seperti posting Lester Brown.

Jadi dasar penolakannya sekali lagi ditinjau hanya  dari aspek ke-ekonomian. Rupanya propaganda bahwa PLTN itu murah sudah begitu meresap / dipercaya public sejak tahun 1960-an seperti ketika industri PLTN baru mulai. It’s too cheap to meter, begitu murah tak perlu diukur, kata Dirjen Nuklir USA.

Unsur biaya bahan bakarnya memang lebih murah, tapi biaya pembangunanya/unsur biaya modal (capital cost)-nya  mahal, total biaya pembangkitannya juga lebih mahal. Kekeliruan ini yang ingin saya sampaikan dan dialogkan !!.

Karena satu alasan mahal itulah PLTN di dunia sampai 2030 tak  berkembang, belum lagi unsur ketidakpastian lain, seperti financial, public acceptance, pencemaran, terrorisme.

Cadangan uranium-pun bisa habis?

Bahan bakar uranium (seperti fossil) jumlah cadangannya juga terbatas, 3,5 juta ton (high grade reserve). Mengacu pada  pemakaian uranium 67  000 ton per tahun dewasa ini, maka cadangan uranium cukup untuk pemakaian 50 tahun.Apabila semua kebutuhan energi diganti dengan pltn, cadangan uranium cukup untuk pemakaian tiga tahun  Jadi cadangan uranium juga terbatas juga seperti  fossil. Diperkirakan ada cadangan 14,4 juta ton uranium low dan high grades lain tapi harganya lebih mahal.Penambahan PLTN akan mengurangi pasokan uranium. Jadi uranium juga bisa habis! Cadangan uranium Indonesia relative kecil. Kalau bangun PLTN semua impor, termasuk bahan bakarnya  (uranium, fabrikasi dan enrichmentnya ).

Katanya fast breeder reactor bisa bikin bahan bakar nuklir ? Harapannya begitu, tapi sampai sekarang  fast breeder reactor setelah 50 tahun belum terbukti layak secara teknis, apalagi keekonomiannya.

Pembangunan PLTN  memerlukan anggaran 7 000 $/kW dibandingkan fossil 1 000 $/kW, akan memperlambat upaya elektrifikasi di tanah air, tingkat electrification ratio di negara kita  baru 60 %, artinya 40 % dari masyarakat belum dapat sambungan listrik. Bila financial kita kuat ,dengan jumlah dana  yang sama  bisa dibangun daya terpasang 7 kali dari pembangkit fossil dibanding  PLTN. Biayai program 10 000 MW saja tak ada dana tersedia  sampai kini.

Bung Karno bilang Indonesia baru makmur kalau listrik sampai ke gunung2.

Semoga penjelasan ini dapat memperbaiki pengertian kita.

Solar, angin, energi terbarukan dibahas lain  kali, kita focus PLTN dulu.

Terima kasih.

SALAM.

Nengah Sudja.

Pendapat pribadi, independen, ,tak terikat  satu organisasi.

Bukan Anti Nuklir, Sedia Sharing Pendapat, Belajar , Berdikusi Bersama Mengenai PLTN.


Nengah Sudja

Yth. Para Rekan Milis dan Pak Chairul Hudaya.

Saya tanggapi dengan huruf biru muda.

Sepakat Pak Nengah, jangan ada dusta diantara kita ya🙂

Sayangnya saya tidak punya informasi lebih mengenai masalah keekonomian PLTN jika diterapkan di Indonesia seperti yang kita diskusikan dengan Pak Arnold. Apakah itu masih menjadi rahasia perusahaan, saya juga tidak tahu. Yang pasti dengan pakai logika orang awam, banyaknya perusahaan kontraktor yang tertarik untuk membangun PLTN di berbagai dunia, membuktikan bahwa masih ada margin yang bisa didapat oleh mereka, bukan sekedar proyek sosial kan pak?

Kontraktor tertarik dimana ada keuntungan. Yang penting apakah  pembangunan PLTN menguntungkan bagi pemakai, utility, masyarakat konsumen. Perancis, Jepang dan Korea tak punya pilihan lain, buat mereka PLTN merupakan solusi. Perancis 78,5 % kebutuhan listrik dari PLTN. Bikin PLTN secara besar-besaran konvoi katanya agar bisa murah, didukung subsidi Negara. Sisanya dari hydro dan tak tersisa lagi untuk dibangun!. Di Jepang peran PLTN

29 %, yang lain di diversifikasi dari batubara, gas alam, hydro dan akan ke solar energy. Very smart, semuanya praktis impor. Korea 45 % dari PLTN, sisa dari coal, gas alam.

Amerika 19 % PLTN, sisa dari coal ,gas karena punya . Jerman PLTN  31 % sisa terutama dari lignite (2000 kcal/kg) yang banyak tersedia dan  bisa lebih murah dari PLTN.

Saya tidak mau memperdebatkan untuk keekonomian PLTN di negara lain, karena “medan” nya kita beda. Kalau sebagai perbandingan, boleh lah, tapi tidak bisa digeneralisir dengan negara kita. Saya sudah buka catatan dari arsip milis tahun 2007 lalu tentang 11 asumsi kekeliruan keekonomian PLTN, namun disana kita hanya memperdebatkan PLTN kepunyaan orang, dengan mengejawantahkan hasil-hasil studi dari badan-badan tekait. Nah bagaimana kalau Pak Nengah sebagai expert dibidang ini share hasil hitung-hitungan untuk PLTN di Indonesia ini, sehingga kita bisa tahu dan kita kritisi sama-sama. Akan lebih menarik lagi kalau Pak Arnold dan bapak bapak di BATAN menyumbangkan pemikirannya. Saya kira diskusi di milis ini akan memiliki kontribusi yang sangat positif jika dibandingkan dengan seminar/conference yang selalu mengabiskan biaya yang tidak sedikit namun tidak banyak solusi yang didapat.

Anda jujur, mungkin belum punya bahan untuk dapat memperdebatkannya, tapi mau belajar,kan? Jaman globalisasi tinggal buka folder, web site, economic of nuclear power plant bisa download file seperti Anda tulis, Uni Chicago, atau  MIT misalnya. Lalu gunakan akal sehat. Biaya pembangunan PLTN setuju tak bisa digeneralisir. Tentu ada perbedaan antara di USA dan Eropa misalnya, akibat harga material (steel, cement), labour cost dllnya yang beda. Tapi perbedaannya pasti tidak sebesar antara 7 000-8 000 $/kW dengan 1800-2000 $/kW? Apalagi kalau dilakukan tender internasional perbedaan tawaran yang disampaikan pasti beda, tapi berapa besar ? Apa bisa sampai 1:4 ? Saya lebih percaya pada besaran perkiraan 7 000 $/kW karena diumumkan dalam ruang public yang luas apalagi  dalam pemilihan capres dari pada tawaran dari promoter (pedagang) PLTN. Baja, semennya kan juga dibeli dari  sumber yang kompetetive.Di Indonesia biaya upah lebih murah, apakah bangun PLTN pakai kuli galian murah dari Cirebon seperti galian kabel PLN membuat beda biaya sampai 1:4 ? Upah murah dari local harus dikompensasi dengan upah expert mahal dari luar negeri membuat perbedaan makin kecil..

Posting saya kepada Sdr. Bobby Rizaldi cs. melampirkan perbandingan biaya pembangkitan  dari makalah saya tahun  1993 dengan base cost (over night)

2 000 $/kW. Silahkan di simak. Untuk PLTN kita terpaksa pakai referensi luar negeri, karena kita tak punya pengalaman tapi dari yang lain kita punya pengalaman. Data cost setiap kurun tertentu berubah, perlu up dating.

BATAN /  yang promote PLTN sepatutnya mempertanggungjawabkan kelayakan pembangungan PLTN. Melaporkannya kepada masyarakat dan membuka ruang public untuk itu, sehingga kita bisa belajar bersama, masyarakat termasuk perguruan tinggi (seperti aspek geologi,teknik,ekonomi, dlnya).

Tidak cukup hanya dengan menyampaikan bahwa PLTN itu murah dan aman.

Mari terbuka belajar bersama bagi kepentingan kita  bersama.

SALAM.

Nengah Sudja.

Pendapat pribadi, independen, ,tak terikat  satu organisasi.

Bukan Anti Nuklir, Sedia Sharing Pendapat, Belajar , Berdikusi Bersama Mengenai PLTN.


Chairul Hudaya

Pak Nengah Sudja yth dan anggota milis

Terima kasih atas pencerahan diskusi mengenai keekonomian PLTN ini. Saya kira saya sepakat dengan pendapat bapak bahwa biaya pembangunan PLTN itu tidak murah, dan salah kaprah kalau mensosialisasikan PLTN itu murah, mungkin yang lebih tepat adalah kompetitif dibandingan dengan yang PLT lainnya, apalagi ketika dihubungkan dengan kompensasi penggunaan energy yang low-carbon emission. Saya lihat pernyataan bapak ketika menghadiri diskusi di PEUI, yang kebetulan di upload oleh Prof. Raldi di youtube :

Khusus masalah keekonomian PLTN di Indonesia, paling tidak kita bisa mengambil referensi dari studi CADES (Comprehensive Assessment Of Different Energy Sources for Electricity Generation In Indonesia) yang dilakukan oleh departemen terkait : BPPT, BATAN, KMNLH, DESDM, DJLPE, DJMIGAS, PT. PLN, BPS, LSM serta IAEA yang dimulai tahun 2000. (Kalau ada studi CADES yang lebih baru silakan disampaikan, karena file pemutakhiran di website BATAN di protect oleh password)

Dari hasil studi para pakar Indonesia tersebut, didapat bahwa PLTN yang berkapasitas 1050 MW membutuhkan investment cost sebesar 2260 US$/kWe. Filenya saya attach di email ini atau bisa didapatkan di download center personal web saya.

Pertanyaan saya, menurut bapak apakah hasil studi tersebut tidak tepat atau ada yang perlu dikritisi?

Catatan : Lampiran studi CADES


Nengah Sudja

Yth Para Rekan Milis, Sdr. Bobby Rizaldi,  Zaki, Adhi dan Chairul Hudaya,

PLTN Mahal.

Pembangkit daya terpasang 1 000 MW dengan factor capcity 80 %/ tahun energi yang dibangkitkan :

E = 1 000 000 kW x 8760 jam/tahun x 0,80

=  7 008 juta kWh/a ( a= annum, tahun).

Beda biaya 1 c/kWh, berarti beda biaya 70 juta $/a.

Untuk lama waktu pengusahaan 30 tahun, berarti beda biaya 2100 juta$ atau 2,1 milyar $.

Silahkan hitung apa PLTN itu murah atau mahal.

SALAM.

Nengah Sudja.

Pendapat pribadi, independen, ,tak terikat  satu organisasi.

Bukan Anti Nuklir, Sedia Sharing Pendapat, Belajar , Berdikusi Bersama Mengenai PLTN.


Bangkit Gemilang

Salam buat bapak Nengah Sudja…

Saya ndak tau kalo soal Nuklir, orang saya wong tani… gemana kalo ngobrolin soal biodiesel dari jarak pagar aja. Kalo harga minyak dunia turun seperti sekarang ini, gmn pendapat bapak soal masa depan Biodiesel dari Jarak Pagar dan kelapa sawit, apakah perkembanganya menjadi lambat, apalagi blm ada standard harga dari pemerintah, terutama mengenai harga biji jarak pagar dan hasil olahanya (CJO).

Trimakasih sebelumnya…

Maaf, apa bapak dari Bali? denger2 di Singaraja banyak pengembangan Jarak Pagar ini yaa..??


Nengah Sudja

Saya asal Bali, dari Klungkung tapi tinggal di Jakarta.

Maaf saya tak mengerti bisnis biodiesel.

SALAM.

Nengah Sudja


Marindo Palar

Dear Bapak-Bapak yg saya hormati,

Saya mendapat banyak tambahan ilmu, dari diskusi ini.
Saya tidak punya pengetahuan yg mumpuni di bidang energy ini, apalgi dengan Energy Nuklir.  Jadi tidak bisa menyumbangkan apa-apa.

Tapi, saya pernah mendapatkan data seperti ini (barangkali bisa membantu – tapi terus terang saya lupa sumber pastinya nya, – jadi mohon dima’afkan kalau salah….) dari  http://dtwh2.esdm.go.id/) :


Dadi Maspanger

Maaf pak Sudja ini barangkali hanya ahli biji uranium/plutonium……. Walaupun mungkin lama di Bali, tapi belum begitu tahu tentang biji jarak……..Bicara ttg bio-energy, maslahnya juga tidak kalah banyak…..selain masalah agronomis, juga kondisinya selalu tarik2an antara food atau dikonversi menjadi produk ekonomi tinggi atau dijadikan bahan bakar………….


Zaki

Ini sumbernya dari ESDM.

Perlu dilihat tabel paling kanan (Rasio Cadangan/Produksi) merupakan estimasi habisnya sumber daya fosil fuel kita dg tingkat penggunaan saat ini. Artinya kalau proyek 10,000 MW phase 1 berjalan seluruhnya pakai batubara, maka umurnya lebih pendek dari 93 tahun. Begitu juga kalau tingkat penggunaan BBM kita meningkat maka cadangan minyak kita yg ada saat ini akan habis dalam 24 tahun. Utk itu perlu digiatkan usaha2 eksplorasi utk menemukan cadangan baru (cuma menemukan, buat menciptakan sumber energi fosil ya). Makanya Pak Hilmi pernah bilang bahwa Indonesia butuh menemukan Cepu setiap tahun (cadangan Cepu ~ 350 juta barel, dg konsumsi 1 juta barel/hari, habis dalam 1 tahun).

Sbg negara dan bangsa yg ingin maju, kita akan terus mengkonsumsi energi dalam jumlah yg semakin meningkat setiap saat. Akan tetapi dari figur2 yg disampaikan di tabel tsb, terlihat bahwa sumber daya fosil fuel kita hanyalah utk sustainability kita, bukan utk development. Utk development kita memerlukan pemanfaatan sumber energi lain, yg kelihatannya paling memungkinkan utk jangka pendek ini adalah panas bumi (dan CBM jika terbukti potensi CBM kita bisa dikomersialisasi). Pengembangan sumber energi dari tenaga air menghadapi kendala dari sisi lingkungan (perusakan daerah resapan air hujan, masalah debit air, dll).

Perlu dipahami bahwa sampai saat ini belum ada sumber energi yg lebih murah dari fossil fuel, seluruh sumber energi lain seperti panas bumi, angin, surya dan juga nuklir pasti lebih mahal, jadi kalau yg diperdebatkan dalam hal pemanfaatan sumber energi ini hanya berdasarkan mahal/murahnya tidak akan selesai, kita tidak akan memanfaatkan sumber energi non fosil karena pasti lebih mahal. Silakan tunggu sampai sumber energi fosil kita menipis lalu harganya mahal (faktor suplai vs demand) baru saat itu kita sibuk menyesal sekian puluh tahun lalu kita memperdebatkan pengembangan sumber energi non fosil karena mahalnya dibanding sumber energi fosil.

Salam,
Zaki


Bobby Rizaldi

Mantap sekali referensi kawan-kawan ini, sangat berguna sebagai wacana ide diskusi.

Tetapi sekali lagi untuk pembangunan PLTN.. Dengan asumsi data2 dari kawan yang menunjukkan PLTN lebih mahal daripada fossil fuel, apakah sudah cukup sebagai alasan menghentikan pembagunan PLTN Muria? Bagaimana dengan rencana strategi ketahanan Energi Nasional pasca fossil fuel dalam waktu 30 tahun kedepan? Mahal atau ekonomis, selama mampu membayar, akan lebih baik daripada kita ketinggalan teknologi terkini.. Toh duitnya pasti pinjem dan bisa diskemakan re-finance pada saat bunga turun nantinya atau keadaan surplus ekonomi (bila ada)..

Ada dimensi lain dalam perhitungan pengambil kebijakan yaitu urgensi dan prioritas. Seperti kita tahu cadangan uranium local kita mungkin tidak akan mencukupi, oleh karena itu bila kita tidak berkontrak (mengkapling) cadangan uranium di dunia ini, pada saatnya nanti “we are at sitting duck” karena tidak ada uranium lagi yang bisa kita beli dimana fossil fuel sudah habis, hanya karena sekarang kita merasa kemahalan..

Salam,

Bobby A. Rizaldi


Zaki

Pak Nengah,

Terima kasih utk data2nya.

Saya hanya ingin menanyakan ttg panas bumi, menurut saya cukup aneh kalau biaya panas bumi bisa di bawah batubara, mungkin Pak Nengah belum memasukkan biaya upstream-nya (drilling, pipeline, dll)?

Saya jadi curious juga dg tingkat biaya USD 767/kW pada akhirnya panas bumi (67.88) ‘cuma’ sedikit di bawah nuklir (78.66), jangan2 kalau memasukkan biaya upstream-nya in total biaya panas bumi akan lebih mahal daripada nuklir? Anyway, walaupun jika nanti biaya panas bumi lebih mahal daripada nuklir, tidak berarti kita tidak perlu mendevelop panas bumi juga kan?

Salam,

Zaki


Chairul Hudaya

Anggota milis Yth.

Wah, kita kan sedang diskusi (bukan berdebat loh) tentang masalah keekonomian PLTN jika diterapkan di Indonesia. Kalau mau usul tentang biodisel, geothermal dll ganti subject dong supaya lebih focus  :-)

Pernyataan Pak Zaki : Perlu dipahami bahwa sampai saat ini belum ada sumber energi yg lebih murah dari fossil fuel, seluruh sumber energi lain seperti panas bumi, angin, surya dan juga nuklir pasti lebih mahal,

CH : Menurut saya tidak bisa digeneralisir Pak. Ada negara negara tertentu yang lebih murah generation costnya dengan menggunakan nuklir dibandingkan dengan fossil fuels, salah satunya tergantung dari discount rate yang diberikan. Bisa dilihat hasil laporan NEA-IEA 2005 : Projected Cost of Generating Electricity. Proyeksi tersebut dibuat sebelum naiknya fossil fuels tahun 2007 dan 2008 ini. Dengan kenaikan drastis harga fossil fuels belakangan ini, apa tidak membuat PLTN menjadi lebih murah, atau dikatakan lebih kompetitif?

Nah makanya yang kita diskusikan disini, apakah nuklir masih kompetitif jika diterapkan di Indonesia? Begitu kan pak.

Berikut saya lampirkan contoh kasus sederhana dalam menghitung mana yang lebih kompetitif antara fossils and nuclear. Mohon dikritisi kalau ada yang tidak tepat, terutama asumsi values nya.

Salam

Chairul Hudaya

http://www.nuklir.info


Zaki

Pak Chairul,

Maksud saya mahal dari sisi investasinya Pak. Sorry for the misunderstanding.

Salam,

Zaki


Iwan Kurniawan

Setelah Batubara, Gas dan Minyak Habis, apakah APBN bisa balance. apakah kita masih mampu membeli PLTN berikut dengan bahan bakarnya. Harga uranium pada saat fosil habis akan sangat mahal dan dapat dipastikan Indonesia tidak punya uang untuk impor uranium.  Jadi mari kita pikirkan sumber energi yang tersedia di Republik Tercinta tanpa berpikir mengimpor energi.


Nengah Sudja

Yth. Para Rekan , Sdr Chairul

Lampiran yang ditayangkan Sdr. Chairul sangat sederhana. Secara umum biaya pembangkitan terdiri atas tiga unsur: biaya modal,  bahan bakar dan operasi &pemeliharaan. Untuk PLTN ada lagi biaya asuransi dan decommissioning.

Perkiraan biaya modal batubara 0,7 dan nuklir 1 milyar . Bagaimana kalau untuk nuklir dipakai 7 milyar $ seperti yang dipakai Capres McMain? Hasilnya lain kan?

Menghitung itu mudah asal disepakati dulu metode/ program  yang dipakai. Sulit memperkirakan asumsi yang akan dipakai untuk melakukan perhitungan.


Nengah Sudja

Yth.Rekan Milis , Sdr. Chairul,

Tiga hari terakhir saya menghadliri tiga seminar . Baru bisa jawab sekarang.

Pertama terima kasih untuk kiriman Youtubenya. Ada yang lengkap?

Capital Cost yang dipakai CADES : 2 260 $/ kW ?

Saya kutipkan tanggapan oleh Dep ESDM dan KNI WEC menyampaikan kesimpulan atas studi CADES:

“ berdasarkan parameter biaya bahan bakar, biaya O&M, biaya capital dan discount rate

yang diasumsikan dalam base-line studi ini, PLTN dapat masuk system Jamali pada tahun

2016 apabila biaya capitalnya turun menjadi US$ 1450/kW meliputi base-cost dan interist

during construction (IDC)” . [ sumber Melawan Iblis Mephistopheles, Penerbit Morem,

Listhia, Percik 2008].

Saya dapat mengerti dan setuju atas kesimpulan ini. PLTN tak kompetitif.

Bayangkan betapa mahalnya, kalau biaya investasinya sampai 8 000 $/kW!


Chairul Hudaya

Terima kasih Pak Nengah atas tanggapannya.

Untuk video di Youtube, mungkin Prof. Raldi yang punya video yang lebih lengkapnya.

Lampiran yang saya berikan itu saya peroleh dari mata kuliah yang diasuh oleh seorang Professor lulusan nuklir MIT tahun 1972.

Angka-angkanya juga masih asumsi, bukan angka sebenarnya. Tujuannya hanya membandingkan mana yang lebih kompetitif antara 2 power plant. Memang, metode itu dibuat supaya menyederhanakan persoalan dimana biaya fuels dan O&M dihitung jadi satu.

Lalu metode yang menurut Pak Nengah tidak sederhana bagaimana? Mohon pencerahannya.

Wah murah sekali ya pak hingga 1450 $/kWe. Berarti PLTN hampir sama dengan PLTD biaya inveastasinya. Mungkinkah?? Mengenai studi CADES, silakan bapak merujuk pada link yang saya berikan sebelumnya. Disitu jelas dicantumkan nilai investment cost 2260 $/kWe untuk yang PLTN berkapasitas 1050 MW dan 2703 $/kWe untuk yang berkapasitas 660 MW. Investment cost ini sudah net capacity dimana sudah termasuk didalamnya interest during construction.

Saya ingin tanya, benarkah tanggapan itu bersumber dari DESDM ? Atau hanya bersumber pada buku yang memang diset untuk menolak PLTN itu ? Kalaupun iya, mohon pencerahannya darimana hingga dapat angka semurah 1450 $/kWe itu ? Penulis buku tersebut ada di milis kita tercinta kan?🙂

Salam,
Chairul Hudaya

NB : Bagi rekan milis yang tertarik dengan pengembangan iptek nuklir di Indonesia, kami mengundang anda untuk bergabung dengan Indonesian Nuclear Society secara online melalui website ini : http://www.himni.or.id/?page_id=15


Nengah Sudja

Yth. Rekan Milis, Sdr Chairul Hudaya,

Agar Diskusi lebih mudah/ jelas, jawaban saya diberi huruf biru dibawah posting Sdr CH.

Terima kasih Pak Nengah atas tanggapannya.

Untuk video di Youtube, mungkin Prof. Raldi yang punya video yang lebih lengkapnya.

Lampiran yang saya berikan itu saya peroleh dari mata kuliah yang diasuh oleh seorang Professor lulusan nuklir MIT tahun 1972.

Angka-angkanya juga masih asumsi, bukan angka sebenarnya. Tujuannya hanya membandingkan mana yang lebih kompetitif antara 2 power plant. Memang, metode itu dibuat supaya menyederhanakan persoalan dimana biaya fuels dan O&M dihitung jadi satu.

Ja, saya ngerti digunakan untuk hitung break-event (secara static). Saya hanya  mengingat angka real perbandingan nuclear dan coal  ngak ngak gitu.

Lalu metode yang menurut Pak Nengah tidak sederhana bagaimana? Mohon pencerahannya.

Wien Autmatic System Planning (WASP) dari IAEA misalnya merupakan program computer untuk menghitung

pilihan optimal (least cost solution)  kelayakan jenis pembangkitan secara dynamis untuk memenuhi demand listrik dalam kurun waktu tertentu misalnya planning period  25 tahun kedepan.

Wah murah sekali ya pak hingga 1450 $/kWe. Berarti PLTN hampir sama dengan PLTD biaya inveastasinya. Mungkinkah?? Mengenai studi CADES, silakan bapak merujuk pada link yang saya berikan sebelumnya. Disitu jelas dicantumkan nilai investment cost 2260 $/kWe untuk yang PLTN berkapasitas 1050 MW dan 2703 $/kWe untuk yang berkapasitas 660 MW. Investment cost ini sudah net capacity dimana sudah termasuk didalamnya interest during construction.

PLTD biaya investasinya lebih murah ,  sekitar  600 $/kW, PLTU Batubara sekitar 1000 $/kW. Tapi biaya bahan bakar minyak lebih mahal.

Ya  angka 2 260 $/kW memang juga angka yang dipakai oleh studi ESDM/ KNI –WEC.

Untuk menhitung break-event antara PLTN dan PLTU Batubara bisa Sdr. coba lakukan sendiri  dengan menggunakan angka2 yang saya sampaikan dalam Attachment  kepada Sdr.

Kaget ya??  Itulah rupanya kalau sudah lama dicekoki bahwa PLTN itu murah.

Boleh tanya displin ilmu Sdr?

Saya ingin tanya, benarkah tanggapan itu bersumber dari DESDM ? Atau hanya bersumber pada buku yang memang diset untuk menolak PLTN itu ? Kalaupun iya, mohon pencerahannya darimana hingga dapat angka semurah 1450 $/kWe itu ? Penulis buku tersebut ada di milis kita tercinta kan?🙂

Untuk ini silahkan hubungi Sdr. Fabby Tuwiwa.


Nengah Sudja

Yth Rekan Milis,

Lester Brown dan Amory Lovins, dua ilmuwan terhormat, penulis buku, artikel  dengan idealisme didasari  argumentasi   rasional.

Tetap ngotot ( apa salahnya) tapi dilandasi gagasan rasional yang teguh mencerminkan karakter orang dengan kearifan tersendiri.

Buktinya kedua ilmuwan tersebut dengan lembaganya masih tetap berdiri dan belum bangkrut sampai kini.

Ilmuwan berprestasi, kok dipojokkan , dibenci sebagai  die-hard environmentalist  hanya karena tak sepakat dengan PLTN ?

Lalu bagaimana pula mengukur pamor ilmuwan itu sudah berkurang? Apa pemenang hadiah Nobel, bisa dikatakan pamornya berkurang karena tidak lagi memenangkan hadiah baru?

Kalau pamor politisi mah  bisa diukur karena misalnya kalo  tak terpilih lagi, apalagi kalo  korupsi.

Bukan begitu ?.

Lebih aneh lagi saran “ jangan “ baca tulisan yang meragukan PLTN, apalagi yang menentangnya.

Informasi kok mau ditutup, kapan bisa pintar ???

Begitulah rupanya kalau die-hard nuclear. Pingin punya nuklir biar kelihatan Indonesia sudah maju, bisa masuk club nuclear.

Bangun 4 unit @ 1000 MW (= 4000 MW) menghabiskan dana 4x 1000 000 kW x 8 000 $/kW = 32  milyar $,

Padahal dengan dana sebanyak itu bisa bangun 32 000 MW pembangkit fossil, untuk lebih cepat meningkatkan

ratio elektrifikasi yang baru 60 %, artinya 40% masyarakat kita belum dapat sambungan listrik.

Dana sebanyak itu  dari mana? Cari dana biayai 10 000 MW PLTU batubara saja, udeh suseh? Utang mau ditambah lagi, ya!!!


Chairul Hudaya

Pak Nengah dan rekan milis Yth,

Senyum dulu ah sebelum menjawab🙂

Pada statement sebelumnya saya katakan biaya investasi PLTN yang sebesar 1450 $/kWe yang hampir sama dengan biaya investment untuk PLTD bersumber pada studi CADES. Dalam study yang dilakukan tahun 2000-2002 tersebut, Diesel Power Plant dihargai investment costnya 1462 $.kWe. Yang paling murah itu Natural Gas sebesar 437 $/kWe. Mohon dikoreksi bagi bapak-bapak yang terlibat dalan studi ini. Saya hanya baca hasil laporannya saja🙂.

Seperti bapak ketahui, studi CADES juga di assist oleh IAEA yang punya WASP itu. Jadi, kalau saya pribadi sangat percaya dengan hasil yang didapatkan.

Saya dari awal tidak percaya bahwa PLTN itu murah pak, justru PLTN itu mahal, namun saya percaya dia masih kompetitif dibandingkan dengan PLT lainnya, buktinya banyak kontraktor yang mau bangun diberbagai belahan dunia.

Salam,

Chairul Hudaya
Nuclear Safety Analysis Laboratory
Seoul National University


Andryansyah Rivai

Saya tidak melihat ke arah personal dalam diskusi ini, saya menangkap pak Nengah bertanya karena seolah data yang diberikan beliau kok sepertinya tidak dicoba dihitung. Saya buta hitungan ekonomi, dan saya perhatiakn pak Nengah sangat berpengalaman.

Soal percaya atau tidak terhadap hasil yang didapat dalam perhitungan, dan entah diawasi oleh lembaga hebat seperti apapun, saya tetap berpandangan bahwa kita harus bisa paham benar dengan perhitungan kita, maksud saya adalah data yang kita masukkan. Walaupun saya baru sekali menggunakan computer code program untuk suatau perhitungan, saya bisa merasakan sendiri bahwa asumsi dalam pengambilan suatu nilai sangat mempengaruhi hasil akhir dan itu dapat dengan mudah dipermainkan.

Saya juga pernah ikut program yang berada di bawah progran IAEA, dan saya tidak percaya sedikitpun apa yang ada di bawah IAEA adalah benar!!! sebelum saya buktikan sendiri dengan kemampuan yang ada atau bertanya pada orang yang saya bisa percaya. Saya dalam posisi tidak percaya terhadap hitungan pemerintah negeri sendiri sebelum yang kontra memberikan data yang mendekati hasil penerintah!

Silahkan dianggap saya berpikiran negatif, tetapi saya sangat memperhatikan diskusi yang ada untuk mengubah pemikiran yang ada dalam otak saya.


Nengah Sudja

Yth.Rekan Milis , Sdr. Andryansyah dan Chairul,

Saya  tertawa sebelum menjawab, ha..ha…hi…hi. Cukup ya?

Maafkan pertanyaan saya menanyakan, apa displin ilmu Sdr. Chairul, memang pertanyaan personal ( mas Andryansyah), tapi bukan untuk merendahkan atau punya maksud jelek, hanya ingin tahu dengan harapan bagaimana saya dapat menjelaskan secara lebih baik, sehingga dapat  lebih mudah dimengerti.

Kalau Sdr. Chairul ngak mau menjawab, memang haknya bersikap begitu. Ngak maksa kok.

Saya sendiri tak keberatan memberi penjelasan apa displin ilmu saya,   umum  dilakukan  pada penulisan makalah, malahan presenter makalah diminta,dan lalu  dibacakan CV-nya yang relevan dengan masalah yang diajukan agar peserta maklum. Dalam youtube yang dikirimkan oleh Sdr. Chairul dapat didengarkan penjelasan dan  pengalaman saya dengan proyek PLTN (penjelasan dengan warna biru muda).

Pada statement sebelumnya saya katakan biaya investasi PLTN yang sebesar 1450 $/kWe yang hampir sama dengan biaya investment untuk PLTD bersumber pada studi CADES. Dalam study yang dilakukan tahun 2000-2002 tersebut, Diesel Power Plant dihargai investment costnya 1462 $.kWe. Yang paling murah itu Natural Gas sebesar 437 $/kWe. Mohon dikoreksi bagi bapak-bapak yang terlibat dalan studi ini. Saya hanya baca hasil laporannya saja🙂.

Biaya investasi PLTD itu bervariasi, ada diesel high speed (lebih murah), medium speed dan low speed (lebih mahal). Yang paling murah dari natural gas dengan 437  $/kW itu adalah Gas Turbin untuk memenuhi beban puncak (peak load) dan untuk beban dasar/menengah adalah PLTGU (lebih mahal) juga pakai gas alam.

Kalau saya meng-run WASP  tidak akan menggunakan PLTD yang pakai minyak di  Sistem Jamali ( yang relative sudah besar bebannya), sudah bisa menerima satuan besar yang biaya investmentnya lebih murah dari unit kecil. PLTD sudah jelas tak akan competitive (karena besar unitnya kecil puluhan MW) , kalau dipakai sebagai input hanya akan habiskan memori dan computing time. PLTD hanya kompetetive di system ketenagalistrikan kecil di beberapa daerah di luar Jamali. Dari sini saja bisa dilihat apa konsultan IAEA punya pengalaman utility ( kok pakai input diesel) ?.

Kebetulan saya kalau ngak salah kenal dua konsultan itu (kalau itu yang dimaksud), satu dari Rusia dan yang satu dari Jerman. Si Jerman ini tahun 1990 ikut studi menggunakan Markal dari  Research Center (Nuclear ) Juelich, Jerman dengan BPPT (saya sebagai senior scientist). Si Jerman ini, semula ngotot PLTN, tapi akhirnya setelah berhitung dengan nuclear plant costs 2190 US$ (base year 1989) per KW and 3 468 US$ per kW gross capacity including interest rate during construction. PTLN diakui dan disimpulkan bersama tak layak di JAWA.

Saya heran mengapa studi CADES yang dilakukan  menggunakan base cost 2260 $/kW bisa layak? Padahal si Jerman ini dengan angka yang lebih rendah telah mengakui dalam report sebelumnya setuju  PLTN itu kagak layak? Apa si Jerman yang ikut studi 1990 sama dengan yang studi 2000-2002? Saya Cuma ingat si Jerman ini  (bersama Orang BATAN) waktu itu mengundang saya makan  di SATE SENAYAN.

Saya juga heran mengapa PLTD dibawa-bawa? Yang diartikan dengan break-event pada tingkat $ 1450 $/kW ialah PLTN itu baru layak kalau base costnya sama atau bisa dibawah 1450 $/kW. Itu studi bauran studi  ESDM dan KNI-WEC yang saya ketahui.Rupanya Sdr Chairul ngak mau , tak percaya atau ngak ngerti apa konsep break-event ini?

Seperti bapak ketahui, studi CADES juga di assist oleh IAEA yang punya WASP itu. Jadi, kalau saya pribadi sangat percaya dengan hasil yang didapatkan.

WASP itu  tool generation expansion planning  yang dikembangkan atau sebutlah  punya IAEA ,benar. Tapi sekarang tergantung bagaimana menggunakan tool itu? Input apa yang dimasukkan? Siapa yang menggunakan? PLN juga menggunakan WASP, PLTN bukan merupakan solusi optimal, tapi sub-optimal. Di check tim bauran ESDM dan KNI-WEC , PLTN baru merupakan solusi optimal kalau base costnya 1 450 $/kW.

Jadi kalau Anda pribadi sangat percaya dengan hasil yang didapatkan CADES, hak ANDA. Ingat  percaya bagus  tapi perlu diverifikasi,   jangan percaya  membuta seperti  jatuh cinta buta. Hasil CADES perlu diverifikasi, coba dengan Attachment yang saya sampaikan.

Kalau boleh tanya personal lagi, apa ada kaitan ANDA dengan proyek PLTN ? Kalau saya  mah ngak ada. Malahan saya akan bikin dosa, PLTN murah saya katakana mahal, PLTN mahal saya pilih. Itu dilemma perencana. Seperti hakim:  yang ngak salah dihukum, yang salah dibebaskan.
Saya dari awal tidak percaya bahwa PLTN itu murah pak, justru PLTN itu mahal, namun saya percaya dia masih kompetitif dibandingkan dengan PLT lainnya, buktinya banyak kontraktor yang mau bangun diberbagai belahan dunia.

Anda sebut kontraktor lagi, yang dimaksud investor barangkali? Kalau kontraktor mah asal  ada untung pasti mau kerja, yang nanggung resikonya adalah investor, project owner. Karena berbagai ketidakpastian investor PLTN di negara maju ( di AS, Eropa) enggan invest di PLTN. Kan sudah pernah saya sampaikan.

Seperti telah saya ceritakan sejak 1976 saya sudah katakan  PLTN itu mahal,……amat mahal, apalagi setelah saya tahu akhir ini biaya pembangunan PLTN bisa sampai 8 000 $ per kW.

Kalau sudah didasari atas percaya/ngak percaya Diskusi ini rupanya ngak bisa diteruskan lagi. Seperti ada dusta di antara kita ,ya? Angka-angka ngak bisa dipakai, dipercaya  lagi. Walaupun demikian, sementara saya tutup Diskusi  dengan senyum ……..kecut. Rupanya saya belum berhasil menjelaskan pandangan saya kepada Sdr. Maaf, ya!  Wasting my time and yours.

SALAM.

Nengah Sudja.

Pendapat pribadi, independen, ,tak terikat  satu organisasi.

Bukan Anti Nuklir, Sedia Sharing Pendapat, Belajar , Berdikusi Bersama Mengenai PLTN.


Chairul Hudaya

Pak Andry,

Susah kalau kita tidak percaya sama pemerintah sendiri. Makanya kita tidak maju-maju.

Jadi apa yang didapat dari ikut program dibawah IAEA itu? Apa yang salah? Bisa di share hasilnya kepada kita semua?

bagi saya, seorang peneliti itu dilarang untuk berbohong, apalagi memberikan data dan fakta yang salah kepada publik.Kasihan publik jadi bingung.

Saya pribadi akan menolak kehadiran PLTN kalau memang secara ekonomis akan memberatkan rakyat Indonesia. Bukan sekedar asal-asalan ingin punya PLTN, terus masuk club nuclear seperti yang Pak Nengah sampaikan. Picik sekali jika kita punya alasan seperti itu.

Salam,

Chairul Hudaya

http://www.nuklir.info


Chairul Hudaya

Tanggapan saya menggunakan huruf berwarna biru.

2008/11/7 Nengah Sudja <nsudja@gmail.com> wrote :
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
<!–
document.write( ‘</’ );
document.write( ‘span>’ );
//–>

Maafkan pertanyaan saya menanyakan, apa displin ilmu Sdr. Chairul, memang pertanyaan personal ( mas Andryansyah), tapi bukan untuk merendahkan atau punya maksud jelek, hanya ingin tahu dengan harapan bagaimana saya dapat menjelaskan secara lebih baik, sehingga dapat  lebih mudah dimengerti.

Kalau Sdr. Chairul ngak mau menjawab, memang haknya bersikap begitu. Ngak maksa kok.

Kalau bapak memperhatikan, di bawah nama saya, pada email sebelumnya saya sudah jawab pak🙂

Saya juga heran mengapa PLTD dibawa-bawa? Yang diartikan dengan break-event pada tingkat $ 1450 $/kW ialah PLTN itu baru layak kalau base costnya sama atau bisa dibawah 1450 $/kW. Itu studi bauran studi  ESDM dan KNI-WEC yang saya ketahui.Rupanya Sdr Chairul ngak mau , tak percaya atau ngak ngerti apa konsep break-event ini?

Paham pak. Coba baca email saya sebelumnya hingga bisa nyangkut ke PLTD🙂

Jadi kalau Anda pribadi sangat percaya dengan hasil yang didapatkan CADES, hak ANDA. Ingat  percaya bagus  tapi perlu diverifikasi,   jangan percaya  membuta seperti  jatuh cinta buta. Hasil CADES perlu diverifikasi, coba dengan Attachment yang saya sampaikan.

Karena itu pak, saya untuk saat ini percaya pada studi ilmiah yang baru-baru ini dilakukan, yang tidak lain adalah CADES. Informasi dari bapak yang menyebutkan 8000 USD/kWe itu kan hanya dari artikel rencana McCain untuk membangun 45 nuclear power plants. Apakah kemudian kita pakai angka tersebut untuk kasus di Indonesia?? apa studi ilmiahnya?? Attachment yang mana ya pak? Hasil riset tahun 1993 kah? apakah relevan untuk kondisi saat ini?

Kalau boleh tanya personal lagi, apa ada kaitan ANDA dengan proyek PLTN ? Kalau saya  mah ngak ada. Malahan saya akan bikin dosa, PLTN murah saya katakana mahal, PLTN mahal saya pilih. Itu dilemma perencana. Seperti hakim:  yang ngak salah dihukum, yang salah dibebaskan.

Hehehe.. sama pak Nengah, saya tidak ada kaitan sama sekali dengan proyek PLTN ini. Kaitan saya hanya ingin membantu mencerdaskan masyarakat dibidang ini, yang saya nilai banyak sekali fakta-fakta yang dijungkir-balikkan ditengah masyarakat.

Anda sebut kontraktor lagi, yang dimaksud investor barangkali? Kalau kontraktor mah asal  ada untung pasti mau kerja, yang nanggung resikonya adalah investor, project owner. Karena berbagai ketidakpastian investor PLTN di negara maju ( di AS, Eropa) enggan invest di PLTN. Kan sudah pernah saya sampaikan.

Justru dari berita-berita yang saya tahu banyak investor/project owner yang berminat untuk membangun PLTN. Bukankah di Indonesia medco sudah tertarik dan menawarkan dirinya sebagai owner? Masalahnya kan sekarang kita sedang menunggu kebijakan pemerintah untuk go atau tidak, baru menentukan owner.

Seperti telah saya ceritakan sejak 1976 saya sudah katakan  PLTN itu mahal,……amat mahal, apalagi setelah saya tahu akhir ini biaya pembangunan PLTN bisa sampai 8 000 $ per kW.

Kalau sudah didasari atas percaya/ngak percaya Diskusi ini rupanya ngak bisa diteruskan lagi. Seperti ada dusta di antara kita ,ya?

Pak Nengah, jangan sampai ada dusta diantara kita Pak. Data yang saya sampaikan kan hasil studi ilmiah pakar-pakar Indonesia, karenanya saya percaya. Saya juga percaya akan studi yang dilakukan oleh si Jerman dimana bapak jadi senior scientist nya tahun 1990an. Namun, kita akan lebih percaya pada studi yang terbaru toh, karena merepresentasikan situasi dan kondisi terkini. Kalau ada studi ilmiah yang lebih baru lagi, khusus untuk PLTN di Indonesia, mohon diungkapkan.

Angka-angka ngak bisa dipakai, dipercaya  lagi. Walaupun demikian, sementara saya tutup Diskusi  dengan senyum ……..kecut. Rupanya saya belum berhasil menjelaskan pandangan saya kepada Sdr. Maaf, ya!  Wasting my time and yours.

Tenang Pak, tidak perlu senyum kecut, mending senyum yang ikhlas🙂 Saya pribadi mendapat banyak manfaat dari hasil diskusi ini, jadi tidak merasa terbuang waktu dengan percuma.

Silakan bagi rekan milis lainnya untuk mengoreksi atau menambahkan.


Andryansyah Rivai

Pak Chairul, kalau dikatakan banyak fakta yang dijungkir balikkan, yang mana saja itu. Saya khawatir, karena selalu menganggap penelitian terbaru adalah benar, lalu timbul pernyataan itu.

Jadi saya juga menanyakan, sebenarnya bidang apa yang pak Chairul dalami, apakah keselamatan secara keseluruhan atau yang mana? dan bekerja di institusi apa? Saya sendiri ada di pusat teknologi reaktor dan keselamatan nuklir – Batan, dan saya persisnya di bagian pengujian material, walau S1 saya teknik nuklir. Jadi sama seperti pak Nengah, saya kalau melihat diskusi yang seolah gak nyambung, maka perlu juga tahu latar belakang teman diskusi agar lebih bisa mengena.

Saya melihat pak Nengah menginginkan kalau pak Chairul serius dalam diskusi itu, maka tolong dihitung biaya itu menggunakan data yang pak Nengah berikan dan kalau data itu salah maka coba dicari nilai temunya. Tapi kalau dilawan hanya dengan mengatakan bahwa pak Chairul cukup percaya dengan hitungan CADES, maka pak Nengah merasa percuma. Saya sendiri termasuk yang tidak bisa percaya dengan mudah hasil perhitungan atau penelitian di negeri sendiri karena pengalaman saya selama ini, dan sepertinya itu juga yang saya tangkap dari pak Nengah.

Soal investor, asal punya uang dan bisa menguntungkan maka pasti mau. Tapi ini khan melihatkanya demi negara, menguntungkan atau malah merugikan. Coba lihat pengalaman yang ada di negeri ini, benarkan investor memperhatikan kepentingan negara?

Silahkan diperjelas,

Salam,

andry


Ekki Kurniawan

Salam Nuclear for Peace.

Salam Damai Sejahtera buat semua.

Wah diskusi nya seru lagi ye!

Kemarin saya sempatkan hadir pada “bengkel(workshop) persediaan dan perancangan kuasa nuklear kearah penyedian NUCLEAR POWER ROADMAP” di Dewan Tun Ismail Agensi Nuklear Malaysia.

Pesertanya terdiri pelajar2 university,wakil instansi pemerintah,suruhan jaya(kontraktor listrik) dll. Tapi yang paling banyak adalah wakil dari TNB (Tenaga Nasional Berhad/ PLN nya malaysia).

Belakangan saya tahu ternyata TNB lah yang paling bersemangat mewujudkan PLTN di Malaysia. Jika PLTN Malaysia jadi maka tentu yang menjadi owner dan penanggung jawabnya adalah TNB. Baru-baru ini TNB sudah menunjuk Dr Mohd Zam Zam bin Jaafar sebagai Head of Nuclear Energy Taskforce.

Salah satu tajuk yang dibahas dalam bengkel itu adalah: NUCLEAR POWER ECONOMICS AS KEY DECIDING FACTOR. Pembicara: Jamal Khaer Ibrahim,Director Planning & International Division Nuclear Malaysia.

Berikut disampaikan sebagian isi power point presentasinya:

Since nuclear power plants have high capital costs, but low operating costs, nuclear power generation can be competitive with alternative sources for base-load operation.

Nuclear plant construction costs generally higher, compared to coal or gas-fired plants, because of higher level of technology, sophistication of equipment, quality of material & quality assurance standards.

Even though such factors contribute to higher nuclear power plant capital cost,but once the plants are commissioned, variable or operating costs are minor.Thus,  nuclear power plants are most suitable for base-load.

Perbandingan harga di 10 Negara OECD (2005 IEA & NEA-OECD STUDY ON NUCLEAR POWER ECONOMICS) Involved 10 OECD member States.

Estimated base-load electricity generation costs with nuclear, coal, and gas plants.

Based on nuclear plant construction costs ranging from USD 1000 per kW in Czech Republic, to USD 2500 per kW in Japan, as compared to a range of USD 1000 to 1500 per kW for coal power plants and of USD 500 to 1000 per kW for gas plants. At 5% discount rate, nuclear plants are cheapest, with generation cost ranging between USD 20 to USD 40 per Megawatt-hour (MWh). As a result, nuclear electricity cheaper than coal in seven of the ten countries, and cheaper than gas in nine.

But lowest costs of nuclear electricity generation were in Republic of Korea, Czech Republic, Canada, and France, with the highest in Japan. At 10% discount rate, cost difference was closer, with levelised costs for nuclear electricity in a range of USD 30 to USD 50 per MWh, except of Japan, at almost USD 70 per MWh. Yet, nuclear generation was cheaper than coal in seven of the ten OECD countries,and also cheaper than gas in eight, at the 10% discount rate.

Terimakasih.

Bersambung,

InshaALlah.

Wsalam


Chairul Hudaya

Pak Andry dan rekan milis Yth,

Saya mohon maaf jika kata-kata saya telah menimbulkan salah sangka. Saya menganggap ini sebuah diskusi, bukan saling lawan-melawan, kualat saya kalau berani “melawan” senior kita Dr. Nengah Sudja. Perbedaan usia saya sama beliau saja hampir setengah abad. Jadi tentu saja saya banyak belajar dari yang beliau utarakan dimilis ini, tanpa merasa waktu saya terbuang dengan percuma.

Diskusi tidak nyambung? Mungkin iya juga, yang satu ingin cari informasi biaya keekonomian PLTN di Indonesia, yang satu lagi mengambil contoh PLTN kepunyaan orang. Padahal kita sudah sepakat, biaya bangun PLTN punya orang belum tentu bisa dipakai dinegeri sendiri.

Oke deh, sambil menunggu update informasi studi keekonomian PLTN di Indonesia, kita lihat hasil studi terbaru (November 2008) dari berbagai lembaga, seperti bisa dilihat disini :

http://www.world-nuclear.org/info/inf02.html

Hasilnya bervariasi, ada yang bilang masih economically attractive, ada juga yang bilang sudah tidak attractive. Saya copy kan beberapa point hasilnya dibawah ini.

Mohon maaf apabila ada kata-kata yang tidak berkenan.

Salam,

Chairul Hudaya
http://www.nuklir.info

PS : Pak Andry, untuk pertanyaan personal, akan saya jawab melalui japri..
——————

A UK study published early in 2008 put the average cost of four new 1250 MWe units at £1200 ($2400) per kilowatt and electricity cost 3.0 to 3.4 p/kWh (6-7 cents/kWh) on the basis of 40-year lifetime and 70% debt, 30% equity.

The US Congressional Budget Office undertook a study over 2007-08 quantifying the effects of likely carbon emission costs and limited federal subsidies on the commercial viability of new advanced nuclear technology in the USA. With carbon emission costs of about $45 per tonne CO2, nuclear would be competitive with coal and natural gas even without other incentives.  Conversely, the subsidies offered for the first 6000 MWe of advanced nuclear capacity would make it an attractive investment even without carbon emission costs.  However, uncertainties regarding nuclear plant construction costs and future gas prices could deter investment in nuclear projects.

Regarding bare plant costs, some recent figures apparently for overnight capital cost (or Engineering, Procurement and Construction – EPC – cost) quoted from reputable sources but not necessarily comparable are:

EdF Flamanville EPR: EUR 3.3 billion/$4.8 billion, so EUR 2000/kW or $2900/kW
Bruce Power Alberta 2×1100 MWe ACR, $6.2 billion, so $2800/kW
CGNPC Hongyanhe 4×1080 CPR-1000 $6.6 billion, so $1530/kW
AEO Novovronezh 6&7 2136 MWe net for $5 billion, so $2340/kW
KHNP Shin Kori 3&4 1350 MWe APR-1400 for $5 billion, so $1850/kW

FPL Turkey Point  2 x 1100 MWe AP1000 $2444 to $3582/kW

NEK Belene  2×1000 MWe AES-92 EUR 3.9 billion (no first core), so EUR 1950 or $3050/kW
UK composite projection $2400/kW
NRG South Texas 2 x 1350 MWe ABWR $8 billion, so $2900/kW

CPI Haiyang 2 x 1100 MWe AP1000 $3.25 billion, so $1477/kW
CGNPC Ningde 4 x 1000 MWe CPR-1000 $7.145 billion, so $1786/kW
CNNC Fuqing 2 x 1000 MWe CPR-1000 (?) $2.8 billion, so $1400/kW
CGNPC Bailong/Fangchengang 2 x 1000 MWe CPR-1000 $3.1 bilion, so $1550/kW
CNNC Tianwan 3&4, 2 x 1060 MWe AES-91 $3.8 billion, so $1790/kW

On the assumption that overall costs to the utility are twice the overnight capital cost of the actual plants, then the figures quoted above give:
SCEG Summer 2 x 1100 MWe AP1000 $2200/kW

Another indication of financing costs is given by Georgia Power, which said in mid 2008 that twin 1100 MWe AP1000 reactors would cost $9.6 billion if they could be financed progressively by ratepayers, or $14 billion if not.  This gives $4363 or $6360 per kilowatt including all other owners costs.

Mid 2008 vendor figures for overnight costs (excluding owner’s costs) have been quoted as:
GE-Hitachi ESBWR just under $3000/kW
GE-Hitachi ABWR just over $3000/kW
Westinghouse AP1000 about $3000/kW


Nengah Sudja

Yth. Mas Ekki dan Rekan Milis,

Terima kasih untuk  berita  dari Malaysia.

Lamo tak bersewo yo, Mas Ekki, bagaimana dengan studinya? Udah lulus diem2 ya, kita mau kasih ucapan Selamat nih.

Malaysia ini memang hebat. Lihat untuk perancangan kuasa nuklear kearah penyedian NUCLEAR POWER ROADMAP, mereka mau kumpul  diskusi rame-rame mengundang banyak pihak. Apa data-data , asumsi , model perencanaan apa  yang dipakai telah dibuka? Kalau boleh kirim dong kemari, sehingga kita bisa tahu berapa besar capital costnya, terdiri atas item2 apa saja? Di Indonesia saya kira unsur  labour costnya pasti lebih murah, sebab Malaysia pakai labour TK dari Indonesia dan Bangladesh yang dibayar lebih mahal dari buruh di Indonesia. Kan Twin Tower di KL juga diselesaikan dengan TK dari luar. Harga steel, semen, pipa, tembaga dll.  kira2 samalah. Tapi Capital Cost PLTN di Malaysia  juga bisa lebih murah karena tingkat seismicnya  lebih kecil dari pada di Jawa. Jadi Capital Cost  tiap tempat memang beda, tapi perbedaannya tidak besar, estimasi saya!

Saya kira Malaysia kalau benar mau   bangun PLTN, pasti bisa lebih cepat, karena kemampuan finacingnya baik. Jadi Mas Ekki tinggal di Malaysia dulu –lah cari pengalaman bangun PLTN disana dulu.   Indonesia  mah payah finance-nya, utangnya gde, cari  pinjaman sulit. Untuk membiayai yang 10 000 MW PLTU Batubara selesai 2009 itu katanya sulit banget.

Since nuclear power plants have high capital costs, but low operating costs, nuclear power generation can be competitive with alternative sources for base-load operation.

Kalau kalimat yang diatas itu, kita  mah udah tahu lama. Kita,  TNB dan PLN kan sama-sama  belajar / diajari IAEA sejak  1970-an (ketika saya masih aktif  di PLN). Benar, Cuma harus hati-hati pada kalimat  “ can be competitive”, kalau benar capital costnya ngak high, very high,  jadwal pembangunan tidak  terlambat (terlambat terjadi hampir pada semua proyek pltn), terjadilah  cost over-run, IDC naik dan pasokan listrik kurang (shortet of supply), harus bangun gas turbine untuk pengganti.

Kalau mau but low operating costs, pakai panas bumi saja (kita punya panas bumi  27 000 MW, dipakai baru 800 MW) harga uapnya pasti  stabil tetap rendah, tak terkantung lagi harga pasar,   sumur eksplorasi  sudah dibor  (paling ada tambahan bor sumur, kalau pasokan dari sumur lama berkurang). Fuel cost nuclear bergerak sesuai perkembangan pasar!.

Malaysia ngak punya panas bumi, tapi punya hydro plta Bakun di Serawak ( sekita 2000-an MW perlu  400 km kabel laut 500 kV ke Semenanjung Malaya). PLTP di Indonesia  bisa lebih murah dari pada PLTN , asal arah kebijakan panas bumi  benar dan jelas terarah.

Maaf ya kalau  salah kata, saya hanya mau berkelakar.

SALAM.

Nengah Sudja.

Pendapat pribadi, independen, ,tak terikat  satu organisasi.

Bukan Anti Nuklir, Sedia Sharing Pendapat, Belajar , Berdikusi Bersama Mengenai PLTN.


Dadi Maspanger

Yth. rekan2 ahli nuklir, dkk milis

Selamat pagi, perkenalkan saya orang awam di bidang nuclear power, namun sangat concern dengan topik tersebut. Pembahasan ttg PLTN akan tetap menarik, dan tambah seru dengan makin tingginya konsumsi listrik DN. Sebagai orang awam yang hanya bisa menangkap diskusi yang ringan2 saja, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan/tanyakan, sbb.

(1) Beberapa negara terpaksa memilih PLTN, karena sumber energi lainnya sangat minim….bandingkan dengan negara kita

(2) Apakah pendirian PLTN bukan merupakan jalan pintas dan bukan karena frustasi akibat desakan kebutuhan listrik DN, sementara pengembangan sumber non-nuklir yang lain masih tersendat-sendat dengan berbagai alasan.

(3) Apakah para suporter PLTN itu bukan semata-mata karena kompetensinya hanya disitu2 saja, dan ingin membuat suatu prestasi yang bersifat pribadi atau institusional, saya tidak menuduh ingin kececeran rejeki proyek lho. Sebaiknya kita lebih merenung untung ruginya bagi bangsa, dengan menjauhkan unsur2 subyektivitas.

(4) Referensi cavital cost dan operational cost dari PLTN di LN, apakah juga bisa diterapkan di Indonesia. Bukankah sudah menjadi rahasia umum, apa2 saja proyek di kita ini terkenal banyak side cost. Jika biaya pun akhirnya bisa ditekan, biasanya lewat penurunan kualitas bahan, sangat riskan bagi pembangunan PLTN yang perlu safety tinggi.

(5) Negara kita yang minim cadangan uraniumnya terpaksa harus impor. Apakah dlm perencanaan pembangunan PLTN sudah dipertimbangkan trend harga uranium impor dalam rentang waktu yang cukup lama, sesuai umur PLTN, 30 th an?. Bukankah juga akan fluktuatif sebagaimana halnya terjadi pada harga bahan bakar fosil.

(6)  Jika PLTN memiliki keunggulan dalam hal rendahnya emisi CO2, bukankan ada teknologi lain yang low carbon emission, terutama panas bumi, karena solar energy anget2kuku, angin sepoi2 dan ombak banyu saat ini belum ekonomis dalam skala luas.

(7) Barangkali kelewat, yang saya baca hanya perbandingan biaya PLTN dengan PL minyak/gas/coal. Apakah ada data perbandingan biaya PLTN dengan PLTA. Bayangan saya membangun PLTA cukup rumit dan biaya lebih tinggi, karena perlu penyediaan lahan yang luas dan elevasi tinggi, disertai pertimbangan kecukupan debit air.

(8) Mengapa tidak dikembangkan low head mikro-hidro, menurut rekan saya yang kompeten, katanya cukup head 2-3 m dan debit beberapa m3/s, cukup untuk 30 kW, bahkan bisa dikembangkan sampai 100 kW, sangat sesuai untuk menerangi desa2 terpencil. Bayangkan kalau kita bangun di desa2 sepanjang sungei (barito, kapuas, mahakam, musi, bgw.solo, cimanuk, citarum, dll sungei besar). Jika dijumlah akan cukup besar, dan ini bisa menghemat listrik PLN. Listriknya tidak perlu dibeli oleh PLN, mungkin bisa swakelola oleh koperasi atau kelembagaan setempat. Jika dikelola secara baik mungkin bisa kompetitif dengan harga listrik PLN, jelas harus dengan asumsi tanpa subsidi. Daripada dikorupsi, mending kita amalkan dana2 daerah/pusat untuk pembangunan PL yg  kecil2 tapi jumlahnya besar  itu.

Demikian uneg2 saya, percayalah ini mewakili suara 200 juta an rakyat Indonesia yang sangat mendambakan listrik murah, stabil dan aman……kitu cenah.

Terima kasih, salam, dadi


Arnold Soetristanto

Rekan milis,

Mungkin kita tidak perlu berdebat terlalu dalam soal bermacam-macam hitungan yang bikin kita sendiri bingung. Hasil-hasil hitungan tersebut kita acu saja sebagai masukan buat kita semua.

Kan tidak hanya harga listrik nuklir saja yang berbeda di setiap negara. Tetapi harga listrik batubara atau gas di berbagai negara juga berbeda hitungannya.

Yang penting adalah kemampuan negara/pemerintah/PLN untuk membeli listrik berapa? Dan pemerintah menentukan nilainya. Misalnya harga jual listrik gas, batubara (bersih!) dan nuklir ke PLN ditentukan MAKSIMUM 6 cent USD (Harga termurah dibanding harga listrik energi lainnya. Jika dihitung biaya eksplorasinya, maka panas bumi masih lebih mahal ?!?!, sekitar 7-8 cent USD).

Maka para pemasok listrik (gas/batubara/nuklir) akan mengejar dan memenuhi angka tersebut. atau bahkan lebih rendah, sesuai harga pemenangan tendernya. Jika nuklir belum bisa memenuhi angka tersebut (6 cent USD) berarti tidak akan pernah ada energi nuklir di Indonesia.

Salam,
Arnold


Nengah Sudja

Yth Rekan Milis,

Wacana  menarik  dari segi pandang   potential  pemasok  energi nuklir (Medco)  untuk pasokan listrik , patut diberi tanggapan.

Masalahnya, apakah atau dapatkah  kebijakan energi, pricing energy  diserahkan sepihak  kepada investor tanpa melibatkan  pemain lainnya, seperti pemerintah, pemasok energi lain (pln, pemasok batubara, gas alam,panas bumi, termasuk pemasok pltn lain) dan  kepentingan para konsumen listrik.?

Mari disimak, agar jelas/ mengalir, tanggapan saya diberi warna biru dibelakang wacana yang diposting.

Mungkin kita tidak perlu berdebat terlalu dalam soal bermacam-macam hitungan yang bikin kita sendiri bingung. Hasil-hasil hitungan tersebut kita acu saja sebagai masukan buat kita semua.

NS: Ini  dskusi bersama, boleh saja disebut debat, dengan tujuan bersama  membahas biaya pembangkitan tenaga listrik. Diskusi  dimulai dari tesis Opsi nuklir semakin gencar, yang kemudian saya sanggah, apa bener? Untuk dapat melakukan pembahasan yang ilmiah rasional memang perlu hitungan2. Tapi aneh mesti diberi  penjelasan hitungan, kok jadi  bingung sendiri (   kalau belum ngerti kan bisa tanya ) apalagi ada rinciannya. Masalahnya mau ngerti ngak?  “Hasil-hasil hitungan tersebut kita acu saja sebagai masukan buat kita semua “ Yang dimaksud hasil hitungan  mana yang mau dijadikan acuan , padahal katanya   bingung ?

Kan tidak hanya harga listrik nuklir saja yang berbeda di setiap negara. Tetapi harga listrik batubara atau gas di berbagai negara juga berbeda hitungannya.

NS: Biaya listrik yang dibangun  di satu tempat pasti berbeda dengan ditempat lain, karena  masing2 kondisi setempat  berbeda, baik struktur maupun komposisi pembangkitnya  berbeda. Biaya pembangunan PLTN di satu tempat (apalagi di negara lain) pasti berbeda mengingat besaran unsur biaya juga berbeda ( seperti labour cost, cost material, seismicity , transportation cost ).  Untuk itu diperlukan  hitungan misalnya dengan  computer program: The Concept Computer Program For Estimating Plant  Capital  Costs dari IAEA. Jadi perlu berhitung, tak ada jalan pintas. Kalaupun sudah dihitung di atas kertas, realisasi biayanya pasti akan beda. Tetapi hitungan estmasi tetap diperlukan al untuk susun anggaran.

Yang penting adalah kemampuan negara/pemerintah/PLN untuk membeli listrik berapa? Dan pemerintah menentukan nilainya. Misalnya harga jual listrik gas, batubara (bersih!) dan nuklir ke PLN ditentukan MAKSIMUM 6 cent USD (Harga termurah dibanding harga listrik energi lainnya. Jika dihitung biaya eksplorasinya, maka panas bumi masih lebih mahal ?!?!, sekitar 7-8 cent USD).

NS: Sebelum pemerintah dapat menentunkan nilai jual-beli listriknya, kan perlu hitungan2 nya dulu ? Berapa unsur capital cost, fuel , operation &maintenance costnya. Apa ada unsur cost yang lain, biaya pengawasan, pembongkaran, asuransi dsb-nya yang perlu ditambahkan?. Dengan hitungan2 ini pemerintah baru bisa mengbuat kebijakan harga, menetapkan harga pembelian dari swasta dan seterusnya menetapkan tarif  dasar listrik (TDL) bagi konsumen. Semua itu perlu hitungan2 dengan kompetensi  tinggi, sebab harga energi/listrik bagi kepentingan public harus ditetapkan atas asas  efisien dan adil.  Menarik pernyataan harga listrik dari nuklir  maksimum 6 cent USD per kWh. Dimasa lalu kita baca listrik dari pltn (BATAN) bisa dibawah 4 sen us$ per kWh. Sekali lagi perlu banyak hitungan dalam penyediaan pasokan listrik. Kalau mau bangun pltn tambah hitungan pltn-nya. Ini tuntutan profesinalisme!! High tech, more expertise is required  berbagai jenis displin, disini ekonomi, financing, bukan hanya fisika nuklir.

Maka para pemasok listrik (gas/batubara/nuklir) akan mengejar dan memenuhi angka tersebut. atau bahkan lebih rendah, sesuai harga pemenangan tendernya. Jika nuklir belum bisa memenuhi angka tersebut (6 cent USD) berarti tidak akan pernah ada energi nuklir di Indonesia.

NS: Untuk masalah ini lihat posting saya terkait posting Sdr Dadi Maspanger pola  kebijakan PURPA, avoided cost (8). Jelasnya kalau mau bertanggungjawab diperlukan banyak hitung2an   professional.  Agar jangan bigung sendiri, Tanyakan , diskusikan.

SALAM.

Nengah Sudja.

Pendapat pribadi, independen, ,tak terikat  satu organisasi.

Bukan Anti Nuklir, Sedia Sharing Pendapat, Belajar , Berdikusi Bersama Mengenai PLTN.


Budi Sudarsono

Untuk menjawab pertanyaan Sdr. Dadi secara seksama akan membutuhkan banyak waktu. Karena itu saya akan mencoba untuk menjawab satu per satu secara ringkas saja. Silahkan simak di bawah ini.

Budi Sudarsono
Ketua, Masyarakat Peduli Energi dan Lingkungan (MPEL); Sekretariat Tel. 62-021 75906564 ; Blog: http://feea3.blogspot.com/,
Anggota, Komisi Ahli Tenaga Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional.
Website pribadi: http://www.geocities.com/budi_sudarsono/index.html
Res./Fax sementara: +6221-7690288 Mob. +62812-9601614

(1) Beberapa negara terpaksa memilih PLTN, karena sumber energi lainnya sangat minim….bandingkan dengan negara kita

BS: Ada 32 negara yang mengoperasikan PLTN, banyak di antaranya tak memiliki sumberdaya energi sendiri dan harus mengimpor. Alasan memilih nuklir: karena peluang memanfaatkan biaya pembangkitan listrik lebih rendah, karena keamanan pasokan, karena lebih bersih dan aman, karena ingin memajukan sektor industrinya sendiri. Buat kita ada alasan tambahan: lebih mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam kita.

(2) Apakah pendirian PLTN bukan merupakan jalan pintas dan bukan karena frustasi akibat desakan kebutuhan listrik DN, sementara pengembangan sumber non-nuklir yang lain masih tersendat-sendat dengan berbagai alasan.

BS: Jalan pintas jelas bukan alasan memilih nuklir, karena perlu jangka waktu lama.

(3) Apakah para suporter PLTN itu bukan semata-mata karena kompetensinya hanya disitu2 saja, dan ingin membuat suatu prestasi yang bersifat pribadi atau institusional, saya tidak menuduh ingin kececeran rejeki proyek lho. Sebaiknya kita lebih merenung untung ruginya bagi bangsa, dengan menjauhkan unsur2 subyektivitas.

BS: Para pendukung nuklir tidak hanya terdiri dari orang2 nuklir, bahkan lebih banyak yang bukan ahli nuklir. Alasan pendukung adalah rasional.

(4) Referensi cavital cost dan operational cost dari PLTN di LN, apakah juga bisa diterapkan di Indonesia . Bukankah sudah menjadi rahasia umum, apa2 saja proyek di kita ini terkenal banyak side cost. Jika biaya pun akhirnya bisa ditekan, biasanya lewat penurunan kualitas bahan, sangat riskan bagi pembangunan PLTN yang perlu safety tinggi.

BS: Penurunan kualitas dan jalan pintas pelaksana pembangunan PLTN tidak bisa dan tidak boleh ditolerir. Pemilik PLTN wajib memiliki sistem penjaminan kualitas, demikian juga para pelaksana/pemborongnya, dan semuanya diawasi oleh instansi yang berwenang. Ditambah pengawasan internasional oleh IAEA dan instansi2 lain. Industri nuklir dunia akan memantau pelaksanaan pembangunan PLTN di Indonesia, baik langsung ataupun tidak langsung.

(5) Negara kita yang minim cadangan uraniumnya terpaksa harus impor. Apakah dlm perencanaan pembangunan PLTN sudah dipertimbangkan trend harga uranium impor dalam rentang waktu yang cukup lama, sesuai umur PLTN, 30 th an?. Bukankah juga akan fluktuatif sebagaimana halnya terjadi pada harga bahan bakar fosil.

BS: Persediaan uranium dunia saat ini masih cukup untuk 60-70 tahun lagi.  Maraknya pembangunan PLTN akan menyebabkan harga naik, kemudian usaha eksplorasi baru yang terpicu, dan cadangan baru akan ditemukan. Mineral uranium cukup banyak tersdia di permukaan bumi karena tidak termasuk yang langka.

(6)  Jika PLTN memiliki keunggulan dalam hal rendahnya emisi CO2, bukankan ada teknologi lain yang low carbon emission, terutama panas bumi, karena solar energy anget2kuku, angin sepoi2 dan ombak banyu saat ini belum ekonomis dalam skala luas.

BS: Semua teknologi akan kita perlukan, yang paling menentukan pilihan adalah persaingan ekonomi. Kalau terlalu mahal, tak akan terpilih.

(7) Barangkali kelewat, yang saya baca hanya perbandingan biaya PLTN dengan PL minyak/gas/coal. Apakah ada data perbandingan biaya PLTN dengan PLTA. Bayangan saya membangun PLTA cukup rumit dan biaya lebih tinggi, karena perlu penyediaan lahan yang luas dan elevasi tinggi, disertai pertimbangan kecukupan debit air.

BS: Untuk Jawa-Madura-Bali pilihan terbatas pada fosil, panasbumi dan nuklir. Tenaga air hanya bisa dalam skala kecil.

(8) Mengapa tidak dikembangkan low head mikro-hidro, menurut rekan saya yang kompeten, katanya cukup head 2-3 m dan debit beberapa m3/s, cukup untuk 30 kW, bahkan bisa dikembangkan sampai 100 kW, sangat sesuai untuk menerangi desa2 terpencil. Bayangkan kalau kita bangun di desa2 sepanjang sungei (barito, kapuas, mahakam, musi, bgw.solo, cimanuk, citarum, dll sungei besar). Jika dijumlah akan cukup besar, dan ini bisa menghemat listrik PLN. Listriknya tidak perlu dibeli oleh PLN, mungkin bisa swakelola oleh koperasi atau kelembagaan setempat. Jika dikelola secara baik mungkin bisa kompetitif dengan harga listrik PLN, jelas harus dengan asumsi tanpa subsidi. Daripada dikorupsi, mending kita amalkan dana2 daerah/pusat untuk pembangunan PL yg  kecil2 tapi jumlahnya besar  itu.

BS: Salah satu yang prospektif memang mini dan mikro-hidro. Namun harus disediakan sumber pendanaan, yang sebenarnya dapat digalang oleh Pemerintah maupun swasta. Mungkin perlu subsidi modal/kredit. Namun untuk pembangkit besar, jelas sulit.


Dadi Maspanger

Terima kasih sdr. Budi, saya sangat menghargai respon anda, setelah sebelumnya tidak ada yang memberi komentar, mungkin lagi pada sibuk. Merupakan tambahan pencerahan bagi orang awam yang terombang-ambing pro-kontra. Salam.


Nengah Sudja

Yth. Rekan Milis,

Pertanyaan Sdr. Dadi  Maspanger penting,  perlu  mendapat  jawaban guna mencari  kebenaran arah  kebijakan energi di negara kita. Oleh karena itu jawaban yang lebih mendalam dan rinci sepatutnya diberikan, bahkan  oleh pihak pemerintah sebagai penyeleggara pemerintahan negara.

Pertanyaan kearah itu, pernah  saya  ajukan  pada satu seminar di Bimasena  kepada Menteri ESDM apa landasan kebijakan pembangunan  4 unit @ 1000 MW di Muria?Jawaban  mengecawakan ( disampaikan  didepan peserta), beliau mengatakan agar saya menghubungi stafnya.

Jawaban singkat  Pak Budi atas pertanyaan Sdr. Dadi  Maspanger bagi saya lemah, tak  disertai rincian , rasionalitasnya tak jelas.

Mari disimak bersama tanggapan saya ( seperti biasa diberi huruf biru muda) dibawah tulisan Pak Budi.

Terima kasih Pak Dadi dan Budi Sudarson untuk posting Sdr2. sehinnga saya bisa menyampaikan tanggapan berikut.

(1) Beberapa negara terpaksa memilih PLTN, karena sumber energi lainnya sangat minim….bandingkan dengan negara kita

BS: Ada 32 negara yang mengoperasikan PLTN, banyak di antaranya tak memiliki sumberdaya energi sendiri dan harus mengimpor. Alasan memilih nuklir: karena peluang memanfaatkan biaya pembangkitan listrik lebih rendah, karena keamanan pasokan, karena lebih bersih dan aman, karena ingin memajukan sektor industrinya sendiri. Buat kita ada alasan tambahan: lebih mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam kita.

NS: Kembali lagi pengulangan jawaban standar   PLTN itu murah , bersih dan aman ( mengarah bohong,tak didasari data pendukung). Berapa perbandingan biaya pembangkitan PLTN terhadap pembangkit lain tak diberi uraian/ rincian?. Bersih setuju, kalau PLTN tak mengalami kesalahan operasi /kecelakaan, tapi pengadaan fuel nuklir, mulai dari penambangan , pabrikasi, enrichment dan kemudian pembersihan lokasi (decommisionig) dapat sangat tidak bersih. Aman benar, kalau tak terjadi kecelakaan. Statistik kecelakaan PLTN cukup besar, walaupun kecelakaan yang fatal terjadi di  dua tempat Three miles Island Chernobyl, yang nyata tak bisa disembunyikan lagi, sementara kecelakaan  tak sampai fatal banyak disembunyikan, yang membuat badan pengawas (regulatory) marah. Mengoptimalkan sumber daya alam, berkali-kali saya jelaskan  di Jamali PLTN hanya solusi suboptimal, artinya ngak optimal.

Ada 32 negara di dunia mengopersaikan PLTN dari berapa Negara di dunia , ngak disebutkan. Contoh dari lima negara maju  Skandinavia  (Finland, Denmark, Swedia, Norwegia dan Islandia) hanya Finland dan Swedia yang punya pltn. Karena penyediaan tenaga listrik mereka tentu mengacu pada solusi least cost berdasarkan sumberdaya local tersedia di negara masing-masing. Norwegia mengacu pada hydro (hampir 100%), Islandia pada panas bumi. Denmark Negara tempat kelahiran Niels Bohr ( satu dari bapak nuklir dunia), justeru tidak membangun pltn ( pltu, diesel ketika minyak murah dan terakhir ke angin yang banyak). Swedia punya 10 pltn 8910 MW, memikirkan menutup pltn dan tak punya rencana bangun pltn baru. Finlandia yang punya  gambut (peat) membangun pltn ke lima 1630 MW, mengalami keterlambatan penyelesaian proyek, biaya modalnya meningkat menjadi 4 500 Euro per kW.

Negara maju seperti Swedia, Jerman berpikir menghentikan pembangunan pltn, sepatutnya dijadikan signal, bahwa  ada something wrong dengan pltn (bisa tak murah, ngak bersih, berbaya). Sungguh anek bin ajaib, Indonesia yang punya sumberdaya alam memadai, punya utang banyak, mengoperasikan pltu , pesawat terbang, kereta api (safety subculture) ngak beres, kok ngeden mau bangun/punya  pltn? Mbok sadar, bercermin-lah. Belum sadar bahaya  capitalisme, teknologi usang mau dibuang ke negara berkembang. Kalo toh mau pltn, mbok belajar dan ikuti upaya pengembangan pltn, misalnya tunggu  generasi ke 4 behasil dikembangkan!

(2) Apakah pendirian PLTN bukan merupakan jalan pintas dan bukan karena frustasi akibat desakan kebutuhan listrik DN, sementara pengembangan sumber non-nuklir yang lain masih tersendat-sendat dengan berbagai alasan.

BS: Jalan pintas jelas bukan alasan memilih nuklir, karena perlu jangka waktu lama.

NS: Kalau bukan jalan pintas lalu apa motivasinya , silahkan beri rincian. Perencanaan  pembangkit lainpun juga  perlu jangka  waktu lama, tapi lebih cepat dari PLTN.

(3) Apakah para suporter PLTN itu bukan semata-mata karena kompetensinya hanya disitu2 saja, dan ingin membuat suatu prestasi yang bersifat pribadi atau institusional, saya tidak menuduh ingin kececeran rejeki proyek lho. Sebaiknya kita lebih merenung untung ruginya bagi bangsa, dengan menjauhkan unsur2 subyektivitas.

BS: Para pendukung nuklir tidak hanya terdiri dari orang2 nuklir, bahkan lebih banyak yang bukan ahli nuklir. Alasan pendukung adalah rasional.

NS: Jawabannya kok arogan banget. Silahkan buat daftar yang pro dan kontra, dengan spsecialisasinya. Kalau toh yang pro pendukung pltn lebih banyak orang2 nuklirnya, kebenaran  ilmu,pilihan teknologi  tidak seperti di politik, the winner /majority takes  all. Apakah pilihan yang pro nuklir karena  mau  hidup dari bisnis nuklir  atau ingin  dapat setoran dari mega proyek nuklir? Rasionalnya dimana, murah ,bersih , aman itu? (lihat wacana (1)).

(4) Referensi cavital cost dan operational cost dari PLTN di LN, apakah juga bisa diterapkan di Indonesia . Bukankah sudah menjadi rahasia umum, apa2 saja proyek di kita ini terkenal banyak side cost. Jika biaya pun akhirnya bisa ditekan, biasanya lewat penurunan kualitas bahan, sangat riskan bagi pembangunan PLTN yang perlu safety tinggi.

BS: Penurunan kualitas dan jalan pintas pelaksana pembangunan PLTN tidak bisa dan tidak boleh ditolerir. Pemilik PLTN wajib memiliki sistem penjaminan kualitas, demikian juga para pelaksana/pemborongnya, dan semuanya diawasi oleh instansi yang berwenang. Ditambah pengawasan internasional oleh IAEA dan instansi2 lain. Industri nuklir dunia akan memantau pelaksanaan pembangunan PLTN di Indonesia, baik langsung ataupun tidak langsung.

NS: Kalau benar pengawasan berjalan baik, maka tidak akan ada proyek pltn yang sampai  mengalami kecelakaan dan bahkan beberapa proyek ditolak operasinya sejak awal karena dinilai tak memenuhui tuntutan keamanan  public safety. Terjadi penolakan operasi seperti di Amerika di USA, Jerman, Austria, Filipina untuk menyebut beberapa.

(5) Negara kita yang minim cadangan uraniumnya terpaksa harus impor. Apakah dlm perencanaan pembangunan PLTN sudah dipertimbangkan trend harga uranium impor dalam rentang waktu yang cukup lama, sesuai umur PLTN, 30 th an?. Bukankah juga akan fluktuatif sebagaimana halnya terjadi pada harga bahan bakar fosil.

BS: Persediaan uranium dunia saat ini masih cukup untuk 60-70 tahun lagi.  Maraknya pembangunan PLTN akan menyebabkan harga naik, kemudian usaha eksplorasi baru yang terpicu, dan cadangan baru akan ditemukan. Mineral uranium cukup banyak tersdia di permukaan bumi karena tidak termasuk yang langka.

NS: Cadangan uranium Indonesia 24 112 ton, cukup untkuk pemakaian 3000 MW selama 11 tahun (ESDM).  Cadangan uranium dunia cukup untuk operasi pltn  50 tahun, didasarkan atas global high-grade reserves amount 3.5 million tons. Given that the current use of uranium is about 67 000 tons per year. Tambahan pltn akan memicu kenaikan harga pasti. Mineral uranium cukup banyak dibumi, apa bisa beri rincian dan perkiraan harganya? Bayangkan kalau pembangunan nuklir dua kali daya yang ada sekarang, cadangan uranium akan habis dalam 25 tahun. Padahal katanya umur pltn bisa sampai 40 tahun.  Karena alasan mahal, berbahaya,  terbatasnya cadangan tak akan ada renesans pembangunan nuklir (ini hanya propaganda industri nuklir) yang ada  baru hanyalah renesans wacana diskusi nuklir.

(6)  Jika PLTN memiliki keunggulan dalam hal rendahnya emisi CO2, bukankan ada teknologi lain yang low carbon emission, terutama panas bumi, karena solar energy anget2kuku, angin sepoi2 dan ombak banyu saat ini belum ekonomis dalam skala luas.

BS: Semua teknologi akan kita perlukan, yang paling menentukan pilihan adalah persaingan ekonomi. Kalau terlalu mahal, tak akan terpilih.

NS: CO2 juga dihasilkan pada proses fuel cycle nuclear seperti saya uraikan pada (1). Kalau pengertian kita sama, disini saya setuju dengan Pak Budi: “, yang paling menentukan pilihan adalah persaingan ekonomi. Kalau terlalu mahal, tak akan terpilih”. Inilah inti pembahasan kita, membahas kelayakan ekonomi pltn,  tapi rincian perbandingan  biaya pembangkitan pro nuklir yang didukung banyak ahli perlu  kita tunggu2, kapan ya?. Yang disampaikan di negara ini, negara anu, dengan mengutip IEA, WNA pltn lebih murah tanpa disertai rincian. Setahu saya IAEA badan kompetensi nuklir terakhir ini tak mempublikasikan pltn murah? Kalau benar mari kita bahas bersama.

(7) Barangkali kelewat, yang saya baca hanya perbandingan biaya PLTN dengan PL minyak/gas/coal. Apakah ada data perbandingan biaya PLTN dengan PLTA. Bayangan saya membangun PLTA cukup rumit dan biaya lebih tinggi, karena perlu penyediaan lahan yang luas dan elevasi tinggi, disertai pertimbangan kecukupan debit air.

BS: Untuk Jawa-Madura-Bali pilihan terbatas pada fosil, panasbumi dan nuklir. Tenaga air hanya bisa dalam skala kecil.

NS: Cadangan hydro yang besar di Jamali sudah habis terbangun, tinggal satu yang besar PLTA Jati Gde  di Jawa Barat. Biaya pembangunan PLTA  tergantung pada struktur  alam terkait pembangunan bendungan (bila dapat dibangun dam yang kecil, murah). Jatiluhur, Sagguling, merupakan plta murah dengan biaya 2,5 sen $ per kWh. Banyak micro hydro tersedia di Jawa-Bali yang bisa dikembangkan dengan biaya murah.

(8) Mengapa tidak dikembangkan low head mikro-hidro, menurut rekan saya yang kompeten, katanya cukup head 2-3 m dan debit beberapa m3/s, cukup untuk 30 kW, bahkan bisa dikembangkan sampai 100 kW, sangat sesuai untuk menerangi desa2 terpencil. Bayangkan kalau kita bangun di desa2 sepanjang sungei (barito, kapuas, mahakam, musi, bgw.solo, cimanuk, citarum, dll sungei besar). Jika dijumlah akan cukup besar, dan ini bisa menghemat listrik PLN. Listriknya tidak perlu dibeli oleh PLN, mungkin bisa swakelola oleh koperasi atau kelembagaan setempat. Jika dikelola secara baik mungkin bisa kompetitif dengan harga listrik PLN, jelas harus dengan asumsi tanpa subsidi. Daripada dikorupsi, mending kita amalkan dana2 daerah/pusat untuk pembangunan PL yg  kecil2 tapi jumlahnya besar  itu.

BS: Salah satu yang prospektif memang mini dan mikro-hidro. Namun harus disediakan sumber pendanaan, yang sebenarnya dapat digalang oleh Pemerintah maupun swasta. Mungkin perlu subsidi modal/kredit. Namun untuk pembangkit besar, jelas sulit.

NS:  Pengembangan pembangkit listrik terkait pricing policy. PURPA (public utilty regulatory power act) di USA mewajibkan perusahaan listrik mengumumkan berapa long-run  marginal cost pasokan listriknya. Siapapun yang bisa menawarkan listrik lebih murah dari marginal cost , public utility wajib membeli listriknya ( disebut avoided cost). Di Jerman untuk solar energy, wind energy diberlakukan pricing policy berdasarkan harga jual tertentu. Masyarakat rame2 mengembangkan energi terbarukan, pengembangan secara desentralisai oleh usaha2  kecil, pemanfaatan teknologi yang lebih sederhana, pengembangan industri kecil, lebih demokratis, multiplier effectnya lebih besar  dari pada pltn yang terpusat  pada satu perusahaan besar.

Demikian uneg2 saya, percayalah ini mewakili suara 200 juta an rakyat Indonesia yang sangat mendambakan listrik murah, stabil dan aman……kitu cenah.

Semoga penjelasan saya bisa meringankan  uneg2 Pak Dadi,  memberikan harapan, silent  majority  mewakili suara 200 juta an rakyat Indonesia yang sangat mendambakan listrik murah, stabil dan aman.

Terima kasih.


Arnold Soetristanto

Ini Pak RDP yang di milis migas kan!
Kalau orang energi memang bisa ketemu di mana saja, asal masih membahas soal energi.

Nuklir di Medco belum sampai mana-mana Pak, kita hanya siap2 saja. Kan kita semua masih menunggu keputusan pemerintah untuk Go Nuklir. Mudah2an jika pemerintah sudah go, maka medco juga sudah siap untuk berpartisipasi.

Owner dan manajemen Medco lebih jeli dan lebih berani untuk mengambil keputusan. Mereka melihat bahwa nuklir adalah “SALAH SATU” energi yang mungkin berkembang di masa depan di Indonesia khususnya di Pulau Jawa yang miskin energi.

Aku sendiri, walaupun sebagai orang nuklir, tetapi aku cenderung melihat bahwa pemecahan permasalahan security energi di Indonesia saat ini hanya bisa dipecahkan dengan energi mix atau bauran energi. Semua energi harus dipertimbangkan dan dicoba untuk diimplementasikan dan dikompetisikan. Jangan belum dicoba sudah bilang no.

Memang kita belum bisa meninggalkan energi fosil, yang saat ini masih menjadi tulang punggung, an mungkin masih akan demikian sampai 20-30 tahun mendatang. Meskipun demikian energi baru dan terbarukan lainnya termasuk nuklir harus tetap dikembangkan dengan melihat kesiapan aspek teknis dan ekonomisnya.

Di Jepang saja seingat saya listriknya untuk 20 tahun ke depan masih akan mengandalkan fosil 50%, nuklir 40% dan EBT 10% (kira2!). Bukan hal yang mudah untuk switch dari energi satu ke energi lainnya. Diperlukan penyiapan sarana dan prasarananya dari hulu ke hilir. Dan ini mahal sekali biayanya, baik biaya ekonomi maupun sosialnya.

Salam,
Arnold

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: