You are reading..
Nuclear Pros-Cons

Komponen Biaya PLTN

Ini saya rangkumkan diskusi seputar PLTN di Milis IndoEnergy. Selamat membaca.


Chairul Hudaya

Rekan Milis Yth.

Ini saya sari-kan beberapa point komponen biaya PLTN untuk pengetahuan kita semua.

Sumber : Buletin IAEA 2007: Nuclear Power, how competitive down the line

Salam,
Chairul Hudaya
http://www.nuklir.info

———————

Nuclear power is much more capital-intensive than alternative baseload fossil-fuel technologies such as gas-fired CCGT and coal-fired plants. Of the three major components of nuclear generation costcapital, fuel and operation and maintenancethe capital cost component makes up approximately three-quarters of the total. It represents only about 20% of total costs for a CCGT.

Nuclear-fuel costs consist of front-end and back-end costs. The front-end costs are the cost of uranium (about 25% of the total fuel cost), its conversion (5%), enrichment in light water reactors (30%) and fabrication into fuel assemblies (15%). The back-end costs (roughly 25% of the total fuel cost) include direct disposal or reprocessing followed by recycling of the fissile material for reuse. The costs of direct disposal, as currently borne by utilities, consist of the cost of on-site storage plus the provision for ultimate waste disposal levied in some countries. These costs are only a small percentage of the total generating cost.

Fuel costs are a small component of nuclear power generating costs. A 50% increase in uranium, gas and coal prices (compared with the base assumptions) would increase nuclear generating costs by about 3%, coal generating costs by 21% and CCGT generating costs by 38%, demonstrating the greater resilience of nuclear generation to fuel price risks.

Decommissioning costs reported for existing plants range from $200-500/kW for western PWRs (in year-2001 dollars), $330 for Russian VVERs, $300-550 for BWRs, $270-430 for Canadian CANDU, and as much as $2 600 for some UK gas-cooled Magnox reactors. Decommissioning costs for plants built today are estimated at 9% to 15% of the initial capital cost, but when discounted, they amount to only a small percentage of the investment cost. Overall, decommissioning accounts for only a small fraction of total electricity generation costs. In the United States, power companies are collecting 0.1 cents to 0.2 cents per kWh to fund decommissioning.



Budi Sudarsono

Rekan Anggota ML Indoenergy Yth.,

Terima kasih kepada Sdr. Chairul Hudaya yang telah menyampaikan informasi sangat berguna. Artikel dalam Bulletin IAEA itu ditulis oleh Tokoh IEA yang berkedudukan di Paris dan IEA tentu Anda mengetahui bukan instansi yang pro nuklir melainkan instansi yang baru saja menyadari prospek pentingnya peran nuklir di masa depan.

Budi Sudarsono
Ketua, Masyarakat Peduli Energi dan Lingkungan (MPEL); Sekretariat Tel. 62-021 75906564 ; Blog: http://feea3.blogspot.com/,
Anggota, Komisi Ahli Tenaga Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional.
Website pribadi: http://www.geocities.com/budi_sudarsono/index.html
Res./Fax sementara: +6221-7690288 Mob.
+62812-9601614



Arnold Soetristanto

Betul Pak Chairul, semua biaya komponen standard IAEA ini selalu diperhitungkan dalam menentukan biaya pembangkitan listrik nuklir, baik di Batan maupun di Medco.

Bisa dikatakan semua biaya lingkungan energi nuklir sudah dimasukan/dibebankan ke harga listriknya. Dan ini tidak diterapkan di jenis energi yang lainnya. Harga listrik nuklir 5-6 cent/kWh sudah termasuk biaya lingkungannya, khususnya biaya penyimpanan limbah dan dekomisioning.

Termasuk juga untuk biaya pertangungjawaban kerugian nuklir (sesuai RPP/draft Perpres yang saat ini sedang disusun) sekitar 3 trilyun yang harus disiapkan oleh owner sebagai dana cadangan (insurance) saat akan mengoperasikan PLTN.

Salam,
Arnold



Nengah Sudja

Yth Rekan Milis , Sdr Chairul Hudaya,

Pertama saya  ucapkan terima kasih pada Sdr. Chairul, yang rajin baca, aktif diskusi, cari informasi  dan men- posting  Buletin IAEA 2007: Nuclear Power, how competitive down the line.

Mari di simak   perbandingan  Electricity Generating Cost  pada  bulletin ini, untuk menguji keekonomiannya.

Dari bulletin ini perlu disampaikan  tidak ada  rincian cukup  mengenai :

–          capital cost kecuali untuk Nuclear ( 2 000 $/kW untuk low , 2 500 $/kW  high case capital cost). Untuk pembangkit lain tak saya temukan.

–          fuel cost untuk harga gas alam dipakai  6-7 $/MBTU dan coal 55 $/ton

Sehingga saya  tak bisa melakukan verifikasi bagaimana cost of generation pembangkit base load  Mr. F. Birol  tsb diperoleh.

Karena itu kita terima saja angka2 cost of generation yang ditampilkan Mr Birol.

Untuk penyederhanaan , mari kita   diperbandingkan biaya pembangkitan antara  Nuclear dan Steam Coal saja (kalau mau lengkap silahkan bandingkan semua pembangkit yang ditampilkan).

Cost generation yang saya temukan secara digit dan baca dari gambar ialah:

High  Discount Rate Case : Nuclear ( high capital ) 8,1     sen/kWh ; Nuclear (low ) 6,8 sen/kWh ;   Coal Steam  6,0 sen/kWh.

Low Discount Rate Case :  Nuclear ( high capital )  5,7     sen/kWh ;  Nuclear (low ) 4,9 sen/kWh ;   Coal Steam  5,0 sen/kWh.

Dari uraian diatas perbedaan biaya Nuclear dengan Coal:

Case 1: High  Discount Rate Case, High Capital  perbedaan biaya : 8,1- 6,0   =  2,1  sen/kWh ( perbandingan N/C= 1,35 :1).

Case 2:  High  Discount Rate Case, Low Capital  perbedaan biaya : 6,8 – 6,0 =  0,8  sen/kWh ( perbandingan N/C= 1,13 :1).

Case 3:  Low Discount Rate Case, Low Capital   perbedaan biaya  : 5.7- 5,0   = 0,7  sen/kWh  ( perbandingan N/C= 1,14 :1).

Case 4 : Low Discount Rate Case, High Capital  perbedaan biaya : 4,9-5,0   = -0,1 sen/kWh.  ( perbandingan N/C= 0,98:1).

Saya ulangi postingku sebelumnya, untuk setiap satuan unit 1 000 MW pada perbedaan biaya 1 sen/kWh,  operating hour

7 000 h/a,  menghasikan perbedaan biaya pembangkitan  sebesar :

1 000 000 kW x 7000 h/a x  0,01 $/ kWh = 70 000 000 $/a.

Untuk kurun waktu 30 tahun, perbedaan biaya : 2,10 milyar $/ 30tahun.

Untuk perbandingan diatas:

–          Case 1 : Nuclear    lebih mahal       4,41  milyar $/30 tahun;  Case 2: Nuclear lebih mahal 1,68 milyar / 30tahun ;

–          Case 3 : Nuclear   lebih mahal        1,47  milyar $/30 tahun;  Case 4: Coal  lebih mahal      0,21  milyar / 30tahun ;

Hanya pada Case 4 : Nuclear kompetetive  bila dipakai Capital Cost PLTN 2 000 $ per kW., dengan pebedaan biaya   210 juta $ untuk waktu pengusahaan 30 tahun. Nuclear lebih murah 2 % ( perbandingan N/C= 0,98:1). Pada tiga cases yang lain pltn tak layak keekonomiannya. Atau bisa juga dikatakan break-even N dan C  pada tingkat  N capital cost 2000 $/kW.

Pertanyaan kritis yang perlu diajukan bisakah biaya pembangunan PLTN di Indonesia $ 2000 per kW ? Karena itu  pernyataan bahwa  biaya pembangunan PLTN bisa dengan $ 2000 /kW perlu diperoleh  rinciannya (minimal terdiri atas cakupan item apa saja), mengingat kelayakan keekonomian pltn sangat tergantung pada kepastian mengenai capital cost.

Biaya pembangunan PLTN terakhir di negara maju yang sudah punya pengalaman bangun pltn seperti unit ke-2  di Olkiluoto /Finlandia, semula dianggarkan 3 billion Euro (bukan US$) mengalami over budget 25 % karena keterlambatan penyelesainnya. Patut dicatat  keterlambatan  hampir terjadi pada kebanyakan pembangunan pltn di dunia. Apa untuk Indonesia, ada kepastian/ jaminan biaya pembangunan bisa sebesar 2000 $ per kW.

Tulisan saya  ini hanya membahas artikel di Bulletin IAEA yang disampaikan Sdr Chairul.

Dalam  kampanye calon presiden McCain (masak berani bohong didepan public, pasti angka tsb berasal dari staf ahlinya) menyatakan akan membangun 45 units  dengan anggaran  315 milyar US $, atau 7000 $/kW. Anggaran pembangunan pltn terakhir  di Florida 8 000 $/kW.

Sekian dulu, sebelum  dilanjutkan, silahkan sampaikan tanggapan.

Mohon diperiksa apakah saya salah membaca perbadingan Electricity Generating Cost dari bulletin IAEA?

Terima kasih Sdr. Chairul Hudaya untuk posting yang disampaikan, pemberian  kesempatan bagi saya untuk melakukan bahasan.

SALAM.

Nengah Sudja.

Pendapat pribadi, independen, ,tak terikat  satu organisasi.

Bukan Anti Nuklir, Sedia Sharing Pendapat, Belajar , Berdikusi Bersama Mengenai PLTN.



Zaki

All,

Saya mengapresiasi pendapat Pak Nengah, akan tetapi menurut saya membandingkan nuklir dg coal atau gas tidak tepat kalau kita bicara diversifikasi energi.

Saya sendiri percaya bahwa keekonomian nuklir lebih rendah dibandingkan gas maupun batubara, akan tetapi saya mendukung diversifikasi energi, sehingga kalau membahas nuklir dibandingkannya dg sumber energi lain yg saat ini kontribusinya utk energi mix Indonesia masih kecil, misal panas bumi, biomass, dll, utk mencari potensi sumber energi berikutnya yg perlu dimanfaatkan/dieksploitasi utk memberikan manfaat yg maksimal bagi bangsa.

Kalau membandingkannya selalu dg batubara dan gas, artinya arah pembicaraannya adalah menolak diversifikasi energi alias pro kepada eksploitasi maksimal sumber gas dan batubara kita. Kita bandingkan nuklir dg batubara dan gas lalu kalah,lalu kita putuskan tidak didevelop. Kita bandingkan panas bumi lalu kalah dari batubara dan gas, lalu kita tidak develop. Kita bandingkan biomass lalu kalah dari batubara dan gas, lalu kita tidak develop. Kita bandingkan angin lalu kalah dari batubara dan gas lalu kita tidak develop. Lalu tiba2 gas habis, batubara habis, lalu kita sdg bangsa berhenti karena ga ada energi.

Salam,

Zaki



Nengah Sudja

Yth. Pak Zaki,

Pertama : posting yang saya sampaikan berkaitan dengan posting Sdr Chairul Hudaya terkait dengan artikel pada bulletin IAEA. Dimana untuk pembahasan haya saya bandingkan  nuclear dan coal  untuk memudahkan Diskusi.

Yang disampaikan Mr. Birol/ IAEA hanyalah upaya memberi gambaran perbandingan biaya pembangkitan base-load several power plants ( mohon diperiksa kembali artikel Birol yang diposting Sdr Chairul Hudaya).

Kedua : dalam generation expansion planning dengan menggunakan Computer Program WASP misalnya, dilakukan simulasi dalam upaya  memenuhi kebutuhan listrik (dalam kW, kWh) secara optimal untuk kurun waktu jangka panjang (25 tahun misalnya) dengan input berbagai jenis pembangkit (pltn, pltu batubara, pltgu gas alam, panas bumi, plta dan pltg misalnya, dengan karakter teknis, perkiraan biaya modal, harga setiap bahan kabar, tingkat efisiensi masing2 jenis pembangkit, biaya operasi & pemeliharaan dstnya). Dari simulasi tsb lalu diperoleh kebutuhan rencana pembangunan   berbagai  jenis pembangkit setiap tahunnya  guna dapat memenuhi  demand secara optimal.

Program solusi optimal (least cost) ini  melakukan pilihan  secara  optimal berbagai jenis  pembangkit  dan hasil /output-nya biasanya berbentuk secara ter-diversifikasi seperti pltn ,coal ( untuk memenuhi kebutuhan base-load),  pltgu (untuk beban menengah) dan pltg, plta (untuk beban puncak) misalnya.

Jadi proses yang benar ialah  pilihan optimal menghasilkan diversifikasi. Bukan diversifikasi dengan pilihan asal diversifikasi dengan pltn,pltu-batubara, pltp (menurut keinginan, berutan bisnis  setiap sector ) tetapi bukan merupakan pilihan optimal. Diversifasi bukanlah dimaksud agar dirumah ada tv hitam putih, berwarna warni berbagai ukuran dan merek!, tapi bisa memenuhi kebutuhan secara optimal/efisien.

Mungkin  penjelasan ini bisa menolong P Zaki.

SALAM.

Nengah Sudja.



Chairul Hudaya

Rekan Milis dan Pak Nengah Sudja Yth,

Terima kasih telah memberikan pencerahan kepada kita semua sampai hitung-hitungan secara detail. Saya pribadi sangat kagum🙂

Apa yang diungkapkan Mr. Birol yang kepala ekonomi IEA dalam buletin IAEA tersebut hanya mengambil point-point dari studi yang dilakukan oleh OECD/IEA yang bertajuk : World Energy Outlook 2006.
(Coba lihat mulai halaman 364 kebawah, saya tidak bisa copy paste). Ini saya simpulkan dari yang saya baca

Case low discount rate :

PLTN lebih murah dari pada coal (harga 55 $/ton) untuk construction cost pada dan dibawah 2000 $/kW. PLTN lebih mahal dari coal untukconstruction cost pada dan diatas 2500 $/kW, tapi masih lebih murah dari pada gas (untuk harga gas 6-7 $/MBtu). Generating cost untuk PLTN 5.7 cent/kWh (High Capital, 2500 $/kW) dan 4.9 cents/kWh (low capital, 2000 $/kW)

Case high discount rate :

PLTN lebih mahal dari pada coal dan gas. Generating cost untuk PLTN 8.1 cent/kWh (High Capital, 2500 $/kW) dan 6.8 cents/kWh (low capital, 2000 $/kW)

Sebenarnya point yang ingin saya sampaikan pada posting pertama yaitu ingin share apa saja komponen2 biaya PLTN, karena kemarin ada yang menanyakan, bukan untuk membandingkan biaya PLT satu dengan lainnya, terus kita harus cari mana yang lebih murah, bukan seperti itu.

Kalau Pak Nengah bilang Indonesia harus bisa dapat 2000 $/kW (hasil hitungan dari data-data OECD diatas kah?) agar PLTN kita kompetitif, IMHO, tidak relevan ya, karena asumsi dan kondisinya berbeda dengan negara kita (lihat halaman 367). Makanya saya pikir perlu hitung-hitungan tersendiri. Dan, saya pun memahami langkah prospective owner/investor untuk tidak membuka dahulu hitung-hitungan secara detail sebelum ada kejelasan dari pemerintah untuk bangun PLTN. It consumes time and of course, cost. Yang penting kemarin hasil akhirnya sudah di sounding, feasible kalau maksimum 6 cents/kWh. Mungkin yang lebih tepat Pemerintah (BATAN, ESDM ?) yang harus menjelaskan secara detail hitung2annya kepada kita semua, adakah dimilis ini?

Salam,

Chairul Hudaya
http://www.nuklir.info



Aditya

Model WASP tidak tahu supply energi, kondisi energi nasional, bahan bakarnya mau diambil dari mana, tidak memperhitungkan kemampuan produksi energi. Jadi pendek kata tidak comprehensive untuk membuat keputusan nasional.

Model perencanaan energi MARKAL atau ENPEP yang comprehensive, yang memperhitungkan sumber daya energi dan kemampuan produksi dan distribusi ke berbagai sektor.

aditya



Andryansyah Rivai

Pak Arnold,

Benarkah ‘Harga listrik nuklir 5-6 cent/kWh sudah termasuk biaya lingkungannya, khususnya biaya penyimpanan limbah dan
dekomisioning’ ?

Kalau boleh tahu Medco itu punya rencana punya PLTN yang berapa MWe? Dengan daya seperti itu berapa kira-kira biaya penyimpanan limbah dan dekomisioningnya?

Terima kasih untuk jawabannya.

Andry



Nengah Sudja

Yth. Rekan Milis,

Sdr. Aditya benar.

Untuk perencanaan energy pakai MARKAL atau ENPEP.

Untuk perencanaan listrik WASP lebih teliti. Dikusi kita bahas perencannan listrik.

SALAM.

Nengah Sudja



Eriell Salim

FYI,
Bahwa beberapa data tentang perkiraan energi nasional dan mungkin juga
dipakai di KEN dan PEN juga dihasilkan dari WASP. Setahu saya DJLPE pake
model ini sedang BPPT masih setia dengan MARKAL ….
Hemat saya secara semua model yang digunakan dari luar dan hampir pasti
harus di-adjust secara komprehensif jika mau dipakai oleh kita. Sebenarnya
beberapa orang peneliti senior bidang di Indonesia pernah membuat model
dengan kondisi Indonesia … spt Prof. Zuhal, Prof. Saswinadi, Prof
Widjajono P dan Prof. Muhammad Tasrif (ketiga terakhir kolega saya sewaktu
di PPE ITB). Tapi apa lacur negara ini kadung cinta produk luar yang
dibawa (maaf) para alumnus luar yg lebih bangga sebagai lulusan German,
USA, dll ketibang lulusan ITB, ITS dan UI …. ya hingga kini yang namanya
indegenous model dalam perencanaan energi nasional hanya dimiliki
orang-per orang … wallahualam.

Salam,
ES



Andryansyah Rivai

Itulah yang sangat saya khawatirkan.

Saya pernah melakukan perhitungan dengan bantuan computer code untuk perhitungan perpindahan panas di reaktor nuklir riset. Awalnya saya masukkan data sesuai kebiasaan orang lain. Tetapi ketika saya iseng mengganti suatu nilai input yang tidak ada nilainya kalau dilihat dari parameter yang tercatat di reaktor itu saat beroperasi, sehingga menggunakan nilai asumsi, saya sangat terkejut, hasilnya melenceng jauh, walaupun nilai yang saya masukkan hanya selisih sepersepuluh atau seperseratus.

Akhirnya dengan tidak resmi saya minta bantuan orang di bagian main frame computer untuk membuatkan print-out dari source programnya (nyolong?). Saya pelajari dan saya cari semua rumus yang dipakai di computer code itu   (hampir ke semua perpustakaan besar yang kemungkinan punya buku dll yang berkaitan, termasuk ITB dan IPTN), akhirnya saya  terkejut, ternayata program itu tidak cocok dan tidak akan mungkin dipakai untuk perhitungan di reaktor nuklir yang saya maksud.

Nah hebatnya, tulisan ilmiah menggunakan program itu tersebar di beberapa publikasi di Indonesia. Itulah pengalaman saya yang akhirnya membuat saya sangat berhati-hati terhadap publikasi ilmiah sekalipun, termasuk yang ditulis oleh Prof. Dr. Ir. MT, MEng…..bukan meremehkan tapi itu kenyataan yang saya hadapi dan lihat sendiri.

Salam,

andry



Soedardjo

Ada tidakkah computer code yang menghitung komponen biaya PLTN yang berkaitan dengan gempa?
Misal sekarang Gorontalo terkena gempa besar
http://www.detiknews.com/read/2008/11/17/001522/1037809/10/gorontalo-diguncang-gempa-waspada-tsunami

Dan Gorontalo baru-baru ini ada yang minta didirikan PLTN
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0706/18/kesra01.html

Terima kasih
Wassalam soedardjo



Zaki

Pak Nengah,

Terima kasih atas penjelasannya. Memang utk diversifikasi power plant bisa dilihat dari sisi load-nya utk efisiensi biaya (salah satu faktor pertimbangannya adalah yg CAPEX tinggi dan OPEX rendah biasanya ke base load, dan utk yg CAPEX rendah tapi OPEX tinggi utk beban puncak). Persis karena itulah saya menanyakan diversifikasi dari sisi jenis power plant-nya juga, karena biasanya penggunaan non fosil fuel (bukan cuma nuklir, akan tetapi juga panas bumi dan lainnya) umumnya CAPEX-nya mahal, maka dari itu saya menanyakan sampai kapan power plant2 tsb di-compete dg coal (utk di base-load), karena tidak pernah menang CAPEX-nya, jangan sampai coal kita habis, gas kita habis, baru bingung2 sendiri nanti.

Salam,
Zaki



Chairul Hudaya

Pak Zaki,

Mari kita lihat pernyataan Pak Nengah yang menekankan mengapa PLTN itu mahal pada email terdahulu.
————-
Pembangkit daya terpasang 1 000 MW dengan factor capcity 80 %/ tahun energi yang dibangkitkan :

E = 1 000 000 kW x 8760 jam/tahun x 0,80

=  7 008 juta kWh/a ( a= annum, tahun).

Beda biaya 1 c/kWh, berarti beda biaya 70 juta $/a.

Untuk lama waktu pengusahaan 30 tahun, berarti beda biaya 2100 juta$ atau 2,1 milyar $.

Silahkan hitung apa PLTN itu murah atau mahal.

————

Jadi point yang membuat mahal atau tidak terletak pada hasil akhir (generation cost), berapa bedanya dengan coal, gas dll. Kalau pemerintah sudah menerapkan berapa harga yang bisa dibeli, semisal maksimum 6 cents/kWh, selesai urusan.



Zaki

Saya paham perhitungannya. Maka dari itu Pak Chairul, kalau pakai hitungan seperti itu yg saya tangkap Pak Nengah membandingkan diversifikasi antara jenis sumber energi/power plant, dan nanti panas bumi yg lebih mahal daripada coal tidak bisa dikembangkan (padahal potensi di sini besar).

Tapi karena Pak Nengah mengklarifikasi dg menyatakan diversifikasi dari sisi load, maka saya ajukan pertanyaan lagi di email saya tsb bahwa karena CAPEX non fosil fuel (panas bumi, nuklir, biomass, dll) umumnya lebih mahal dan OPEX (terutama fuel) lebih murah mestinya non fosil fuel bisa diposisikan di base load (tentu tergantung grid-nya secara spesifik, tapi kita coba diskusi secara general dulu), tapi kalo non fosil fuel ini kemudian mesti di-compete lagi dg coal (lalu kalah), artinya memang tidak akan ada diversifikasi sumber energi.

Padahal menurut saya, urusan energi ini tidak bisa selalu dilihat dari demand (profil load) tapi juga melihat dari sisi supply (ketersediaan sumber energi). Merujuk pada data ESDM kita punya potensi non fosil fuel yg besar: panas bumi 27.000 MW, biomass 49.000 MW, angin 9.000 MW, air 75.000 MW. Kalau bisa dikembangkan (terlepas sbg base load atau beban puncak) ini potensi yg bagus. Jangan lupa pula bahwa coal dan gas bisa dipakai utk aplikasi lain (produksi syngas sbg gerbang bagi industri kimia lainnya lewat produksi amonia dan methanol).



Chairul Hudaya

Tidak perlu khawatir lagi untuk panas bumi Pak Zaki, karena sudah ada aturan mainnya dalam Permen ESDM No. 14 tahun 2008. Harga keekonomian panas bumi, menurut Pak Suryadarma, ketua Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API), berkisar 7-9 cents/kWh.

Nuklir yang belum ada pak. Baru dibuat sesudah Go Nuklir mungkin ya.

Salam,

Chairul Hudaya
http://www.nuklir.info



Nengah Sudja

Yth Rekan Milis,

Setiap model computer program sebelum terbukti keberhasilan meng-operasian-nya  perlu banyak pengujian, diuji berkali-kali,, perlu dibersihkan  kutu2nya, debugging terus -menerus. Program WASP juga terus mengalami penyempurnaan. Ini saya saksikan  ketika meng-run-nya di kantor IAEA di Wina, 1975. IAEA punya staf khusus computer programmer ( mr. peter einrich) melakukan tugas  ini.

Untuk di ketahui WASP semula di kembangkan di USA Argonne National Labouratory . Kemudian dengan sponsor IAEA diadopsi  (dengan penyempurnaan) untuk digunakan sebagai program power generation expansion planning (untuk listrik) yang dibagikan kepada anggota IAEA. Pengembangan WASP ini sebelumnya didasarkan atas  berbagai kontribusi beberapa peserta  seperti dari Perancis/Belgia ( messrs. h. baleriaux, e. jamoule, p. linard), Australia (rr. booth).

WASP terus dikembangkan. Tahun 1970-an masih menggunakan main frame, input data pakai punch card (diikat dengan gelang karet). Tahun 1990-an sudah bisa di run di lap top.

Saya kenal dulu anak muda dari Indonesia ( Sutanto PhD, kemudian jadi Prof . di Australia dan Hongkong, tamatan SMA Pangudi Luhur, terpaksa sekolah ke Australia, karena di jaman Orde Baru, anak dari etnis China dibatasi tempat sekolahnya), pernah jadi konsultan IAEA untuk menyempurnakan program WASP. Seorang anggota  milis ini, terakhir saya ketahui  tesis phd-nya di bimbing Prof Sutanto. Silahkan perbaiki cerita saya ini, kalau ngak tepat.

Program MARKAL itu juga berasal dari USA, dipakai di banyak negara. Ketika BPPT bekerja sama dengan  Reseach Centre Juelich , Jerman , mengadakan studi bersama energi 1990-an, menggunakan MARKAL.

Tujuan saya menyampaikan cerita saya diatas untuk mengingatkan : bagaimana proses penyusunan satu computer program yang relative besar, kompleks perlu waktu  lama, dan yang penting program computer  yang kita pakai sebaiknya yang sudah terbukti keberhasilan penggunaannya.

Setahu saya WASP  (untuk perencanaan listrik) ada di BATAN dan PLN. MARKAL, ENPEP ( untuk energi) ada di BPPT.

Guna meningkatkan kemampuan bangsa untuk menyusun perencanaan energi, sebaiknya WASP,MARKAL,ENPEP di dalami dan disebarkan pemakaiannya bukan saja di lembaga pem pusat tapi juga ke pemda dan perguruaan tinggi di tanah air (UI,. ITB, GAMA misalnya). LSM juga dapat menggunakannya, sehingga kita sebagai anak bangsa negara demokrasi  bisa belajar bersama untuk mufakat.

Perencanaan energi  nasional memerlukan minimal dua persyaratan :

–          penggunaan model perencanaan yang telah diketahui  bersama oleh public.

–          Input data yang dipakai sebagai masukan disepakati bersama.

Rasa nasionalisme justeru seyogyanya dicerminkan pada  penyusunan input data, tapi bukan pada tool , computer programnya yang sudah terbukti keabsahannya. Kalau toh dijumpai kutu2, kesalahan pada computer program, silahkan dilaporkan ke IAEA misalnya. Except if you want to invent a wheel?

Disini saya lebih memilih, think globally,  act locally.

Semoga posting ini menambah pengertian kita bersama dalam penyusunan perencanaan system energy  nasional  .

SALAM.

Nengah Sudja.

Berminat di public education, public information.

Pendapat pribadi, independen, ,tak terikat  satu organisasi.

Bukan Anti Nuklir, Sedia Sharing Pendapat, Belajar , Berdikusi Bersama Mengenai PLTN.



Dadi Maspanger

Numpang lewat, mudah2 an yang saya sampaikan ini masih sesuai dgn subyek….yaitu ttg kebijakan  mengelola sumber2 energinya. Nampaknya Amrik bisa jadi acuan, ada yang bilang USA very smart! karena biarpun punya cadagan coal/minyak yang berlimpah, tetapi mereka masih belum full meng eksploitasi nya. Apakah itu urusan hemat berhemat, demi masa depannya? Artinya bahwa masa depan adalah sesuatu yang tidak bisa dinilai dengan perhitungan sekarang. Saya pribadi mulai setuju dengan PLTN, asalkan diimbangi dengan peningkatan penggunaan panas bumi, biomassa, dan energi non-konvensional (angin, matahari, PLTMH, ombak, dll). Dan yang lebih penting lagi, hemat2lah gali batubara atau ngebor minyak/gas. Janganlah selalu berfkiran “mahal”, tetaplah mempertimbangkan bahwa  masa depan adalah masa yang tidak ternilai……. Terima kasih.

SALAM

dadi



Nengah Sudja

Yth. Rekan Milis,

Pertanyaan bagus untuk civil engineers, related to the structure in which the nuclear reactor is placed ( di daerah gempa/tidak).

Structure building , foundations di-design berdasarkan pada tingkat seismicity, berapa skala richter perkiraan gempa yang paling mungkin terjadi.

Pltn di design harus mampu menahan tingkat gempa dinyatan dengan  horizontal acceleration misalnya 0,1 g; 0,2 g; …. 0,5 g.; dimana g= gaya tarik bumi : 9,81 m/sec2. Bagaimana kaitan antara  skala richter dengan horizontal acceleration saya lupa. Mungkin para ahli geologi dapat memberi jawaban.

Dari rancangan design besaran terhadap horizontal acceleration tertentu  dapat dihitung jumlah volume concrete, steel , rock ,cement dstnya dapat diperlukan. Jumlah ini bisa dimasukkan  dalam computer program IAEA untuk  Estimating Plant Capital Cost.

Ini sekedar penjelasan yang saya baca, kiranya ada ahli yang bisa menjelaskan lebih baik.

SALAM.

Nengah Sudja.



Chairul Hudaya

Menurut saya komponen biaya yang berkaitan dengan kegempaan itu sudah termasuk dalam biaya konstruksi, jadi tidak spesifik. Nah agar tahan terhadap aspek kegempaan (dimanapun ia dibangun), struktur beton konstruksi tersebut harus merujuk pada peraturan internasional yang ditetapkan oleh IAEA. Khusus untuk di Indonesia, sudah ada peraturan Kepala BAPETEN No 1 tahun 2008 tentang evaluasi tapak reaktor daya untuk aspek kegempaan (terlampir).

Peraturan lainnya, tentang mengenai aspek geoteknik dan pondasi, kegunungapian, metrologi dll bisa diliat di sini : http://www.bapeten.go.id

Makin siap saja kan kita untuk Go PLTN

Salam,

Chairul Hudaya
http://www.nuklir.info



Aditya

Pak Sudja,

WASP sekarang sudah tidak ada kutunya, ada shampo pembunuhnya…he3x dan hebatnya kalau dulu sekali nge-run berhari-hari, sekarang cuma 5 detik (sing a sec).

Jadi mau bikin sensitivitas case berapapun nggak masalah dengan waktu…

Cuma ya itu….WASP buta suplei energi, hanya optimasi pembangkitan listrik saja dalam suatu karingan listrik, yang penting sistem optimum dengan nilai objective function rendah (murah) dengan memenuhi kriteria karakteristik jaringan listrik (sistem).

WASP tidak tahu kalau dia milih pembangkit berbahan bakar A (misalnya), maka suplei ketersediaan bakarnya dari mana, ada (tersedia) atau tidak, tidak menjadi pertimbangan.

Berbeda dengan model yang saya sebut dalam posting saya sebelumnya, MARKAL (dari Eropa?, BPPT), ENPEP (Amerika) dan MESSAGE (Eropa, mirip MARKAL), model2 ini mengoptimasi secara komprehensif seluruh sektor energi, mempertimbangkan ketersediaan sumber daya energi, teknologi, demand, seluruh sektor pemakai energi ……….. banyak lagi

Tapi yang paling penting adalah menyusun input data dan asumsi, jika yang dimasukkan sampah maka hasil yang keluar ya sampah…..

Tidak semua model perencanaan energi cocok untuk Indonesia, terutama untuk model demand forcast-nya, karena sektor2 ekonomi yang ada di model impor ini tidak sesuai dengan data (makro) ekonomi yang tersedia di Indonesia, PERLU DISESUAIKAN.

salam

aditya



Nengah Sudja

Yth. Para Rekan Milis,

Tiga aspek penting dalam perencanaan energi yang perlu diperhatikan:

–         Least cost solution, pilih solusi yang termurah,

–         Energy security : the continuous availability of energy in varied forms, in sufficient quantities , and at reseasonable price –has everal aspects, it means limited vulnerability to transient or longer disruption of imported supplies.

–         Energy sustainability as development that meet the needs of the present without compromising the ability of future generation to   meet their own needs.

Amerika yang kaya sumberdaya energi  punya   energy policy   smart .

Energy security dilakukan seperti  penimbunan/simpanan minyak untuk beberapa bulan  ke depan (jangka pendek) . Cadangan reserve margin pembangkit ditetapkan dengan ketentuan jelas. Untuk itu perlu  perencanaan baik, least cost solution, guna dapat hemat, kumpul   dana untuk bangun cadangan. Sustainability dengan mengurangi pemakaian sumberdaya sendiri.

Di Indonesia, energy security diabaikan, pasokan batubara untuk PLN kurang, pasokan gas untuk PLN , industri , pupuk kurang/tidak cukup. Produksi  batubara 178,2 juta ton, diekspor 129,5 juta ton (2006). Ekspor gas 36 milyar m3, prodoksi 75 milyar m3. DMO yan diminta ngak keluar.

Pembangunan 4 unit @ 1000 MW  pltn perlu  impor bahan bakar dan teknologi, yang biayanya lebih mahal dari pltu batubara. Untuk pltu batubara  4000 MW, perlu 11 juta ton per tahun, atau 300 juta  ton/ 30 th. , hampir sama dengan produksi tahun  satu tahun  2007,sebanyak 250 juta ton. Menurut  saya, beli pltn yang mahal dari luar, lalu  jual batubara murah ke luar negeri.  Apa smart ?

Energi  terbarukan air, panas bumi, angin, surya lebih menjamin kelangsungan pasokan /sustainability jangka panjang  selama bumi, matahari ada.Tetapi biaya pembangkitan listriknya lebih mahal dewasa ini. Tapi panas bumi masih lebih murah dari pltn, atur kebijakan financingnya (lihat lampiran).

Karena itu beberapa Negara, California, Jerman , Denmark kebijakan energinya  lebih condong ke  pengembangan angin, surya.

Yang perlu dilakukan batasi, stop penjualan tanah air, batubara, gas alam ke luar, manfaatkan  untuk keperluan pembangunan di dalam negeri, sisakan untuk generasi mendatang.

Sekedar wacana tambahan.

SALAM.

Nengah Sudja.



Nengah Sudja

Yth, P Aditya,

Benar , kalau mau dan ada waktu  bisa di run keduanya. Cross checking.

Menurut pengalaman  tingkat ketelitian untuk perencanaan listrik WASP lebih accurate  dari pada MARKAL. Karena proses optimasi WASP  pakai dynamic programming, MARKAL dengan Linear Programming.

WASP bukan  dirancang untuk perencanaan energi, tapi listrik. Pak Aditya boleh tahu kerja dimana, ya?

Maklum saya sudah S3 (sampun,sepuh, sanget) sering lupa nama, tapi untuk muka memori saya lebih ingat.

Bagus Anda bisa run WASP dan MARKAL..

SALAM.

Nengah Sudja



Aditya

Yth Rekan2 milis,

Ground acceleration (G) akan menentukan (hampir) seluruh komponen (tidak hanya gedung atau bangunan sipil, tetapi juga misalnya: pipa2…….) yang terkait dengan keselamatan, semua didesain komponen harus sesuai (memenuhi) batasan itu, agar jika tejadi gempa tidak terjadi keretakan ataupun pecah. Persyaratan itu PASTI berpengaruh terhadap desain dan ujung nya adalah COST.

salam

aditya



Chairul Hudaya

Yang smart itu, PLTN tetap kita kembangkan bersama dengan energi alternatif lainnya, plus minyak and batubara di secure untuk kebutuhan energi dalam negeri. Logikanya begini, kalau kita impor bahan-bakar nuklir dari negara lain, yang kita tahu tidak seberapa besar pengaruhnya ke generating cost, bukankah itu sebuah langkah baik untuk menghemat persediaan/cadangan energi tanah air di masa depan?

Untuk informasi, kalau kita punya PLTN, supply bahan bakar akan disecure dengan melakukan long-term contract dengan perusahaan-perusahaan pensuplay bahan-bakar dengan kesepakatan harga tertentu.

Pasti pertanyaan lanjutannya, kalau diembargo bagaimana? Kalaupun itu benar-benar terjadi (kecil kemungkinan), masih banyak perusahaan pensuplai bahan-bakar lainnya untuk dipilih, termasuk akan membuka kreatifitas anak bangsa untuk mengexplore lebih dalam cadangan uranium yang tertimbun di bumi Indonesia. Pertanyaan embargo ini sama aja dengan pertanyaan, bagaimana jika Jepang dan Korea kita embargo supply gas nya?

Australia sebagai negara penghasil uranium terbesar didunia tidak segan segan akan menghentikan kontrak kerjasama (embargo) jika diketahui uraniumnya digunakan sebagai bahan baku pembuat senjata pemusnah massal. Makanya, ketika tahun 2006 bekerjasama dengan China, mereka sangat hati-hati sekali. Kalau dengan Indonesia? No worries pastinya, selain kita salah satu anggota NPT.

Smart and wise policy bukan?

Salam,

Chairul Hudaya
http://www.nuklir.info



Nengah Sudja

Yth. Para Rekan Milis,

YA, benar biaya berkaitan dengan kegempaan termasuk dalam biaya  konstruksi didasarkan atas besaran perkiraan gempa. Setiap site punya tingkat kegempaan tersendiri, site specific.

Besarnya biaya konstruksi tergantung dari besaran perkiraan gempa . PLTN yang dirancang untuk tahan terhadap horizontal acceleration  0,2 g biayanya lebih rendah dari yang untuk 0,5g, karena volume concrete  dsbnya berbeda jumlahnya ,  itu pelajaran yang saya dengar dulu pada  kursus2  IAEA .

Boleh tanya PLTN Muria  dirangang untuk  tahan menghadapi  horizontal acceleration berapa?  Pengetahuan saya mengenai seimicity, civil engenering terbatas, mungkin bisa dibantu penjelasan oleh BATAN, BAPETEN. Saya baca lampiran  Evaluasi Tapak Reaktor Daya Untuk Aspek Kegempaan,  sifatnya petunjuk umum,  uraian kwalitatif , aturan apa yang harus dipenuhui.

Belum ke kwantitatif. Kalau PLTN Murai jadi dibangun untuk tahan terhadap tingkat besaran gempa tertentu, Bapeten harus melakukan pemeriksaan, apa hitung2an benar. Mohon koreksi kalau pengertian saya salah.

Apa sampai dengan wacana ini,  apa benar  : “ Makin siap saja kan kita untuk Go PLTN” .. ngak tahu, silahkan beri penilaian ?

Kalau sudah siap Go PLTN diskusi bisa ditutup, ya. Game is over. Bye,bye.

SALAM.

Nengah Sudja.

Pendapat pribadi, independen, ,tak terikat  satu organisai.

Bukan Anti Nuklir, Sedia Sharing Pendapat, Belajar , Berdikusi Bersama Mengenai PLTN.



Chairul Hudaya

PROFIL / KARAKTERISTIK TAPAK
(Hasil Studi Newjec 1991-1996)

Sumber : www.batan.go.id

  1. Surface faulting: expected ground motion (max acceleration) falls into class of 80- 250 gal.
  2. Seismicity: same as no.1
  3. Foundation characteristics: rock class foundation is Cm class
  4. Ground characteristics: possibility of liquefaction: not possible
  5. Volcanic characteristics: possibility of volcanic activities: not possible
  6. Coastal flooding: flood level falls into class of 2 meters.
  7. River flooding: possibility of affecting the site: not possible
  8. Groundwater movement: favorable
  9. Mand induced events: ranked I

10. Population distribution: ranked I

11. Resetlement of residents: ranked I

12. Cooling water system: deviation in the length of steel pipes from the best site falls into class of 100% (best site)

13. Harbor facility: deviation in the length of the bridge of pier from the best site falls into class of 100%

14. Depth to foundation level: deviation from excavation volume from the best site falls inclo class of 100%

15. Foundation level below groundwater level: depth between groundwater level and foundation level falls into class of 20 m.

16. access road: Deviation in the length of access road from the best site falls into class of 100%.

17. Site land arrangement: deviation in the surplus or lacking volume of soil/rock from the best site is same as no 12.

18. Land and water use: order of ranking is rank I

19. Endangered species and historical monuments: order of ranking is rank I

20. Ecology: order of ranking is rank I

Peraturan yang ada di BAPETEN itu kalau saya lihat hanya “mengadopssi” dari safety guide yang telah ditetapkan oleh IAEA. Jadi, dimanapun PLTN dibangun, sekalipun di tempat yang tidak rawan gempa, harus mengacu pada aturan-aturan ini. Listnya dokumennya saya lampirkan. Dokumen-dokumennya bisa didapatkan di website IAEA.



Nengah Sudja

Yth Para Rekan Milis,

Bangun PLTN atau bangun  panas bumi, pltu batubara, pltgu berdasarkan solusi least cost  sepatutnya di buat hitungan kwantifikasinya, sehingga dapat diketahui  berapa biayanya, which one is a smart solution and at what cost ?. Dalam kerangka good corporate governance , kewajiban pemerintah kalau mau go nuclear, buatlah secara  transparent, accountable dan libatkan partisipasi public, untuk menguji apa keputusan itu efisien dan adil.

SALAM.

Nengah Sudja.



Chairul Hudaya

Hehehe diskusinya mentok deui kesini yah.. Dikasih hasil studi CADES yang pake sistem MAED & Markal malah ada yang nggak percaya sama hasilnya.

Saya dengar baru-baru ini ada training untuk pegawai BATAN, PLN, Indonesia Power, DJLPE, KLH dan BAPETEN di Korea untuk bidang Financing dan NPP construction management.

Mohon untuk bapak/ibu yang mengetahui untuk di share.



Andryansyah Rivai

ntinya buat saya buat hitungan yang jelas dan data input terbuka untuk publik. Setelah itu libatkan ekonom dan sosiolog untuk mengkaji benarkah dengan biaya yang diperlukan itu menguntungkan, maksud saya jangan sampai ngomong kalau pakai bahan bakar nuklir (bbn) biaya murah, padahal nyatanya impor sedangkan  batu bara atau lainnya mahal tapi tidak impor.

Kalau bicara embargo bbn disamakan dengan embargo gas ke korea misalnya, itu politisi bisa ngomong banyak. Tapi saya yang bukan politisi heran, embargo itu berkaitan dengan kekuatan, apakah kita mampu melakukan embargo gas? atau bisa mengorganisir negara lain untuk mengembargo? Gak nyambung kan? Saya belum pernah mendengar debat terbuka ahli politik soal embargo bbn ini, artinya apa pemerintah memang berniat dengan PLTN?

Kalau saya melihat dari teknologi, untuk saat ini mengambil keputusan pakai PLTN adalah sangat lemah. Apa kemampuan kita agar tidak sedikitpun tergantung pada asing bila punya dan sudah mengoperasikan PLTN? Akankah kreatifitas untuk bisa buat bbn akan timbul bila punya PLTN, bukti pada industri lain bagaimana? Apakah bahan jok untuk tempat duduk pesawat buatan PT.DI sudah bisa kita buat?

Dibilang kalau kita impor bbn akan menghemat cadangan sumber energi, benarkah?. Bukannya untuk punya PLTN malah kita memboroskan cadangan sumber energi? Jalan tengahnya,  coba dihitung stop ekspor batubara dan pakai untuk PLTU dan bandingkan dengan terus ekspor batubara dan beli PLTN, benarkah untung punya PLTN? Lalu logikanya bagaimana  kok negara lain yang pakai PLTN masih impor batubara kita dan malah promosi teknologi PLTN-nya ke kita????

Kalau kita pernah berdagang (jualan), mungkin akan dengan mudah merasakan betapa konyolnya negara ini, ingin punya PLTN yang hampir semuanya impor tapi malah menjual sumber energinya. Lebih konyol lagi kalau mau beli PLTN dari negara yang mengimpor sember energi dari negara kita. Buat saya itu mah akal-akalan negra pinter saja!!! Saya setuju sekali punya PLTN beberapa biji kalau memang sudah tidak ekspor sumber energi lagi!! Itu artinya tidak tahun 2017 khan???

Salam,

andry



Chairul Hudaya

Pak Andry,

Postingan sebelumnya kan memuji energy policy di Amerika, Jepang dll yang smart memanfaatkan energi dari luar dan menyimpan baik-baik cadangan didalam negerinya. Kalau kita mau smart juga, mengapa kita tidak berfikiran seperti mereka saja. Sekarang kalau kita punya PLTN, trus bahan bakarnya kita impor dan menghasilkan energi listrik untuk pasokan dalam negeri, bukankah bisa menghemat/menolong cadangan energi lainnya (terutama migas, gas dan batu bara) didalam negeri kita ? Begitu juga dengan sumber energi alternatif yang lainnya, begitu loh pak.

Bahan bakarnya lebih mahal dari pada batu bara? Nah perlu ukuran yang jelas dulu, lebih mahal  ini dilihat dari segi apa, per kilogram? Orang energi 1 gram uranium (secara hitungan matematis) = energi 3 ton batubara. Kemarin waktu Pak Arnold bilang generating cost yang maksimum 6 cents/kWh, itu sudah all in termasuk biaya bahan bakar. Dan bagusnya, seperti yang saya posting pada email pertama subjek ini, kenaikan bahan-bakar yang drastis hingga 50 % hanya mempengaruhi generating cost 3 %, sementara batu bara terpengaruh 21 % dan CCGT 38 %. Dengan kata lain, PLTN lebih stabil.



Soedardjo

Maaf tanpa koreksi ketik, karena jika lama mengetiknya, internet shutdown)

Pak Chairul Hudaya,
Jika didkusinya mentog, mungkin karena Karyawan BATAN kurang canggih berkomunikasi. maka Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) membutuhkan agen informasi dan agen promosi yang menguasai teknik komunikasi yang baik dan efektif.
http://www.batan.go.id/tmp_news.php?id_berita=611&db_tbl=Berita

Jarang lho milis di sekitar BATAN sendiri mengadakan diskusi bebas seperti di milis ini. Sebeb ngomong miring dikit langsung dibrangus (di ban).

Saya senang keekonomian nuklir di bahas di sini secara terbuka. Lalu jika secara pribadi saya boleh menyimpulkan apakah PLTN itu mahal atau murah, itu tergantung kepada ketebalan uang investor/pemerintah. Jika seseorang uangnya tebal, barang yang harganya selangit dianggap murah. Jika keuangannya tipis, barang murahpun dianggap mahal, karena memang tidak punya uang banyak.

Diskusi ilmiah, dapat dialngsungkan jika mengkait kepada masalah teknik PLTN, masalah keselamatan dan hulu (penambangan uranium) hingga hilir (pengelolaan limbah lestari). Sebaiknya jika akan berdiskusi, mari kita tinggalkan jabatan kita, gelar kita, kita berdiskusi secara terbuka, tidak terbebani secara kedinasan, tidak ada pesanan dari parpol, investor, maupun penjual, atau agen penjual yang bergentayanagn di seminar-seminar, yang menjual kecanggihan teknologi PLTN, padahal kita buta masalah PLTN dikarenakan kita belum punya PLTN.

Diskusi yang terbuka, yang tujuannya satu menyelamatkan bangsa, akan lebih apik daripada ngotot YES NO Nuklir, tetapi SDM Indonesia belum siap dalam segala hal, masalah disiplin, budaya kerja, budaya keselamatan, teknologi metalurgi, IT, elektronik, dan teknologi lainnya. Semuanya akan menjadikan ribet, apalagi masalah hukum belum beres, undang-undang masih merupakan karet molor, dan ranah hukum ternyata sarang korupsi.

Mari kita mengkaca diri kita sendiri, karena dengan membandingkan dengan kondisi luar negeri, tidak apple to aplle (budaya berbeda, ekonomi berbeda, sumber daya alam dan manusia berbeda), hanya akan menghasilkan keseimpulan yang salah.

Mari kita tinggalkan pamrih kita, kecuali kita berjuang, bagaimana agar bangsa Indonesia ini jaya, tidak hanya berdasarkan kalau ada PLTN, maka Indonesia dapat disejajarkan dengan negara maju. Mari kita pikirkan ulang, sudahkah kita manfaatkan Sumber daya Alam kita yang ada semaksimal mungkin?

Uranium, tetap kita tanam, agar kelak di kemudian hari, kita tidak dipermainkan oleh bangsa asing (petuah langsung almarhum Prof. Baiquni ke teman-teman PPBGN – BATAN, sekitar tahun 1980-an).

Wassalam soedardjo



Chairul Hudaya

Setudju sekali Pak Dardjo.

Betul pak, yang kita inginkan, kita secure SDA kita untuk kepentingan jangka panjang dalam negeri, sementara kita kembangkan juga sumber energi alternatif lainnya, yang secara hitung-hitungan economically feasible, termasuk diantaranya energi nuklir, yang merupakan rahmat Tuhan yang harus dimanfaatkan secara bijak.



Andryansyah Rivai

Lhoooo apa saya kurang jelas ya nulisnya…..

Kita ini punya uang dari mana? Bukankah salah satunya ekspor sumber energi? Kalau kita bisa cukup punya uang dengan tidak ekspor sumber energi, dan kemudian karena uangnya banyak lalu mau beli PLTN, buat saya itu tidak masalah.

Saya tidak pernah bicara bbn lebih mahal dari batu bara. Justru saya memisalkan kalaulah PLTU itu lebih mahal dari PLTN, tetap saja saya pilih PLTU karena uang untuk beli batu bara itu berputar di dalam negeri. Itu yang saya maksud harus mengikutkan juga ahli sosiologi dan ekonomi setelah misalnya perhitungan biaya PLTN vs PLTU selesai dilakukan.

Mahal itu khan karena kita tidak punya cukup uang. Jadi kalaulah kita bisa tidak ekspor sumber energi dan punya banyak uang, maka tinggal dipilih pembangkit mana yang lebih menguntungkan. Dan tetap harus diingat bahwa yang menguntungkan itu adalah yang mengakibatkan berputarnya uang yang besar di dalam negeri bukannya larinya uang ke luar negeri.

andry



Arnold Soetristanto

Dear milis,

Maaf dalam beberapa hari terakhir tidak bisa bergabung, karena panggilan
tugas di luar kantor.

Saya tetap tidak sepakat dengan ajakan Pak Sudja untuk menghitung least-cost terlebih dulu. Rupanya Pak Sudja belum menyadari bahwa cara ini sudah dilakukan sejak sekitar 20 tahun yang lalu, dan tidak ada kesimpulannya. Malahan bikin bingung. Kalau masing2 mau menghitung least-cost secara ilmiah ya silahkan saja. Tetapi untuk mendapatkan angka kesimpulan dan disepakati secara nasional, menurut saya akan buang2 waktu.

Jelas saja demikian, karena terlalu banyak sumber data, dan terlalu banyak asumsi yang berbeda-beda. Di sektor nuklir saja banyak angka yang berbeda-beda, tergantung dengan lokasi, teknologi dan jenis PLTN. Apalagi kalau hitungan melebar ke jenis energi yang lain, yang masing2 juga punya banyak variasi.

Contohnya seperti aspek kegempaan PLTN yang baru dibahas rekan milis. Maka lokasi tapak PLTN akan sangat menentukan biaya yang akan dikeluarkan. Kalau PLTN dibangun di lingkaran dalam perairan Indonesia bagian barat (dangkalan sunda: pantai utara jawa, pantai timur sumatra, pantai barat dan selatan kalimantan), maka boleh menggunakan standard kegempaan sekitar 150-300 gal. Dengan angka ini maka PLTN desain Korea sudah cukup untuk diadopsi (sekitar 2000 USD/kWh). Bayangkan dengan PLTN Jepang yang baru saja terkena gempa (Kasiwazaki-Kariwa) yang standard kegempaannya di sekitar angka 600 gal. Tentunya jenis PLTN ini akan mahal sekali.

Saya tetap berpendapat bahwa sebaiknya pemerintah menetapkan harga dasar listrik yang tanpa subsidi, dan energi yang dapat bersaing di harga tersebut dipersilahkan mengajukan proposal dan ikut tender terbuka.

Disamping itu pemerintah harus mengeluarkan kebijakan memberikan subsidi bagi energi prioritas (terbarukan:geothermal, angin dan matahari) yang belum dapat bersaing dan memenuhi harga dasar tersebut karena relative lebih mahal.

Untuk Pak khoirul, program training nuklir ke Korea (Host-nya KOICA) sudah dimulai sejak tahun 2006. Setiap tahun Indonesia mengirimkan sekitar 5-10 orang. Dan tahun kemarin (2007) 1 orang staf Medco ikutan juga. Untuk yang tahun 2008 silahkan kontak Batan, yang ikutan menyeleksi pesertanya. Atau kontak langsung ke KOICA di Seoul.

Salam,
Arnold

Discussion

One thought on “Komponen Biaya PLTN

  1. Yap! orang Indonesia pintar2. Sehingga cenderung *menolak* PLTN. Orang Pakistan, India, USA, Jepang, Inggris…dsb bego semua: makanya mau aja diberi PLTN.

    Posted by UXC.com | 23 February 2009, 5:14 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: