You are reading..
Nuclear Pros-Cons

Debat PLTN di QBHeadlines.com

Laporan dari  Forum Debat – QBHeadlines.com :  APAKAH PLTN TEPAT UNTUK INDONESIA SAAT INI ?

Tujuan

Forum Debat di QBHeadlines.com yang memilih judul perdana  “Apakah PLTN tepat untuk Indonesai saat ini” ditujukan untuk mengajak masyarakat luas  turut berpartisipasi dalam memikirkan hal-hal yang penting di Negara ini, sekaligus mendapatkan masukan  berbagai sudut pandang tentang topik ini. Harapan kami,  masukan ini dapat menjadi sumbangan berharga bagi Pemerintah  dalam mengambil sikap selanjutnya.

Pengantar

Krisis energi yang terjadi di dunia dan di Indonesia pada khususnya menjadi latar belakang atas  pemilihan tema debat di atas. Penerapan PLTN sudah dicanangkan oleh pemerintah sejak lama yaitu di tahun 70-an, namun sampai saat ini  tetap menjadi kontroversi baik buruknya bagi Indonesia. Apa sebenarnya faktor-faktor pendukung dan penolak PLTN ?

Sebagai pemapar utama, kami meminta Bapak Sutaryo Supadi dari Masyarakat Peduli Energi dan Lingkungan untuk meyampaikan masukan dari pihak yang PRO dan Bapak Prof. Rinaldy Dalimi, Pengamat Perlistrikan dari pihak yang KONTRA. Selanjutnya kami mengundang pembaca QBHeadlines.com untuk memberikan kontribusi pendapat melalui ruang Komentar.

Paparan Pro

PLTN, Tepatkah Untuk Indonesia Saat Ini?

Oleh : Sutaryo Supadi, Masyarakat Peduli Energi dan Lingkungan

st1:*{behavior:url(#ieooui) }

Studi kelayakan pembangunan PLTN sudah dilaksanakan sejak th 1970-an, mengalami beberapa pemutakhiran. Studi terakhir, Comprehensive Assessment of Different Energy Sources for Electricity Generation (CADES) diadakan tahun 2001/2002 selesai tahun 2003, dibantu oleh IAEA, satu-satunya studi yang juga mempertimbangkan aspek keselamatan masyarakat dan lingkungan. Asumsi utamanya antara lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia 6%, harga minyak 25 USD/barel, pertumbuhan penduduk 1,4%. Hasilnya, PLTN kompetitif terhadap PLTU batubara, diintroduksi th 2016 untuk jaringan JAMALI. PLN membuat studi sendiri tahun 2005, yang memperkuat hasil studi lainnya dengan asumsi yang hampir sama dengan CADES yaitu pertumbuhan listrik 7%/tahun. Penggunaan BBM dan gas tidak dipertimbangkan karena alasan yang sudah jelas, panas bumi kurang menarik bagi investor asing karena resiko ekonomi yang tinggi. Maka pada tahun 2025 diperlukan 126 juta ton batubara/tahun. Dari segi logistik tidak terbayangkan. Solusinya mulai tahun 2014 tiap tahun dibangun satu PLTN 1000 MWe sampai tahun 2025. UU No.10 th 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional mengamanatkan PLTN pertama beroperasi antara tahun 2015 – 2019, yang merupakan bauran energi jangka panjang yang berubah selama periode 2005 – 2025. Amanat UU ini sangat konservatif. Pesan dari uraian ini adalah untuk memenuhi kebutuhan listrik pada saatnya, pembangunan PLTN tidak dapat ditunda apalagi diabaikan.

Masalah-masalah teknis ekonomis tidak mungkin diuraikan dalam batasan ruang yang diberikan. Namum mudah disimpulkan bahwa hal-hal tersebut pasti sudah dikaji dengan hasil positif oleh lebih dari 30 negara dunia yang mengoperasikan 439 PLTN saat ini. Malaysia, Thailand dan Vietnam merupakan negara-negara yang serius merencanakan pembangunan PLTN disamping Indonesia di Asia.

Ada sebagian masyarakat yang menentang pembangunan PLTN hal mana wajar dalam alam demokrasi. Diskusi panel 28 November 2007 dengan tema “Persimpangan Jalan Pembangunan PLTN di Indonesia” dengan fokus masalah-masalah non-teknis oleh panelis tokoh-tokoh masyarakat non pejabat yang tidak diragukan lagi integritas dan kredibilitasnya, yaitu kajian dari aspek-aspek politik, ekonomi, sosial budaya, lingkungan hidup, dan pendapat pengusaha, yang terdiri dari A.Syafii Ma’arif, Erlangga Hartarto (diwakili oleh Hendarso Hadi Parmono), Arifin Panigoro (diwakili oleh Hilmi Panigoro), Komaruddin Hidayat dan Sarwono Kusumaatmadja, dengan moderator Parni Hadi. Ditengarai pada saat ini persepsi sebagian publik cenderung negatif, hal mana dapat diubah antara lain dengan mengangkat isu tingginya harga minyak, dampak lingkungan dari perubahan iklim, kebutuhan energi terus meningkat, serta mempertinggi posisi tawar Indonesia di mata internasional.

Diskusi Panel meyimpulkan:

“Para pakar peserta diskusi panel dan pembicara menyatakan setuju agar hasil diskusi Panel ini segera ditindak-lanjuti, sehingga terwujud kebijakan go nuclear. Namum pelaksanaanya harus hati-hati dan didukung dengan mengintensifkan kegiatan sosialisasi pada masyarakat luas. Penguasaan teknologi keselamatan dan peningkatan kemampuan sumber daya manusia perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh, agar pembangunan dan pengoperasian PLTN berlangsung secara aman. Hal yang lebih penting dari semua ini adalah komitmen pemerintah terhadap pembangunan PLTN”.

Pembangunan PLTN memerlukan waktu siap yang relatif panjang (sekitar 8-10 th) serta memerlukan komitmen pemerintah jangka panjang, maka diperlukan “political will” untuk mencanangkan kebijakan go nuclear yang sekarang tepat waktu, tanpa dipengaruhi oleh kepentingan politik tertentu. Disamping untuk memenuhi amanat UU, PLTN juga salah satu sarana untuk menyediakan listrik yang cukup dengan harga terjangkau, hingga antara lain dapat mensejahterakan masyarakat, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mengurangi pengangguran serta membuat optimal penggunaan sumber daya alam. Pada seluruh masyarakat diharapkan dengan sikap obyektif dan rasional dapat mendukung pembangunan PLTN.

Paparan Kontra

Teknologi Nuklir dan PLTN

Oleh : Prof. Rinaldy Dalimi, Pengamat Perlistrikan

st1:*{behavior:url(#ieooui) }

Sebelumnya saya ingin mengutarakan bahwa saya kurang sepakat kalau dikatakan kontra Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Tetapi menurut pengamatan saya, Indonesia belum membutuhkan PLTN 20 sampai 30 tahun ke depan.

Saya ingin memberikan beberapa catatan, pandangan saya mengenai energi listrik di Indonesia.

Pertama, saya akan membedakan antara pemanfaatan energi nuklir di Indonesia dengan pembangunan PLTN di Indonesia. Energi nuklir perlu kita kuasai dan untuk keperluan tertentu (pertanian, kesehatan, makanan, dan lain-lain) bisa kita manfaatkan di adIndonesia. Tetapi mengenai pembangunan PLTN untuk Indonesia dalam rangka menghadapi “krisis energi”, permasalahannya akan lain. Kalaulah semuanya memungkinkan, termasuk masalah investasi, semua kebutuhan energi listrik Indonesia saat ini bisa dipasok hanya dari energi air (PLTA) dengan potensinya sekitar 75 000 MW, sedangkan yang baru termanfaatkan sekitar baru sebagian kecil Kalaulah semua potensi PLTA, PLTP, PLTU dapat kita gunakan untuk kebutuhan energi listrik Indonesia, betapa besarnya energi listrik yang bisa kita hasilkan. Kita belum memasukan potensi gas, BBM dan energi terbarukan yang ada di Indonesia.

Kedua, permasalahan energi atau kekurangan energi (yang juga sering disebut krisis energi), bukan disebabkan oleh karena kita tidak punya sumber daya energi yang cukup sehingga kita harus membangun PLTN, tetapi disebabkan karena perencanaan dan kebijakan energi kita yang mengatakan bahwa pada tahun 2025 Indonesia (harus) memasok kebutuhan listrik sebesar 2 % dari energi PLTN.

Ketiga, kalau ditanyakan bagaimana mengatasi kebutuhan energi pada tahun 2025 tanpa PLTN? jawabnya adalah ganti kebijakan (Peraturan) yang mengatakan bahwa energi listrik pada tahun 2025 dari PLTN 2 %, menjadi 0 %. Buat perencanaan dengan skenario tersebut.

Keempat, dari tahun 80 an, dalam Perencanaan Energi Nasional jangka panjang, pembangunan PLTN sudah direncanakan untuk dibangun. Pro dan kontra selalu ada, dan sudah banyak social cost yang sudah dikeluarkan. Argumentasi pro dan kontra sudah tidak sehat (tidak ilmiah lagi), di antaranya ada yang mengatakan PLTU batubara lebih berbahaya dari PLTN, ada juga yang mengatakan bahwa dalam udara bebas sudah ada uranium 238 dan tubuh manusia sudah terbiasa dengan radiasi alamiah.

Kelima, secara teori PLTN sudah bisa dibuktikan “aman” dengan simulasi, dan dengan menggunakan teknologi bisa menahan gempa atau bencana alam lainnya. Tetapi semakin canggih PLTN kita bangun, biaya investasinya akan lebih mahal dari pembangkit lain. Sehingga untuk Indonesia yang mempunyai sumber daya energi yang lain, pembangunan PLTN menjadi tidak tepat untuk Indonesia.

Keenam, Indonesia harus mengimport bahan bakar uranium, dan uranium dunia akan semakin menipis dan semakin mahal, dan diperkirakan akan habis 50 tahun lagi. Ketergantungan dengan Negara lain akan semakin tinggi

Ketujuh, karena Indonesia masih punya sumber daya energi yang cukup, dan investasi PLTN di Indonesia akan mahal karena harus dirancang untuk kemungkinan gempa dan adanya social cost saya menyarankan kepada Pemerintah supaya menunda pembangunan PLTN untuk 20-30 tahun kedepan. Dan saya yakin 20-30 tahun kedepan teknologi energi terbarukan (surya, angin, dan lain-lain) sudah akan lebih murah, sehingga Indonesia tidak perlu membangun PLTN selama-lamanya.

Komentar

1. Masih ada sumber daya lain yang bisa dikembangkan/dioptimalkan, selain PLTN (7)

Tuhan telah memberikan kita kekayaan energy alam yang luar biasa: sinar matahari, air, angin dan juga jangan lupa sampah yang kita ciptakan mengandung energy yang sangat berlimpah. Kenapa kita tidak memanfaatkannya sekaligus membersihkan bumi ini daripada menambahkan sampah2 baru yang berbahaya bagi masa depan anak cucu kita. (Abi Jabar)

kenapa kita ngak mengarahkan pada paket2 kecil dengan tenaga surya/angin untuk seluruh Indonesia(Nono)

PLTA yang baru termanfaatkan baru sebagian kecil(Nono)

Masih ada sumber potensial yang belum dikembangkan: panas bumi, yang bisa kasih kontribusi 7-8 GW (lebih besar dari 1-2 GW yang direncanakan untuk PLTN 2016-2020). Panas bumi tidak digarap serius sekarang.(Hanan Nugroho)

Jadi, pasang saja PLTN di Jawa, tapi nanti setelah panas bumi “bermain” cukup banyak.(Hanan Nugroho)

Saran saya, lebih baik Indonesia mengembangkan tenaga listrik berbasis surya. teknologi ini lebih menjanjikan dan relatif lebih aman dari nuklir, baik dari sisi dagang, geopolitik, kesehatan, hazard potential, dan lebh tersedia dan bahan baku utamanya GRATIS!  (Zen)

Kita punya SDA berupa panas bumi. Ini yang mungkin masih sangat potensial untuk dikembangkan untuk daerah pulau yang padat penduduk. Potensinya sangat besar, teknologinya sudah ada, SDM-nya juga sudah banyak. Persoalannya adalah kebijakan Pemerintah yang belum berpihak ke Enerji ini. (suhadi)

Sumber-sumber panas bumi juga banyak yang belum digarap maksimal. Bukannya anti pada kemajuan teknologi nuklir, tapi mari kita liat urgensinya. (Eflin MS)

2. Kesiapan Bangsa Indonesia untuk menerima PLTN masih perlu ditingkatkan (4)

Budaya kita untuk membangun dengan berkualitas, mengoperasikan dengan teliti, memelihara dengan teratur dan mengawasi setiap tahapan dengan cermat; menurut pendapat saya masih terlalu rendah/kurang untuk sebuah PLTN.(david chyn)

Betul perlu setidaknya sepuluh tahun lagi untuk itu. Bukan soal teknologinya, tapi soal karakter bangsa kita yang masih ceroboh dan tidak disiplin(Andang Kasriadi)

Contoh sederhana mengenai tempat dan keberatan masyarakat setempat.. apakah ini sudah dipikirkan masak masak ?.. Misalnya kita bangun di tengah pulau kosong sehingga terisolasi dari lingkungan?.. dll.  (Dandi Zulkarnain Sjechlad)

Pembangunan PLTN merupakan perencanaan jangka panjang, perlu political will yang konsisten. Pembangunannya membutuhkan waktu tidak kurang dari 6 tahun. Mahal namun waktu hidup operasionalnya lama , pada umumnya tidak kurang dari 60 tahun. PLTN memang membutuhkan sarjana dengan pendidikan khusus untuk menanganinya, karena pada dasarnya science content nya sangat tinggi. Oleh karenanya keputusan pembangunan PLTN harus secepatnya diikuti dengan persiapan SDM. Sebetulnya beberapa perguruan tinggi terutama UI, ITB dan UGM sudah sejak lama menyiapkan sumber daya yang relevan dengan teknologi nuklir, sehingga tidak sulit untuk mempersiapkan SDM khusus untuk PLTN. Pendapat yang menyebutkan bahwa SDM kurang siap untuk PLTN selain “tidak percaya bangsa sendiri” juga kontra produktif terhadap riset, pengembangan dan pendidikan yang telah dirintis universitas dan BATAN. Pengetahuan mengenai reaktor nuklir telah lama dimiliki oleh bangsa kita, 3 reaktor yang semuanya berada ditengah kota, sampai sekarang tidak pernah ada masalah yang memberikan risiko bahaya nuklir pada masyarakat.(Djarwani S. Soejoko)

3. Bila PLTN direalisasi, pulau jawa harus mendapat prioritas pertama (2)

Tak pantas Jawa terus menerus menikmati “privileges” harga energi murah dan menjadi kaya di Indonesia seperti selama ini, sementara daerah-daerah penghasil sumberdaya energinya (minyak, gas, batubara) masih berkubang dalam kemiskinan, tak terjangkau akses energi yang layak.  Kalau mau tetap hidup “nyaman” di Jawa, ya Jawa harus berani pasang PLTN. Cepat atau lambat.(Hanan Nugroho)

Sebenarnya kita sudah tidak punya banyak pilihan, khususnya di Pulau Jawa, yang siap hanya batubara. Air yang 75.000 MWe (Pak Rinaldy) itu semuanya ada di luar Jawa. Saat ini hampir tidak mungkin membangun PLTA di Jawa, karena biaya sosial politiknya sangat besar. Di era demokrasi-reformasi saat ini, nampaknya tidak mungkin memindahkan sekian puluh desa yang tenggelam ke luar Jawa, seperti kasus pembangunan bendungan di Boyolali pada era orde baru. Geothermal di Jawa juga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan. Lihat angka-angka di bawah ini. (Arnold Soetrisnanto)

4. Bila PLTN direalisasi, PLTN direalisasi di Jakarta (1)

Mengapa bisa mengurangi populasi karena orang pasti takut tinggal di Jakarta jadi pada pindah keluar kota Jakarta. Lagi pula tenaga ahli nuklir dan ahli perawatan yang paling canggih pun pada berkumpul di Jakarta jadi terjaminlah kemampuan teknis merawat PLTN. Kalau dibangun di Jawa Tengah akses dan kontrol menjadi terlalu jauh dan terlalu lama kalau terjadi apa-apa di PLTN itu.  (Riyanto)

5. Bila PLTN direalisasi, Pilih daerah terpencil (1)

Bangun teknologi PLTS di daerah-daerah kering dan tak terjamah pembangunan seperti di Nusa Tenggara, dan bangun pula di pulau-pulau terluar Indonesia sekaligus menjaga keamanan.  (Zen)

6. PLTN Sudah terbukti di banyak Negara (4)

PLTN bukan “momok” yang menakutkan, buktinya negara seperti Vietnam dan Malaysia pun berniat membangunnya (Taiwan, Korea, India, Pakistan, Cina sudah lebih dulu merencanakan dan memakainya). (Hanan Nugroho)

Menurut saya PLTN sudah tepat dibangun di Indonesia saat ini.Lebih dari 31 Negara sudah memilikinya. Masa kita tak bisa belajar dari Mereka. (Kurniawan)

Pada umumnya saat ini garansi PLTN dapat beroperasi selama 60 th dan sudah ada sekitar 400 PLTN yang beroperasi diseluruh dunia. Leader pengguna PLTN adalah Taiwan dan Perancis (masing-masing sekitar 85% dan 70% kapasitas grid nasional). Jumlah PLTN di Amerika memang konstan sekitar 100 buah sejak peritiwa Three Mile Island. Namun izin prinsip untuk recommissioning beberapa PLTN lama dan commossioning PLTN baru telah keluar dan kemungkinan akan dipercepat mengingat meroketnya harga minyak dunia. Jepang sendiri yang merupakan korban pemboman nuklir tahun 1945, yang telah mengalami dahsyatnya bahaya nuklir, telah memiliki 52 PLTN dan beberapa di antaranya PLTN eksperimental dengan bahan bakar masa depan. Namun negara yang paling ambisius dengan PLTN baru justru Cina (40 PLTN) dan Korea (sekarang 24 PLTN). (Djarwani S. Soejoko)

Oleh karena itu pada tahapan awal hanya diperlukan sekitar 2% atau sekitar 4000 Mwe atau 4 unit PLTN 1000 Mwe, sesuai Perpres no.5 tahun 2006. Jumlah ini tidak banyak, bandingkan dengan China yang saat ini sudah mengoperasikan 11 unit PLTN, sedang membangun 5 unit, mempersiapakan membangun 26 unit, dan merencanakan membangun 88 unit. Semua itu dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada batubara yang sangat besar. Ingat Olimpiade Beijing 2008 terancam batal karena polusi udaranya. Sebaliknya di Indonesia saat ini sedang digiatkan pembangunan PLTU-batubara secara besar-besaran. Suatu kebijakan yang tertinggal dan berbeda dengan pandangan komunitas internasional. Tetapi seperti biasanya para pemikir di negara ini selalu telat berpikir dan selalu tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lain di sekitar kita. (Arnold Soetrisnanto)

7. PLTN akan membantu mengatasi krisis energi (2)

PLTN akan membantu mengatasi kekurangan energi listrik di Indonesia. (Kurniawan)

Saya sangat setuju dengan pembangunan PLTN, karena PLTN dapat menghasilkan energi listrik kapasitas tinggi pada lahan yang luasnya terbatas. Tambahan lagi PLTN tidak menggunakan bahan bakar BBM, sehingga operasionalnya tidak tergantung pada fluktuasi harga BBM di dunia. Setiap orang menginginkan pemerintah dapat menyediakan energi listrik melimpah, murah, menjangkau sampai ke seluruh pelosok tanah air. Saya percaya ketersediaan energi listrik yang melimpah dan murah akan memicu percepatan kesejahteraan bangsa yang dengan sendirinya akan mempercepat pula mengurangi kemiskinan. (Djarwani S. Soejoko)

8. PLTN akan menambah daya serap tenaga kerja. (2)

PLTN akan mendatangkan investor asing yang lumayan sehingga bisa menyerap tenaga kerja. (Kurniawan)

Perlu diperhatikan bahwa dengan pembangunan PLTN profesi seperti fisikawan, kimiawan, biologi, rekayasa / teknologi nuklir, serta berbagai bidang lain terkait PLTN akan lebih banyak dibutuhkan dan menciptakan momentum baru pengembangan kekuatan sains dan teknologi di Indonesia dalam skala besar. Pembangunan PTLN No.1 akan mempunyai nilai pembelajaran yang tinggi dalam aspek operasionalnya, seperti safety procedures and cultures, pengembangan bahan bakar nuklir baru, pengolahan limbah, monitoring dan proteksi radiasi alam dan lingkungan, yang kesemuanya akan menjadi dasar untuk pembangunan PLTN No. 2, 3, 4 dan seterusnya. (Djarwani S. Soejoko)

9. Kekayaan alam sudah menunjang untuk PLTN (1)

Indonesia Negara yang kaya akan SDA, termasuk Uranium, walau jumlahnya terbatas (misalnya untuk 11 thn,masih banyak data lain), Alangkah baiknya sejumlah itu mulai dimanfaatkan. (Kurniawan)

10. PLTN yes, Senjata Nuklir No (1)

Yang mengancam adalah pengunaan nuklir untuk senjata(proliferation),sangat berbahaya,tidak manusiawi dan Kami mengutuknya. (Kurniawan)

11. Jangan cuma jadi pembeli teknologi, tapi juga menguasainya (1)

Selama terkontrol, saya rasa pendekatan pencarian sumber energi baru itu wajib dilakukan. Yg paling penting adalah bagaimana kita mengendalikan teknologi tsb dan bukan berprilaku sebagai pelanggan “Turn Key project” yg siap beli jadi sehingga tdk mengerti detail dari proses kerja teknologi tsb. (Dandi Zulkarnain Sjechlad)

12. Kebijakan PLTN Pemerintah berubah-ubah sesuai dengan peta politik saat itu (1)

Faktor kedua.. Bagaimana kita bisa mengamankan visi yg akan kita perjuangkan ini bila Presidennya saja cuma 5 tahun sekali diganti (maksimum 10 tahun) dan mereka kerja tanpa Visi nasional yg saling synergy?.. Sekarang Presiden setuju, Presiden berikutnya tdk setuju.. Jadi project yg lama yg dibangun dlm waktu yg tdk lebih cepat dari 8 tahun siapa yg akan mengamankannya?..  (Dandi Zulkarnain Sjechlad)

13. PLTN merupakan rekayasa USA, untuk menyerap dana dunia ketiga (1)

PLTN adalah teknologi usang, penuh dengan potensi desakan teknologi dan dagang dari USA, dan uranium harganya akan naik gila-gilaan seiring meningkatnya demand dunia akan energi alternatif gampang. (Zen)

14. Teknologi Nuklir masih berbahaya dan diperlukan langkah antisitasi yang matang (2)

Jauhkan rakyat dari potensi ancaman nuklir!  (Zen)

Saya cenderung berpihak pada pilihan pertama, yaitu PLTN harus dipersiapkan sejak sekarang. Mengingat persiapan PLTN itu memerlukan waktu yang sangat lama, yaitu sekitar 10 tahun, karena harus memperhatikan aspek keselamatan (safety). Industri nuklir berbeda dengan industri pada umumnya, karena harus dikontrol secara ketat, baik oleh lembaga nasional maupun oleh lembaga internasional. (Arnold Soetrisnanto)

15. PLTN harus menguntungkan Rakyat (2)

apapun itu yang penting bisa membuat rakyat indonesia hidup sejahtera..tanpa merugikan..dengan semboyan dari rakyat untuk rakyat..artinya PL(pembangkit listrik) dibangun dengan menggunakan duit rakyat..yang jelas2 tidak akan merugikan rakyat..(Manusia)

Pemenuhan angka-angka tersebut di atas yang seharusnya menjadi perhatian dan diusahakan pemecahannya oleh pemerintah dan para pemikir bangsa ini. Jangan terjebak dalam perdebatan yang nantinya akan menyengsarakan rakyat. Saya sendiri tidak anti pada energi tertentu dan kapan harus digunakan. Mulai saat ini kita sudah harus menggunakan energi mix yang terpadu dan optimal. Selama jenis energi tersebut sudah memenuhi aspek kelayakan teknologi, ekonomi, sos-bud dan lingkungan, maka kita tidak boleh mengatakan TIDAK. (Arnold Soetrisnanto)

16. Masalah listrik Indonesia masalah klasik soal ketidak efisienan PLN (1)

Masalah listrik Indonesia masalah klasik soal ketidak efisienan PLN. Banyak pembangkit di pulau Jawa tetapi tidak didukung sistem utilitas yang tinggi. (Eflin MS)

17. Perlu adanya analisis ulang dari struktur cost projectionnya, dan tidak berasumsi (2)

Belum tentu PLTN lebih mahal dari pembangkit lain(Nono)

Kalau keputusan membangun PLTN ditentukan 20 – 30 th yad sambil menunggu turunnya biaya pembangkit energi terbarukan, apakah Bpk Rinaldy bisa memprediksi berapa kira2 harga minyak bumi pada tahun 2030-an tsb? Dan dengan pertumbuhan ekonomi 6-7% brp ratus trilyun yang harus dialokasikan dlm APBN untuk subsudi harga minyak?(Wandowo)

18. Sumber daya selain Nuklir sudah tidak relevan (2)

Sumber daya yang lain belum terbarukan, seperti biodiesel dan tenaga surya, semuanya berkapasitas rendah dan memperebutkan lahan yang luas yang mengharuskan relokasi dan pembebasan lahan dengan social cost yang justru tidak terkira. Dengan kebijakan biodiesel saat ini yang menggunakan minyak sawit saja mengakibatkan harga minyak goreng. semakin tidak terjangkau oleh sebagian masyarakat, ini berarti latent social cost yang luar biasa. Apalagi kalau nanti akan digalakkan minyak jarak, perlu lahan luas dan subur, yang pasti akan mengurangi lahan untuk pangan. Begitu juga energi surya, juga membutuhkan lahan yang luas. Padahal jumlah penduduk meningkat terus, dan semuanya membutuhkan pangan. Kami percaya untuk kebutuhan interim sampai ditemukan sumber lain berkapasitas tinggi, justru dalam 20-30 tahun mendatang PLTN adalah sumber energi listrik yang paling dapat diandalkan.. (Djarwani S. Soejoko)

Dari data yang ada menunjukan bahwa total kapasitas pembangkitan listrik nasional tahun 2007 adalah sekitar 38,7 GWe. Produksi listrik yang berasal dari PT. PLN dan IPP (Independent Power Producer) baru bisa memenuhi sekitar 28,6 GWe. Dan sisanya sekitar 10,1 GWe masih dipasok sendiri oleh masing-masing industri sebagai „captive power“. Sekitar 38% produksi listrik tersebut dibangkitkan dengan membakar batubara, 30% dengan BBM, 19% gas, 11% hidro dan geothermal, dan sisanya dengan biomassa. Pertumbuhan energi listrik masih cukup besar, yaitu sekitar 9-10% per tahun. Karena selain untuk menopang laju pertumbuhan ekonomi nasional yang sekitar 6-7% per tahun, juga untuk menaikan ratio kelistrikan dari 60% saat ini menjadi lebih dari 90% pada tahun 2025. Diperkirakan kebutuhan energi listrik akan terus meningkat dan mencapai sekitar 100 GWe pada tahun 2025 atau + 2,5 kali lipat dari kondisi saat ini. Itu berarti diperlukan tambahan sekitar 60 GWe dalam jangka waktu 20 tahun atau dibutuhkan sekitar 3 GWe per tahun. (Arnold Soetrisnanto)


Analisis Komentar

Pro

1. PLTN Sudah terbukti di banyak Negara (4)

2. PLTN akan membantu mengatasi krisis energi (2)

3. Sumber daya selain Nuklir sudah tidak relevan (2)

4. Kekayaan alam sudah menunjang untuk PLTN (1)

5. PLTN akan menambah daya serap tenaga kerja. (2)

6. PLTN yes, Senjata Nuklir No (1)

Kontra

1. Masih ada sumber daya lain yang bisa dikembangkan/dioptimalkan, selain PLTN (7)

2. Kesiapan Bangsa Indonesia untuk menerima PLTN masih perlu ditingkatkan (4)

3. Teknologi Nuklir masih berbahaya dan diperlukan langkah antisipasi yang matang (2)

4. Kebijakan PLTN Pemerintah berubah-ubah sesuai dengan peta politik saat itu (1)

5. PLTN merupakan rekayasa USA, untuk menyerap dana dunia ketiga (1)

6. Masalah listrik Indonesia masalah klasik soal ketidak efisienan PLN (1)

Lain-Lain

1. PLTN harus menguntungkan Rakyat (2)

2. Bila PLTN direalisasi, pulau jawa harus mendapat prioritas pertama (2)

3. Perlu adanya analisis ulang dari struktur cost projectionnya, dan tidak berasumsi (2)

4. Bila PLTN direalisasi, PLTN direalisasi di Jakarta (1)

5. Bila PLTN direalisasi, Pilih daerah terpencil (1)

6. Jangan cuma jadi pembeli teknologi, tapi juga menguasainya (1)

Perhitungan Masukan

12 suara untuk Pro

16 suara untuk Kontra

9 suara memberikan info / masukan tambahan

Penutup

Dari masukan yang masuk, dapat disimpulkan faktor utama pendukung diterapkannya PLTN di Indonesia adalah PLTN sudah diterapkan di banyak negara dengan berhasil dan akan membantu mengataai krisis Energi.  Faktor utama penolak PLTN adalah masih adanya  sumber energi lain selain PLTN yang bisa dikelmbangkan dengan biaya yang lebih murah, faktor resiko yang tinggi serta kesiapan dan disiplin bangsa Indonesia yang masih kurang.

Kami berharap masukan di atas dapat berguna dalam menentukan langkah penerapan PLTN selanjutnya.

Jakarta 21 April 2008

QB Headlines

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: